Kupang — “Kupang dan NTT adalah wajah tantangan sekaligus harapan Indonesia Timur. Jika pendidikan tinggi di sini diperkuat, maka NTT akan melahirkan generasi baru yang mampu membangun dari kepulauan, perbatasan, hingga desa-desa terpencil,”
Kutipan di atas disampaikan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kemdiktisaintek, Khairul Munadi, ketika menegaskan pentingnya transformasi pendidikan tinggi melalui paradigma Diktisaintek Berdampak, pada Rapat Kerja Konsolidasi Pimpinan Perguruan Tinggi se-Nusa Tenggara Timur (NTT) yang digelar di Kupang, Selasa (30/9).
Rapat kerja ini dibuka oleh Wakil Menteri, Fauzan, serta turut dihadiri oleh Gubernur NTT Melki Laka Lena, Direktur Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, I Ketut Adyana, para pimpinan perguruan tinggi se-Nusa Tenggara Timur, serta para tenaga kependidikan LLDIKTI Wilayah XV.
Dalam kesempatan itu, Dirjen Khairul menekankan bahwa pendidikan tinggi tidak boleh terjebak hanya pada ruang akademik, melainkan harus hadir sebagai motor penggerak pembangunan sosial, ekonomi, dan budaya.
“Kupang dan NTT adalah wajah tantangan sekaligus harapan Indonesia Timur. Jika pendidikan tinggi di sini diperkuat, maka NTT akan melahirkan generasi baru yang mampu membangun dari kepulauan, perbatasan, hingga desa-desa terpencil,” ungkap Khairul.
Perlu digaris-bawahi, Indonesia memiliki lebih dari 4.400 perguruan tinggi. Namun, jumlah besar itu belum otomatis menjamin pemerataan mutu. Menurut Khairul, tantangan terbesar adalah bagaimana perguruan tinggi mampu menjadi motor inovasi untuk mengatasi middle income trap (perangkat pendapatan menengah).
Khusus di NTT, tantangan pendidikan tinggi masih sangat nyata: Indeks Pembangunan Manusia (IPM) relatif rendah, angka putus sekolah tinggi, sarana laboratorium terbatas, serta jumlah dosen bergelar doktor yang masih minim. Banyak anak muda berbakat harus berhenti kuliah karena keterbatasan biaya atau jarak.
“Karena itu, investasi terbesar di NTT haruslah investasi pada sumber daya manusia. Pendidikan tinggi harus menjadi kunci membuka masa depan anak-anak NTT,” tegas Khairul.
Dirjen Khairul menyinggung visi Indonesia Emas 2045 yang harus disiapkan sejak sekarang. Ia mengutip pandangan Nelson Mandela bahwa pendidikan adalah senjata paling ampuh.
“Bayangkan jika dari Kupang, Flores, Sumba, dan Rote lahir ribuan anak muda yang bisa mengolah potensi laut, mengembangkan pariwisata budaya, memanfaatkan energi matahari dan angin, serta melahirkan inovasi pangan dari jagung dan daun kelor. Itulah kontribusi nyata SDM NTT bagi Indonesia Emas,” tegas Dirjen Khairul.
Dalam paparannya bertajuk “Transformasi Pendidikan Tinggi dan Peran Kampus dalam Agenda Pembangunan Nasional”, Dirjen Dikti menekankan empat langkah strategis Kampus Berdampak. Di antaranya:
1. Pendidikan berbasis dampak – riset yang menjawab persoalan riil masyarakat. 2. Digitalisasi dan internasionalisasi – membuka akses kuliah lintas batas. 3. Penguatan karakter madani – melahirkan lulusan yang tangguh, jujur, dan peduli. 4. Kolaborasi multipihak – kampus bekerja sama dengan pemerintah daerah, komunitas adat, organisasi keagamaan, dunia usaha, dan masyarakat sipil.
Khusus untuk wilayah NTT, langkah strategis ini diterjemahkan dalam bentuk kehadiran guru di sekolah-sekolah terpencil, tenaga kesehatan yang siap mengabdi di pelosok, teknokrat pertanian untuk mengolah lahan kering, hingga wirausaha muda yang membuka lapangan kerja di desa.
Dirjen Khairul juga menyebutkan program strategis Ditjen Dikti yang relevan untuk NTT, seperti Beasiswa PMDSU, Program Pra-Doktoral 3T, penguatan politeknik, serta modul digital yang memungkinkan mahasiswa belajar meskipun dari pulau kecil.
“kita harus memberi afirmasi beasiswa bagi mahasiswa NTT, mempercepat peningkatan jumlah dosen bergelar doktor di kampus-kampus NTT, serta menyediakan laboratorium dan sarana digital. Kurikulum pun harus relevan. Misalnya riset jagung, kelor, dan rumput laut masuk ke dalam program pembelajaran,”jelas Khairul Munadi.
Dalam kegiatan tersebut, turut dilakukan juga penandatanganan MoU sinergitas antara Pemerintah Provinsi NTT dan Kemdiktisaintek untuk menyelaraskan program bersama dalam meningkatkan Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan tinggi serta memperkuat pembangunan SDM di wilayah timur Indonesia.
Mengakhiri paparannya, Dirjen Dikti menegaskan bahwa setiap kebijakan dan program perguruan tinggi harus benar-benar berdampak. Karena kampus sejatinya bukan menara gading, melainkan pusat inovasi, pusat penguatan SDM, dan pusat transformasi sosial.
“Bagi NTT, ini adalah momentum emas. Mari kita lahirkan generasi muda yang tidak hanya mencari kerja, tetapi menciptakan kerja. Mari kita siapkan dosen-dosen NTT sebagai ilmuwan dan inovator. Mari kita jadikan kampus di NTT simpul penguatan SDM yang mengangkat martabat bangsa dari Timur,” tutup Dirjen Khairul.
Humas Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi
#DiktisaintekBerdampak #Pentingsaintek #Kampusberdampak #Kampustransformatif






