Gresik — Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Khairul Munadi memberikan kuliah umum kepada ribuan mahasiswa baru Universitas Sunan Gresik (USG) pada kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) di Kampus A Universitas Sunan Gresik (USG), Desa Kertosono, Kecamatan Sidayu, Kabupaten Gresik, Kamis (18/9).
Khairul Munadi mengatakan bahwa Indonesia saat ini mendapatkan bonus demografi dimana hampir separuh penduduknya adalah generasi muda.
”Bonus demografi ini harus dimanfaatkan sebaik mungkin karena anak-anak muda ini yang akan menentukan arah Indonesia Emas 2045 nanti,” ujar Dirjen Khairul di hadapan sekitar 2.500 mahasiswa baru USG.
Menurutnya, di era digitalisasi saat ini mahasiswa mendapatkan begitu banyak kemudahan dalam mengakses sumber pengetahuan. Namun, tidak hanya potensi dan kemudahan yang dihadapi, ada berbagai ancaman dan tantangan yang harus disikapi dengan bijak.
”Potensi era digital harus kita maksimalkan sehingga kita harus bisa menyesuaikan bagaimana cara belajar yang sebetulnya. Dulu, itu kita berusaha bagaimana menguasai sumber pengetahuan, tapi sekarang sumber pengetahuan berlimpah dan bisa dihasilkan instan. Tantangannya bukan lagi apa yang kita tahu tentang sesuatu, tapi bagaimana kita belajar. Learning how to learn,” tegasnya.
Arkian, Dirjen Dikti mengatakan, kampus bukan hanya tempat belajar teori atau tempat duduk manis di kelas untuk mendengarkan kuliah, tetapi kampus harus menjadi simbol pengetahuan, pusat kreasi pengetahuan, inovasi dan dampak sosial.
”Kemdiktisaintek menghadirkan paradigma #DiktisaintekBerdampak dan gerakan #KampusBerdampak. Mahasiswa harus menjadi problem solver, bukan hanya sebagai penghapal teori, dan kalian tidak salah pilih kampus dengan semangat para pengelolanya, USG: kokoh, melesat, mendunia,” tambah Khairul Munadi.
Menurutnya, di era Akal Imitasi atau Artificial Intelligence (AI), ada beragam keterampilan yang harus dibangun sejak sekarang. Pertama literasi data. Perlu kemampuan membaca, menganalisis, dan menggunakan informasi (big data) di dunia digital. Kedua, literasi teknologi. Mahasiswa perlu untuk mengetahui prosesnya sehingga bisa melakukan verifikasi mana yang benar dan salah.
”Jangan menelan informasi karena bisa jadi informasi yang diterima tidak valid sehingga perlu mengetahui literasi teknologi,” tuturnya.
Ketiga adalah literasi antarmanusia. Menurutnya, jangan sampai kemajuan teknologi yang ada membuat kita tidak bisa berkomunikasi dengan baik antarmanusia.
”Di Jepang ada manusia menikahi robot. Kita harus punya kemampuan berinteraksi dengan masyarakat, punya empati, etika, moral dan spiritualitas tinggi. Ini perlu kita tekankan. Jangan sampai terbalik, tujuan memanusiakan manusia jangan sampai berubah merobotkan manusia,” katanya.
Mahasiswa, kata Khairul Munadi, juga harus memiliki beberapa keterampilan, kreativitas, critical thinking, dan kolaborasi. Mahasiswa juga perlu menjadi pembelajar yang adaptif dan bisa mempelajari dan berinteraksi dengan banyak hal. Mahasiswa harus menjadi kreator, pencipta yang menghasilkan banyak kreasi. Bukan hanya pengguna, tapi pencipta. Dunia digital menyediakan semua fasiltas untuk merangkum koneksi tanpa batas dan multidisiplin ilmu.
”Saya mendorong adik-adik mahasiswa, dalam rangka belajar efektif dan efisien, perlu banyak belajar bersama, kolaboratif,” jelasnya.
Pelaksanaan PKKMB Universitas Sunan Gresik berlangsung mulai 16-18 September 2025 yang diikuti sekitar 2.500 mahasiswa. Jumlah itu merupakan hasil seleksi ketat dari total sekitar 3.500 calon mahasiswa yang mendaftar sebagai mahasiswa angkatan pertama USG. Mereka berasal dari berbagai daerah di Indonesia, mulai Aceh, Sumatera, Sulawesi, NTT, Jakarta, hingga Papua dan berbagai daerah lainnya di Indonesia.
Humas Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi
#DiktisaintekBerdampak #DiktisaintekSigapMelayani #Pentingsaintek #Kampusberdampak #Kampustransformatif





