Keberlanjutan adalah kekuatan transformatif dunia pendidikan tinggi. Keberlanjutan bukan lagi sekadar topik yang diajarkan di ruang kuliah, melainkan pendorong strategis yang mengubah cara universitas beroperasi, mendidik, dan berinteraksi dengan masyarakat. Lebih dari itu, keberlanjutan menjadi keharusan strategis yang mendefinisikan ulang tujuan dan praktik pendidikan tinggi.
“Keberlanjutan adalah penggerak sekaligus fondasi bagi praktik pendidikan tinggi yang mampu bertahan lama,” ungkap Prof. Ir. Togar Mangihut Simatupang, Ph.D., Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia (Kemdiktisaintek RI) di kampus Universitas Kristen Maranatha, Bandung (11/9/2025).
Prof. Togar mengatakan bahwa keberlanjutan adalah topik yang sangat relevan dan diharapkan dapat memantik civitas academica untuk membangun UK Maranatha yang transformatif, progresif, dan adaptif. Ia menyampaikan hal ini melalui orasi ilmiah berjudul “Sustainability in Higher Education”, dalam rangkaian acara Dies Natalis ke-60 UK Maranatha yang tepat dirayakan pada 11 September 2025.
Sejalan dengan tema Dies Natalis yakni “Maranatha Berdampak”, Prof. Togar berharap universitas mampu menghadapi berbagai tantangan sekaligus memberikan dampak positif bagi bangsa dan negara.
Peran Pendidikan Tinggi dalam Pembangunan Negara
Prof. Togar juga menyinggung konteks pembangunan nasional. Berdasarkan data Bank Dunia tahun 2024, Indonesia masih berada dalam jebakan pendapatan menengah (middle income trap) selama 31 tahun (1993-2023). Untuk keluar dari posisi ini, Indonesia harus meningkatkan pendapatannya hingga 2,5 kali lipat. Presiden Prabowo Subianto pun menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen per tahun agar Indonesia mampu keluar dari jebakan ini, sebelum tercapainya Indonesia Emas 2045, dengan pendapatan per kapita mencapai USD 12.500.
Untuk mencapai target tersebut, terdapat delapan prasyarat yang sebagian besar berpusat pada bidang teknologi, inovasi, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia dan kelembagaannya.
2 / 3
Pendidikan tinggi pun diharapkan dapat berperan aktif. Saat ini, Indonesia baru mencanangkan wajib 12 tahun belajar, belum termasuk kuliah. Oleh karena itu, Kemdiktisaintek menekankan bahwa pendidikan tinggi harus terlibat dalam pembangunan berkelanjutan, agar tetap relevan, meningkatkan kualitas layanan, serta masuk dalam jajaran universitas yang unggul dalam inovasi dan teknologi.
Sekretaris Jenderal Kemdiktisaintek RI, Prof. Ir. Togar Mangihut Simatupang, Ph.D. menerima tanda apresiasi dari Rektor UK Maranatha, Prof. Ir. Frans Umbu Datta, M.App.Sc. Ph.D., didampingi Dr. Lukman, S.T., M.Hum., Kepala LLDIKTI IV, dan Ketua Senat UK Maranatha, Prof. Dr. Hapnes Toba, M.Sc. (dok. Humas Maranatha)
Delapan Strategi Keberlanjutan
Menurut Prof. Togar, ada tiga premis dalam konsep keberlanjutan pendidikan tinggi atau sustainability of higher education.
Pertama: Pendidikan Tinggi untuk Keberlanjutan (Higher Education for Sustainability). Premis ini menekankan peran universitas, politeknik, dan lembaga pendidikan tinggi lainnya dalam mendorong pembangunan berkelanjutan melalui pendidikan, penelitian, keterlibatan masyarakat, serta praktik kelembagaan. Hal ini sering dikaitkan dengan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).
Kedua: Keberlanjutan dalam Pendidikan Tinggi (Sustainability in Higher Education). Pendidikan tinggi menanamkan prinsip-prinsip keberlanjutan, seperti integritas lingkungan, keadilan sosial, dan ketahanan ekonomi, ke dalam budaya, kurikulum, penelitian, operasi, dan penjangkauan kelembagaannya. Dengan cara ini, mahasiswa dipersiapkan untuk menjadi agen perubahan dalam mewujudkan masa depan yang berkelanjutan.
Ketiga: Keberlanjutan untuk Pendidikan Tinggi (Sustainability for Higher Education). Premis ini mengacu pada komitmen dan kapasitas lembaga pendidikan tinggi untuk berkontribusi pada pembangunan berkelanjutan dengan menanamkan prinsip-prinsip keberlanjutan ke dalam tata
3 / 3
kelola, kurikulum, penelitian, operasi, dan keterlibatan masyarakat. Dengan cara ini, mahasiswa dan masyarakat dipersiapkan untuk menghadapi tantangan global secara adil, bertanggung jawab, dan berorientasi pada masa depan.
Untuk mewujudkan universitas yang tumbuh berkelanjutan, Prof. Togar memaparkan delapan strategi utama, yaitu: mendefinisikan ulang model pendidikan untuk keberlanjutan pendidikan tinggi; keberlanjutan lingkungan di kampus; memastikan keberlanjutan finansial; keterlibatan komunitas dan upaya kolaboratif; memanfaatkan teknologi untuk kemajuan berkelanjutan; membina riset dan inovasi; memprioritaskan kesejahteraan mental untuk pertumbuhan berkelanjutan; dan membina koneksi global untuk kemajuan institusi.
Menjadi Perguruan Tinggi Berdampak
Keberlanjutan untuk pendidikan tinggi mencakup integrasi pengelolaan lingkungan, tanggung jawab sosial, serta ketahanan ekonomi ke dalam operasi kelembagaan, kurikulum, dan penelitian untuk membimbing masyarakat menuju masa depan yang lebih berkelanjutan. Keberlanjutan juga mampu mendorong inovasi, relevansi, dan ketahanan pendidikan tinggi di dunia yang berubah dengan cepat
Universitas dapat mengukur dampak keberlanjutan melalui kombinasi indikator kuantitatif, penilaian kualitatif, serta alat pembanding, kemudian melakukan perbaikan secara berkelanjutan. Dengan demikian, pendidikan tinggi mampu benar-benar menjadi institusi yang teruji oleh waktu dan berdampak bagi masyarakat. (vir)






