Bogor– Persoalan sampah nasional menuntut solusi yang tidak hanya menyeluruh, tetapi juga berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi. Menjawab tantangan tersebut, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) mendorong penguatan teknologi tepat guna, dan riset sebagai fondasi dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih modern, terintegrasi, dan berkelanjutan.
Komitmen tersebut ditunjukkan dalam kunjungan kerja Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto ke fasilitas pengelolaan sampah terintegrasi atau Integrated Waste Management (IWM) milik Taman Safari Indonesia, Sabtu (7/3).
Kunjungan ini dilakukan untuk meninjau langsung praktik pengelolaan sampah terpadu sekaligus membahas peluang pengembangan teknologi pengolahan sampah berbasis riset. Hal ini sejalan dengan arahan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto, yang menekankan pentingnya penguatan penanganan persoalan sampah nasional melalui pendekatan yang lebih inovatif dan kolaboratif. Pemerintah mendorong keterlibatan aktif berbagai pemangku kepentingan, mulai dari perguruan tinggi, pemerintah daerah, hingga sektor industri, agar solusi yang dihasilkan mampu menjawab persoalan secara menyeluruh.
Dalam kunjungan tersebut, Menteri Brian menegaskan bahwa pengelolaan sampah tidak dapat diselesaikan dengan pendekatan parsial. Diperlukan sistem yang terintegrasi, mulai dari kesadaran masyarakat dalam memilah sampah, dukungan teknologi pengolahan, hingga tata kelola fasilitas pengolahan skala besar, sehingga inovasi yang lahir dari riset perguruan tinggi dapat benar-benar memberikan dampak nyata bagi lingkungan dan masyarakat.
“Kita perlu membangun sistem pengelolaan sampah yang terintegrasi, dari tingkat masyarakat hingga fasilitas pengolahan skala regional,” ujar Menteri Brian.
Konsep sistem pengelolaan sampah berjenjang yang mengintegrasikan proses pengolahan dari tingkat rumah tangga hingga fasilitas pengolahan regional berbasis teknologi juga menjadi salah satu topik diskusi.
Secara konseptual, sistem ini mencakup pemilahan di tingkat masyarakat dan bank sampah, stasiun pemilahan di tingkat kelurahan, fasilitas pengolahan di tingkat kecamatan, hingga pusat pengolahan regional yang mampu mengolah residu secara lebih efisien. Diskusi juga membahas kemungkinan pengembangan fasilitas pengolahan sampah berbasis wilayah dengan kapasitas tertentu agar tercapai skala ekonomi yang optim
Mendiktisaintek menilai pengelolaan sampah juga memiliki potensi besar untuk berkembang menjadi sektor industri baru berbasis inovasi dan ekonomi sirkular.
“Pengelolaan sampah tidak cukup hanya dengan pendekatan program pemerintah, tetapi membutuhkan model bisnis yang berkelanjutan. Jika dikelola dengan baik, sampah juga dapat menjadi sumber industri baru berbasis inovasi. Dengan sistem pengelolaan yang tepat, sebagian besar sampah dapat dimanfaatkan kembali dan residunya menjadi sangat minimal,” jelas Menteri Brian.
Pemanfaatan berbagai teknologi pengolahan sampah, seperti Black Soldier Fly (BSF) untuk pengolahan sampah organik, Refuse Derived Fuel (RDF) sebagai bahan bakar alternatif industri, serta teknologi pemilahan dan daur ulang material bernilai tinggi, juga disoroti pada diskusi ini.
Dalam kesempatan tersebut, Menteri Brian juga meninjau langsung fasilitas Integrated Waste Management (IWM) Taman Safari Indonesia yang telah mengimplementasikan sistem pengolahan sampah terintegrasi, mulai dari pemilahan, pengolahan sampah organik menjadi pakan maggot, hingga pemanfaatan residu menjadi bahan bakar alternatif.
Model pengolahan tersebut dinilai dapat menjadi salah satu contoh praktik baik yang dapat dikembangkan dan direplikasi di berbagai daerah dalam upaya memperkuat sistem pengelolaan sampah nasional.
Melalui kebijakan ‘Diktisaintek Berdampak’, Kemdiktisaintek berkomitmen mendorong perguruan tinggi untuk mengembangkan riset dan inovasi yang mampu memberikan solusi nyata bagi persoalan masyarakat, termasuk dalam pengembangan teknologi pengolahan sampah, model ekonomi sirkular, serta sistem pengelolaan sampah yang dapat direplikasi di berbagai daerah.
Kemdiktisaintek juga akan terus memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi, industri, pemerintah daerah, dan berbagai pemangku kepentingan untuk mempercepat hilirisasi riset serta menghadirkan inovasi yang berdampak langsung bagi masyarakat dan lingkungan.
Dalam kegiatan tersebut, Menteri Brian didampingi oleh Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan (Dirjen Risbang) Fauzan Adziman serta Direktur Hilirisasi dan Kemitraan, Yos Sunityoso. Diskusi juga melibatkan praktisi industri dan pengelola fasilitas pengolahan sampah, di antaranya CEO Greenprosa, Arky Gilang Wahab, Direktur Operasional, Mujibur Rahman, Humas Taman Safari Indonesia, Suharto, serta Manager Operasional IWM, Helmi.
Humas
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi
#DiktisaintekBerdampak
#Pentingsaintek
#Kampusberdampak
#Kampustransformatif




