KEEROM — Memahami risiko bencana tidak cukup hanya melalui peta. Tim 19 Ekspedisi Patriot Universitas Diponegoro (UNDIP) turun langsung ke Kampung Woslay, Distrik Senggi, Kabupaten Keerom, Papua, untuk memadukan data lapangan dengan pengetahuan masyarakat dalam memetakan kerawanan bencana hidrometeorologi.
Dipimpin Dr.Ing. Wakhidah Kurniawati, S.T., M.T., tim melakukan diskusi bersama warga dan verifikasi lapangan (ground checking) untuk mengidentifikasi ancaman yang berdampak pada permukiman, peternakan, hingga lahan pertanian.
Hasil pengamatan menunjukkan masyarakat menghadapi dua kondisi yang berlawanan. Saat musim hujan, sejumlah kawasan permukiman dan peternakan berisiko mengalami genangan. Sementara pada musim kemarau, lahan pertanian menghadapi persoalan kekeringan.
Genangan antara lain berkaitan dengan saluran drainase yang dangkal, sumbatan sampah, serta karakter tanah liat di Senggi yang membuat air sulit terserap dengan cepat. Kondisi tersebut juga berdampak pada peternakan karena tanah menjadi berlumpur dan menyulitkan pergerakan ternak.
Sriyono, petani sekaligus peternak di Kampung Woslay, menjelaskan bahwa kondisi tanah menjadi salah satu tantangan yang dihadapi masyarakat ketika curah hujan meningkat
“Jenis tanah di Senggi ini beda. Kalau sapi terus menginjak-injak lahan ternak, apalagi saat hujan, tanahnya jadi semakin becek dan berubah menjadi lumpur yang cukup dalam,” ujarnya.
Di tengah kondisi tersebut, masyarakat telah mengembangkan cara untuk beradaptasi dengan perubahan musim. Petani menerapkan rotasi tanaman dengan menanam jagung ketika musim kemarau dan kembali menanam padi saat memasuki musim penghujan.
Praktik lokal tersebut menjadi salah satu informasi penting yang dihimpun tim. Data hasil ground checking, kondisi drainase, karakteristik tanah, serta pengalaman masyarakat selanjutnya akan menjadi basis penyusunan rekomendasi mitigasi bencana dan perbaikan lingkungan berbasis masyarakat di Distrik Senggi.
Pendekatan ini menunjukkan bagaimana pengetahuan akademik dan pengalaman masyarakat dapat saling melengkapi. Data membantu membaca risiko, sementara warga memberikan pemahaman tentang kondisi yang mereka hadapi sehari-hari sekaligus cara-cara adaptasi yang telah berkembang.
Melalui Ekspedisi Patriot, kehadiran perguruan tinggi di wilayah transmigrasi diharapkan dapat memperkuat ketahanan masyarakat menghadapi risiko bencana sekaligus mendukung pengelolaan permukiman dan lahan yang lebih berkelanjutan.
Dari mendengar cerita warga hingga memeriksa langsung kondisi lapangan, pemetaan menjadi langkah awal untuk menghadirkan solusi yang benar-benar berangkat dari kebutuhan masyarakat.






