Ciptakan Kampus Sehat, UNDIP Gelar Uji Coba Sistem Informasi Kampus Sehat bersama Kemenkes dan Kemdiktisaintek

Kampus Kita

13 September 2026 | 23.30 WIB

Ciptakan Kampus Sehat, UNDIP Gelar Uji Coba Sistem Informasi Kampus Sehat bersama Kemenkes dan Kemdiktisaintek

UNDIP, Semarang (13/9) – Universitas Diponegoro melalui UPT Keselamatan, Kesehatan Kerja dan Lingkungan (K3L) menjadi tuan rumah kegiatan Pendampingan Kampus Sehat di Perguruan Tinggi sekaligus Uji Coba Sistem Informasi Kampus Sehat pada Kamis, 10 September 2026 di Ruang Pertemuan Lantai 4 Gedung Direktorat Perpustakaan, Undip Press, dan Kearsipan, Kampus UNDIP Tembalang. Kegiatan bersama Kementerian Kesehatan RI dan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) ini menjadi langkah untuk memperkuat asesmen mandiri sekaligus membantu perguruan tinggi menyusun perbaikan berdasarkan kondisi nyata di kampus.

Forum ini mempertemukan perwakilan perguruan tinggi dengan pemerintah dan pakar Kampus Sehat. Turut hadir Nur Fatayani, S.Pd., M.K.M., Ketua Tim Kerja Satuan Pendidikan Sehat Direktorat Promosi Kesehatan dan Kesehatan Komunitas Kementerian Kesehatan RI; Prof. Dra. R.A. Yayi Suryo Prabandari, M.Si., Ph.D., Konsultan Health Promoting University sekaligus Konsultan Asian Development Bank (ADB) dari Universitas Gadjah Mada; Eko Budi Prasetyo, S.I.Kom., Ketua Tim Kerja Sama Setditjen Dikti; serta Syachrudin, S.Kom., M.T.I. dari Kemdiktisaintek. Uji coba juga melibatkan perwakilan 15 perguruan tinggi, sehingga masukan pengguna dapat dihimpun sebelum sistem digunakan lebih luas.

Membuka kegiatan, Wakil Rektor Perencanaan, Keuangan, Aset, Bisnis dan Kerumahtanggaan UNDIP, Dr. Warsito Kawedar, S.E., M.Si., Akt., menekankan Kampus Sehat perlu tumbuh sebagai kebiasaan sehari-hari, bukan sebatas kondisi lingkungan yang tampak bersih. Menurutnya, UNDIP terus mendorong perubahan perilaku sekaligus inovasi pengelolaan lingkungan, termasuk pemilahan dan pengolahan sampah menjadi kompos maupun maggot. “Bagi kami, bersih saja belum selesai. Harus ada inovasi dan perubahan budaya. Warga kampus perlu terbiasa menjaga lingkungan, memilah sampah, dan menjadikan hidup sehat sebagai bagian dari keseharian,” ujarnya.

Ia juga menyoroti tantangan kesehatan yang tidak selalu tampak secara fisik. Fasilitas aktivitas fisik dan lingkungan yang sehat terus diperkuat, tetapi dukungan terhadap kesehatan mental masih membutuhkan perhatian dan sumber daya yang lebih besar. “Aspek fisik relatif bisa kita benahi, tetapi kesehatan nonfisik menjadi pekerjaan yang harus terus diperkuat. Karena itu, forum ini penting agar ada pengetahuan dan praktik baik yang dapat kami adopsi untuk memperbaiki layanan di kampus,” tuturnya. Upaya tersebut melengkapi program promotif dan preventif UNDIP, mulai dari pemeriksaan kesehatan, Posbindu PTM, hingga penguatan pengelolaan lingkungan melalui UNDIP Zero Waste.

Dukungan serupa disampaikan oleh Kepala Bagian Umum LLDIKTI Wilayah VI Jawa Tengah, Adhrial Refaddin, S.IP., M.P.P. Ia menilai Kampus Sehat tidak cukup dimaknai sebagai tersedianya klinik atau layanan kesehatan, tetapi sebagai ekosistem yang menyatukan kesehatan fisik, mental, rasa aman, kenyamanan, dan kesejahteraan civitas academica. “Ini bukan indikator kinerja baru, melainkan ruang untuk mengintegrasikan berbagai aktivitas perguruan tinggi agar semakin sehat sekaligus berdampak bagi masyarakat,” katanya. LDIKTI VI juga siap mendorong kolaborasi dan berbagi praktik baik di perguruan tinggi Jawa Tengah.

Sementara itu, Nur Fatayani menjelaskan Sistem Informasi Kampus Sehat disiapkan untuk memberi ruang kepada perguruan tinggi melakukan penilaian secara mandiri sekaligus menyusun rencana perbaikan. “Melalui sistem ini, perguruan tinggi dapat melihat sendiri sejauh mana indikator Kampus Sehat telah terpenuhi, bagian mana yang perlu diperkuat, lalu menyiapkan tindak lanjut. Uji coba ini juga penting untuk mendapatkan masukan dari perguruan tinggi agar sistem semakin mudah digunakan dan relevan dengan kondisi di lapangan,” jelasnya. Kemenkes berharap asesmen tersebut kelak dapat dilakukan secara rutin sebagai bagian dari penguatan tata kelola kesehatan di pendidikan tinggi.

Dari sisi pendidikan tinggi, Eko Budi Prasetyo mengingatkan besarnya populasi kampus menjadikan kesehatan sebagai isu strategis. Lebih dari sembilan juta mahasiswa dan 300 ribu dosen beraktivitas di perguruan tinggi, sementara kondisi fisik dan mental berpengaruh langsung terhadap konsentrasi, produktivitas, rasa aman, serta keberlanjutan studi.

“Sistem informasi ini sebaiknya menjadi alat belajar dan perbaikan bersama, bukan sekadar sarana memenuhi laporan. Asesmen membantu kampus membaca kondisi, menentukan prioritas, lalu memantau tindak lanjutnya dari waktu ke waktu,” ungkapnya. Kerangka Kampus Sehat mencakup komitmen dan kebijakan, pendidikan kesehatan, pelayanan kesehatan fisik dan mental, lingkungan yang aman dan inklusif, serta penelitian dan pengabdian berwawasan kesehatan.

Memperdalam substansi tersebut, Prof. Yayi Suryo menerangkan Kampus Sehat harus dibangun melalui keterlibatan seluruh warga kampus. Komitmen pimpinan, keberadaan tim atau PIC, akses pelayanan kesehatan, lingkungan yang aman, serta literasi kesehatan menjadi unsur penting. Prof. Yayi juga menambahkan, asesmen mandiri dirancang bukan untuk sekadar menghasilkan peringkat, melainkan membantu perguruan tinggi mengenali titik awal dan menyusun perbaikan yang realistis sesuai sumber dayanya.

Instrumen asesmen memuat 45 standar, terdiri atas 23 standar dasar dan 22 standar lanjut dengan skema apresiasi lima bintang dan total bobot 1.000 poin. Perguruan tinggi dapat melakukan asesmen mandiri secara berkala melalui sistem yang dikembangkan Kemdiktisaintek. “Setiap kampus sebenarnya tidak memulai dari nol. Asesmen membantu melihat apa yang sudah berjalan baik, apa yang masih kurang, lalu menjadikannya dasar untuk menentukan tindak lanjut,” jelasnya.

Pada sesi teknis, Syachrudin memandu peserta mencoba langsung Sistem Informasi Kampus Sehat, mulai dari registrasi perguruan tinggi, pengisian profil, self-assessment, hingga asesmen lengkap dengan data pendukung. Melalui dashboard, perguruan tinggi dapat melihat aspek yang sudah kuat maupun bagian yang masih membutuhkan perbaikan.

Melalui uji coba ini, UNDIP memperkuat langkah menuju pengelolaan Kampus Sehat yang lebih terukur, adaptif, dan berkelanjutan sehingga lingkungan kampus tidak hanya mendukung proses akademik, tetapi juga menjaga kesehatan, kenyamanan, dan produktivitas seluruh warganya. (Komunikasi Publik/UNDIP/DHW)

DiktisaintekBerdampak

UNDIP

Kolaborasi

/

5

Ulas Sekarang