Sebab sunyi adalah bunyi yang sembunyi, maka...
“Saya tidak selalu mudah dipahami. Tapi di kampus, saya belajar bahwa saya tidak harus menjadi orang lain untuk bisa diterima.”
Saat ditemui oleh perwakilan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi pada Kamis (12/2), terselip testimoni manis dari seorang mahasiswa semester akhir Fakultas Peternakan yang menapaki hari-harinya dengan ritme yang khas. Namanya Siham. Ia hidup dengan autisme tipe Asperger, sebuah kondisi yang memengaruhi cara berkomunikasi, berinteraksi sosial, serta mengelola emosi.
Sejak masa sekolah dasar hingga menengah, dunia Siham lebih sering dipenuhi kesunyian. “Siham memang memiliki sensitivitas terhadap suara.” Ibunda Siham mengungkap. Lingkungan belajar yang terlalu bising dapat memengaruhi kenyamanannya secara emosional. Tetapi sunyi yang Siham butuhkan bukan sunyi yang ini. Ia kerap merasa tidak dipahami oleh teman sebayanya. Situasi sosial yang kompleks membuatnya lebih nyaman menghabiskan waktu bersama para guru.
Memasuki bangku kuliah menjadi titik balik penting. Kampus bagi Siham tidak hanya menjadi ruang akademik, tetapi juga lingkungan sosial yang membentuk keberanian Siham untuk membuka diri. Melalui dukungan dosen, teman sebaya, serta pendampingan dari Unit Layanan Disabilitas (ULD) UGM, ia perlahan belajar membangun komunikasi, menyesuaikan diri dengan ritme perkuliahan, dan terlibat aktif dalam berbagai kegiatan. Tidak mudah mula-mula, tapi Siham memilih melangkah.
Kita sering lebih banyak menderita dalam imajinasi daripada dalam kenyataaan.
Lingkungan kampus yang inklusif memberikan Siham rasa aman untuk berekspresi dan berkembang. Akses terhadap layanan pendampingan akademik, konseling, hingga penyesuaian metode pembelajaran memungkinkan Siham menjalani studi dengan lebih nyaman dan bermakna. Inklusivitas bukan sekadar fasilitas, melainkan budaya yang tumbuh melalui empati, keterbukaan, dan kolaborasi seluruh sivitas akademika.
Tantangan besar hadir saat pandemi Covid-19 lampau, yang memaksa pembelajaran beralih ke sistem daring. Fase ini menjadi ujian mental yang tidak ringan bagi Siham.
“Awalnya memang susah. Komunikasi terbatas, mood juga sering turun. Jadi rasanya berat, apalagi semua serba online,” tuturnya mengenang,
Keterbatasan perangkat, jaringan internet, serta koordinasi dengan teman sekelas kerap menjadi kendala dalam mengikuti perkuliahan.
“Selama pandemi, saya mengalami kesulitan terutama soal komputer dan komunikasi. Kadang harus lewat chat, kadang teman juga kurang kooperatif. Itu cukup memengaruhi proses belajar, termasuk presensi dan kerja kelompok,” ujarnya.
Di tengah keterbatasan tersebut, dukungan dosen pembimbing dan layanan kampus menjadi faktor penting yang membuat Siham tetap bertahan. Dalam penyusunan skripsi, ia mendapat pendampingan intensif, mulai dari pemilihan topik hingga pelaksanaan penelitian.
“Saya dapat daftar rekomendasi dari dosen pembimbing, lalu saya pilih salah satu dan mengerjakan penelitian itu secara mandiri,” jelasnya.
Seiring waktu, Siham mulai merasakan dampak positif dari lingkungan kampus yang inklusif. Ia membangun jejaring pertemanan lintas fakultas, mengikuti berbagai kegiatan kemahasiswaan, serta melatih kemandirian dalam mengelola studi dan kehidupan sehari-hari. Dengan dukungan yang tepat, potensi Siham semakin terlihat. Salah satu keistimewaan yang diceritakan Ibu Siham dengan binar bangga di kedua matanya adalah daya ingat putranya yang kuat. Siham mampu mengingat detail dengan sangat baik. Ketika diajak ke suatu tempat sekali saja, ia sudah hafal rute dan suasananya. Kemampuan yang akan merekam kebaikan lingkungan di sekelilingnya dalam memori baik milik ingatan kuatnya.
“Positifnya, saya dapat banyak pengalaman. Mulai dari proses belajar, relasi pertemanan, sampai ikut kegiatan ULD. Dari situ saya dapat banyak kenalan, arahan, dan jadi lebih matang,” katanya.
Kini, di penghujung masa studinya, Siham menatap masa depan dengan optimisme. Ia memiliki beragam rencana, mulai dari melanjutkan pendidikan hingga merintis usaha di bidang peternakan.
“Ke depan, saya ingin terus berkembang. Entah melanjutkan kuliah atau langsung kerja. Saya juga tertarik membangun usaha peternakan. Menurut saya, potensinya besar, apalagi kalau dikelola dengan baik,” ungkapnya.
Kisah Siham mencerminkan makna penting kampus yang inklusif: sebuah ruang belajar yang tidak hanya mentransfer ilmu, tetapi juga memanusiakan manusia. Di sinilah peran pendidikan tinggi menjadi krusial, menghadirkan akses yang adil, dukungan yang berkelanjutan, serta lingkungan yang menghargai keberagaman.
Sejalan dengan komitmen Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi dalam membangun ekosistem pendidikan tinggi yang inklusif dan berkeadilan, keberadaan Unit Layanan Disabilitas di perguruan tinggi menjadi fondasi penting untuk memastikan tidak ada mahasiswa yang tertinggal. Inklusivitas bukan sekadar kebijakan, melainkan praktik nyata yang menjamin setiap anak bangsa, apa pun kondisinya, dapat bertumbuh dan berprestasi.
“Semoga kampus semakin inklusif. Karena semua mahasiswa, apa pun kondisinya, berhak mendapatkan kesempatan yang sama untuk berkembang dan berprestasi,” pungkas Siham.
Siham menapaki perjalanan panjang menuju kemandirian. Dalam keterbatasan, ia belajar bertahan. Dalam dukungan, ia bertumbuh. Dan di kampus yang ramah, ia menemukan harapan baru untuk masa depan.
Tidak semua hero memakai jubah, kadang mereka memakai toga. Dan Siham tengah menuju ke sana.






