Singaraja–Penguatan literasi dan numerasi peserta didik masih menjadi tantangan dalam sistem pendidikan nasional. Berbagai hasil asesmen internasional dan nasional menunjukkan bahwa capaian literasi membaca dan numerasi siswa Indonesia masih belum merata, sehingga membutuhkan intervensi yang lebih terarah dan berbasis kolaborasi.
Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 yang dirilis oleh Organisation for Economic Co-operation and Development menunjukkan mayoritas siswa Indonesia masih berada di bawah tingkat kemahiran minimum dalam literasi membaca dan matematika. Sekitar tujuh dari sepuluh siswa belum mencapai kompetensi minimum literasi membaca, sementara capaian numerasi masih didominasi pada level dasar.
Temuan tersebut juga tercermin dalam hasil Asesmen Nasional melalui Rapor Pendidikan yang menunjukkan adanya korelasi kuat antara capaian literasi-numerasi dengan dukungan pembelajaran di satuan pendidikan serta kondisi sosial ekonomi peserta didik. Selain itu BPS 2025 juga mencatat jumlah penduduk miskin Indonesia mencapai 23,36 juta orang, sementara 3,42 persen penduduk Provinsi Bali berada dalam kategori miskin.
Menanggapi kondisi tersebut, kehadiran Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Fauzan untuk mendorong penyelesaian persoalan literasi dan numerasi supaya diselesaikan tidak secara parsial oleh satu institusi saja tapi perlu kolaborasi lintas sektor. Hal ini disampaikan saat menghadiri Diskusi “Pembentukan Konsorsium Riset Intervensi Literasi dan Numerasi Indonesia” yang diselenggarakan oleh Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) di Singaraja, Bali, Senin (9/3).
“Kadang anak hadir secara fisik di sekolah, tetapi tidak benar-benar hadir secara psikologis dalam proses pembelajaran. Mereka datang membawa tas dan buku, tetapi tidak mendapatkan pengalaman belajar yang bermakna. Karena itu kami berharap perguruan tinggi dapat membentuk konsorsium untuk menghadirkan program-program yang benar-benar berdampak bagi masyarakat,” ujar Fauzan.
Untuk mempercepat penanganan tersebut, Ia mendorong perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam menjawab tantangan tersebut melalui kolaborasi riset dan intervensi pendidikan berbasis data. Melalui konsorsium, perguruan tinggi dapat bersama-sama mengembangkan model pembelajaran dan intervensi literasi serta numerasi yang dapat direplikasi di berbagai daerah.
“Dengan adanya konsorsium perguruan tinggi, Undiksha dan perguruan tinggi lainnya di Bali diharapkan dapat saling bekerja sama mengembangkan program yang berdampak bagi masyarakat. Apa yang dilakukan di Buleleng bisa menjadi model yang kemudian dikembangkan di daerah lain,” tambah Fauzan.
Upaya ini juga sejalan dengan arah kebijakan Presiden Prabowo Subianto yang menempatkan pembangunan sumber daya manusia sebagai prioritas nasional. Pemerintah menargetkan pada tahun 2029 tidak ada lagi masyarakat yang tertinggal dalam akses pendidikan dasar, termasuk dalam kemampuan literasi dan numerasi sebagai fondasi utama kualitas SDM.
Dalam konteks pendidikan tinggi, kebijakan tersebut diperkuat melalui program “Diktisaintek Berdampak” yang mendorong perguruan tinggi tidak hanya menghasilkan riset dan publikasi ilmiah, tetapi juga menghadirkan solusi nyata bagi persoalan masyarakat. Melalui pendekatan ini, hasil riset diharapkan dapat langsung diterapkan untuk memperkuat kualitas pembelajaran dan pemerataan pendidikan.
Dengan penguatan konsorsium riset, kolaborasi lintas perguruan tinggi, serta implementasi hasil penelitian di lapangan, perguruan tinggi diharapkan dapat menjadi motor penggerak solusi berbasis ilmu pengetahuan untuk meningkatkan literasi dan numerasi peserta didik secara berkelanjutan. Inisiatif ini menjadi bagian penting dalam upaya menghadirkan pendidikan tinggi yang lebih inklusif, berkualitas, dan berdampak bagi masyarakat.
Humas
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi
#DiktisaintekBerdampak
#Kemdiktisaintek
#Kampusberdampak
#Kampustransformatif





