Wamendiktisaintek Fauzan Dorong Riset Perguruan Tinggi Berorientasi pada Persoalan Masyarakat

News

31 Oktober 2026 | 05.15 WIB

Wamendiktisaintek Fauzan Dorong Riset Perguruan Tinggi Berorientasi pada Persoalan  Masyarakat

Malang – Perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam menghadirkan solusi atas berbagai persoalan masyarakat melalui pengembangan ilmu pengetahuan, riset, dan inovasi. Peran tersebut menjadi perhatian Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Fauzan saat membuka Seminar Living Lab Summit 2026 bertema “Meretas Masa Depan: Arah Baru Sains dan Teknologi Berbasis Dampak Sosial” di Universitas Brawijaya (UB), Malang, Jumat (30/10).

Di tengah berbagai persoalan sosial dan kebutuhan pembangunan daerah, keunggulan akademik perguruan tinggi perlu diikuti dengan pemanfaatan hasil penelitian yang menjawab kebutuhan nyata masyarakat. Dukungan pendanaan riset yang terus berkembang juga perlu diarahkan untuk menghasilkan manfaat sosial dan ekonomi yang konkret.

Berdasarkan laporan Direktur Fasilitasi Riset Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), sejak 2021 hingga 2026, LPDP telah menyalurkan pendanaan lebih dari Rp2,5 triliun untuk lebih dari 4.800 kegiatan riset. Khusus program Bestari Saintek, pendanaan sekitar Rp57,5 miliar telah diberikan kepada 122 peneliti. Dukungan tersebut menjadi bagian penting dalam memperkuat kontribusi riset bagi masyarakat.

Melalui kegiatan yang diselenggarakan UB, LPDP, dan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) tersebut, Wamen Fauzan mendorong perguruan tinggi untuk memperkuat orientasi penelitian pada persoalan masyarakat. Pendekatan Living Lab dinilai menjadi salah satu langkah untuk mendekatkan kapasitas keilmuan kampus dengan kebutuhan masyarakat.

Riset Kampus Berangkat dari Persoalan Masyarakat

Dalam sambutannya, Wamen Fauzan menekankan bahwa perguruan tinggi tidak cukup hanya berfokus pada pengembangan institusi dan pencapaian akademik. Kampus juga memiliki tanggung jawab sosial untuk memastikan kepakaran dosen dan hasil penelitiannya berkontribusi terhadap penyelesaian persoalan masyarakat.

“Semangat utamanya adalah bagaimana membawa perguruan tinggi-perguruan tinggi yang ada di Indonesia itu mampu untuk mengangkat problem-problem masyarakat untuk dicarikan solusinya dari kampus. Jadi dari kampus untuk masyarakat,” tutur Wamen Fauzan.

Wamen Fauzan mencontohkan berbagai persoalan yang masih dihadapi masyarakat, mulai dari sektor pertanian hingga pemenuhan kebutuhan air. Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya keterlibatan perguruan tinggi dalam mengidentifikasi persoalan sekaligus mengembangkan solusi berbasis keilmuan yang sesuai dengan kebutuhan daerah.

Oleh karena itu, pelaksanaan riset perlu diawali dengan pemetaan persoalan masyarakat, penentuan lokasi penerapan, serta pengembangan solusi yang dapat dimanfaatkan secara langsung. Melalui pendekatan tersebut, perguruan tinggi diharapkan tidak hanya menjadi pusat pengembangan pengetahuan, tetapi juga pusat solusi bagi masyarakat.

Wamen Fauzan turut mengapresiasi penyelenggaraan Living Lab Summit sebagai forum yang memperkuat kedekatan perguruan tinggi dengan kehidupan masyarakat. Menurutnya, kegiatan semacam ini dapat menjadi salah satu bentuk nyata peran perguruan tinggi sebagai pusat peradaban.

“Saya ingin mengajak dalam forum ini kita mencoba untuk me-refresh kembali bahwa dari sekian banyak acara yang digelar oleh kampus yang memiliki kadar kedekatan dengan kehidupan masyarakat adalah kegiatan Living Lab Summit ini. Dan kegiatan sejenis ini, ini bisa dijadikan sebagai salah satu cara kita untuk mendefinisikan bahwa perguruan tinggi sebagai pusat peradaban,” ujar Wamen Fauzan.

Sejalan dengan hal tersebut, Direktur Jenderal Sains dan Teknologi (Dirjen Saintek) Kemdiktisaintek, Ahmad Najib Burhani menjelaskan bahwa pendekatan Living Lab menempatkan masyarakat sebagai bagian penting dalam proses penelitian. Keberhasilan inovasi juga membutuhkan kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat.

“Tidak ada satu pihak pun yang dapat membangun ekosistem inovasi secara sendiri, dengan inovasi sains dan teknologi. Perguruan tinggi memiliki kapasitas keilmuan, masyarakat memahami kebutuhan dan potensi dari wilayahnya, pemerintah dan dunia usaha memiliki peran penting dalam mendukung penerapan serta perluasan manfaat dan inovasi,” tegas Dirjen Najib.

Sementara itu, Rektor UB, Widodo menekankan pentingnya hilirisasi hasil penelitian dan pengabdian kepada masyarakat agar manfaatnya dapat dirasakan secara langsung. Di sisi lain, penguatan ilmu pengetahuan dasar tetap diperlukan sebagai fondasi pengembangan teknologi pada masa mendatang.

“Riset-riset kita harus juga terhilirasi langsung kepada masyarakat. Ilmu harus bisa dinikmati, mendukung aktivitas masyarakat dan industri di Indonesia. Tapi untuk kelompatan teknologi ke depan yang basic science juga kita harus dukung,” ujar Rektor Widodo.

Kemdiktisaintek mengajak perguruan tinggi untuk memperkuat kolaborasi dengan pemerintah daerah, dunia usaha, dan masyarakat dalam mengidentifikasi persoalan serta mengembangkan solusi berbasis riset dan inovasi. Melalui pendekatan Living Lab, hasil penelitian diharapkan tidak berhenti pada publikasi dan capaian akademik, tetapi dapat diterapkan, dikembangkan, dan memberikan manfaat berkelanjutan.

Dengan demikian, perguruan tinggi semakin memperkuat perannya sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan sekaligus penggerak transformasi sosial dan ekonomi masyarakat.

Humas

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi


#DiktisaintekBerdampak

#Pentingsaintek

#Kampusberdampak


/

5

Rate Now