Wamendiktisaintek Fauzan Dorong Perguruan Tinggi Jadi Pusat Solusi Persoalan Daerah

News

29 Oktober 2026 | 12.30 WIB

Wamendiktisaintek Fauzan Dorong Perguruan Tinggi Jadi Pusat Solusi Persoalan Daerah

Kupang, 28 Oktober 2026 — Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Fauzan, mendorong penguatan peran perguruan tinggi sebagai mitra strategis dalam pembangunan daerah. Melalui optimalisasi potensi akademik, penelitian, dan sumber daya manusia, perguruan tinggi diharapkan mampu menghadirkan solusi nyata bagi persoalan masyarakat. Hal tersebut disampaikan Wamen Fauzan saat memberikan arahan di Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah XV, Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Rabu (28/10).


Penguatan peran perguruan tinggi menjadi penting di tengah berbagai tantangan pembangunan daerah, termasuk persoalan kemiskinan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTT, tingkat kemiskinan di wilayah tersebut mencapai 17,52 persen pada Maret 2026. Kondisi ini menunjukkan perlunya pendekatan pembangunan yang lebih kolaboratif dengan mengintegrasikan potensi perguruan tinggi, program pemerintah, dan kebutuhan masyarakat.


Merespons tantangan tersebut, Wamen Fauzan mengapresiasi langkah LLDikti Wilayah XV dalam mendorong keterlibatan perguruan tinggi pada program pemberdayaan masyarakat. Ia juga mendorong penyelarasan program perguruan tinggi dengan prioritas pembangunan daerah melalui pelibatan program studi yang relevan, penguatan kemitraan lintas sektor, serta pemanfaatan hasil penelitian dan inovasi untuk mendukung kemandirian masyarakat.


“Ini terus akan kita dorong bagaimana perguruan tinggi di beberapa instansi, di beberapa daerah, harus bisa memberikan kontribusi. Dan inilah yang saya inginkan. Perguruan tinggi harus menjadi pusat problem solver persoalan sosial di daerah,” tegas Wamen Fauzan.


Menurutnya, kontribusi perguruan tinggi tidak cukup hanya diukur melalui capaian akademik dan pelaksanaan program kelembagaan, tetapi juga dari kemampuannya menghadirkan manfaat bagi masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan transformasi paradigma yang menempatkan perguruan tinggi sebagai bagian integral dari ekosistem pembangunan, bukan sekadar institusi pendidikan yang berjalan secara terpisah dari kebutuhan daerah.


“Paradigma baru yang dimulai, ini sebenarnya adalah membawa perguruan tinggi menjadi salah satu arsitek pembangunan masyarakat sehingga posisinya sejajar antara pemerintah daerah, pemerintah pusat, perguruan tinggi, dunia usaha, dunia industri,” tutur Wamen Fauzan.


Untuk memperkuat peran tersebut, pelaksanaan tridarma perguruan tinggi perlu diarahkan pada penyelesaian persoalan pembangunan secara terintegrasi. Pengembangan riset kolaboratif berbasis konsorsium, pendampingan masyarakat, serta sinergi dengan pemerintah dan dunia industri menjadi langkah penting untuk memastikan ilmu pengetahuan dan teknologi dapat menghasilkan manfaat yang berkelanjutan, termasuk dalam mendukung pengentasan kemiskinan dan pengembangan potensi ekonomi daerah.


Sejalan dengan arahan tersebut, Kepala LLDikti Wilayah XV, Adrianus Amheka, menyampaikan komitmennya untuk menindaklanjuti arahan Wamendiktisaintek melalui penguatan koordinasi dan pelaksanaan program bersama perguruan tinggi di wilayah kerjanya. Komitmen ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kontribusi perguruan tinggi dalam menjawab kebutuhan pembangunan masyarakat NTT.


Melalui semangat Diktisaintek Berdampak, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi mengajak seluruh perguruan tinggi untuk semakin aktif membangun kolaborasi dengan pemerintah daerah, dunia usaha, dunia industri, dan masyarakat. Sinergi tersebut diharapkan mampu mendorong lahirnya program pemberdayaan yang konkret, terukur, dan berkelanjutan, sehingga perguruan tinggi benar-benar hadir sebagai pusat solusi dan penggerak kesejahteraan masyarakat menuju Indonesia Emas 2045.


Humas

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi


#DiktisaintekBerdampak

#Pentingsaintek

#Kampusberdampak



/

5

Rate Now