Pelibatan Riset Kampus dalam Ekosistem Kendaraan Listrik

News

28 Oktober 2026 | 16.45 WIB

Pelibatan Riset Kampus dalam Ekosistem Kendaraan Listrik

Jakarta—Pengembangan kendaraan listrik membutuhkan riset yang mampu menghasilkan inovasi, sekaligus menjawab kebutuhan industri dan masyarakat. Perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam membangun kemandirian teknologi nasional, mulai dari pengembangan inovasi hingga penyiapan sumber daya manusia (SDM) yang sesuai dengan kebutuhan industri.


Hal tersebut disampaikan Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie, dalam Perkumpulan Industri Kendaraan Listrik Indonesia (Periklindo) Electric Vehicle Conference (PEVC) 2026 bertema The Future of Clean and Efficient Mobility, Rabu (28/10).


Wamen Stella menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki dua peran penting dalam pengembangan kendaraan listrik, yakni merespons kebutuhan pasar dan memimpin perkembangan pasar melalui inovasi. Menurut Wamen Stella, riset tidak cukup hanya mengikuti kebutuhan industri yang sudah ada, tetapi juga perlu menghasilkan teknologi yang dapat membuka peluang pasar baru.


“Ada dua peran inti universitas. Yang pertama adalah merespons kepada pasar, respond to the market. Dan peran kedua adalah lead the market. Kenapa kita harus memimpin pasar? Karena kalau kita hanya merespons kepada pasar, kita tidak bisa mengantisipasi apa yang dibutuhkan oleh pasar,” jelas Wamen Stella.


Menurut Wamen Stella, pengembangan kendaraan listrik membutuhkan riset untuk menghasilkan teknologi yang efisien dan terjangkau. Efisiensi menjadi faktor penting agar kendaraan listrik dapat diakses lebih luas oleh masyarakat sekaligus meningkatkan daya saing industri nasional. Karena itu, penelitian perlu diarahkan pada inovasi yang mampu menekan biaya produksi dan meningkatkan kinerja kendaraan listrik.


Untuk mendorong inovasi tersebut, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) mengarahkan pendanaan riset agar semakin berorientasi pada persoalan yang dihadapi industri. 


“Jadi, sekarang kita berorientasi pada permasalahan di industri. Hampir lebih dari 50% dana riset kami dibuka. Salah satu hasilnya adalah Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) di 2025. Itu pertama kalinya Bapak Presiden mengumpulkan seluruh ilmuwan-ilmuwan untuk menampilkan penemuan-penemuan dan inovasi-inovasi mereka,” ungkap Wamen Stella.


Penyiapan talenta juga menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem kendaraan listrik. Kemdiktisaintek mendorong penyelarasan pendidikan dengan kebutuhan industri, termasuk melalui kerja sama pendidikan vokasi antara Indonesia dan Tiongkok. Skema kerja sama tersebut menghubungkan pembelajaran di perguruan tinggi dengan pengalaman belajar di luar negeri serta program magang di industri.


Wamen Stella juga menekankan bahwa Indonesia perlu menentukan strategi pengembangan kendaraan listrik, berdasarkan kebutuhan dan potensi nasional. Pengalaman negara lain dapat menjadi pembelajaran, tetapi penerapannya perlu disesuaikan dengan prioritas riset, pengembangan industri, serta kebijakan yang mendukung penggunaan kendaraan listrik oleh masyarakat.


“Jadi, kita tidak harus menjiplak seperti itu, tetapi kita harus memiliki strategi yang sama di dalam riset, industri, dan juga di dalam perekonomiannya yang langsung kepada masyarakat,” tegas Wamen Stella.


Sementara itu, Ketua Umum Periklindo, Moeldoko, mengingatkan bahwa Indonesia perlu memanfaatkan momentum perkembangan kendaraan listrik agar tidak hanya menjadi pasar bagi produk dari luar negeri. Ketua Umum Periklindo menilai keterlibatan generasi muda dan pengembangan SDM menjadi bagian penting dalam membangun industri kendaraan listrik nasional.


“EV adalah momentum lompatan industri kendaraan di Indonesia. Jangan dibiarkan, nanti kita menjadi penonton pembangunan. Kita sambut dan seksama sehingga kita terlibat di dalamnya, khususnya anak-anak muda, SDM-nya harus di-develop sehingga nanti bisa bagaimana membangun bersama-sama,” ujar Ketua Umum Periklindo.


Di sisi lain, Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin), Faisol Riza menyampaikan bahwa jumlah kendaraan di Indonesia mencapai 172,94 juta unit hingga akhir 2025 berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS). Pangsa pasar mobil listrik berbasis baterai juga meningkat dari 0,99 persen pada 2022 menjadi 16,88 persen pada periode Januari-Agustus 2026.


Menurut Wamenperin Faisol, pertumbuhan tersebut perlu diikuti penguatan industri dan peningkatan penggunaan komponen yang diproduksi di dalam negeri. Pengembangan ekosistem baterai, peningkatan penguasaan teknologi, serta penguatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) menjadi bagian penting dalam membangun industri kendaraan listrik yang berdaya saing.


Kemdiktisaintek mengajak perguruan tinggi, politeknik, peneliti, dan pelaku industri untuk memperkuat kolaborasi dalam mengembangkan riset, inovasi, dan talenta kendaraan listrik. Sinergi antara dunia pendidikan, industri, dan pemerintah diharapkan mampu menghasilkan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, meningkatkan daya saing industri nasional, serta memperkuat kemandirian teknologi menuju Indonesia Emas 2045.


Humas

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi


#DiktisaintekBerdampak

#Pentingsaintek

#Kampusberdampak


/

5

Rate Now