Bali – Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie mendorong perguruan tinggi untuk memperkuat kapasitas mahasiswa, dalam menghadapi perkembangan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI). Menurut Wamen Stella, perkembangan teknologi perlu diiringi dengan kemampuan manusia untuk menciptakan dan mengembangkan pengetahuan.
Hal tersebut disampaikan Wamen Stella saat menjadi keynote speaker dalam AI & Humans – Shaping the Future International Academic Conference di Tsinghua Southeast Asia Center, Sabtu (15/8). Konferensi ini mempertemukan akademisi dan peneliti dari berbagai bidang, seperti AI, ilmu kognitif dan psikologi, pendidikan, human-computer interaction, computational social science, geografi, dan kesehatan mental, sekaligus menjadi ruang pertukaran gagasan dan jejaring akademik lintas negara melalui sesi keynote, Student Research Forum, sesi poster, presentasi oral, dan diskusi.
Wamen Stella menyampaikan bahwa pengembangan sains dan teknologi serta kolaborasi internasional menjadi bagian penting dalam pembangunan Indonesia. Wamendiktisaintek juga menyebut perhatian Presiden Prabowo Subianto terhadap kedua bidang tersebut.
“Presiden Prabowo memiliki kepentingan yang tinggi terhadap sains, teknologi, dan kolaborasi internasional,” ujar Wamen Stella.
Menurut Wamen Stella, penguatan kolaborasi internasional dapat membuka ruang bagi Indonesia untuk belajar dari perkembangan sains dan teknologi di negara lain sekaligus memperkuat kapasitas perguruan tinggi.
Berbicara mengenai masa depan perguruan tinggi di tengah perkembangan AI, Wamen Stella mengajak universitas untuk kembali melihat fungsi fundamentalnya. Ketika AI semakin mampu menyediakan dan menghasilkan pengetahuan, perguruan tinggi perlu memastikan proses pendidikan tetap membangun kemampuan manusia untuk menghasilkan dan memahami pengetahuan.
“Universitas harus berpikir serius mengenai tiga hal. Yang pertama adalah penciptaan pengetahuan (creation of knowledge). Yang kedua adalah transmisi pengetahuan (transmission of knowledge). Dan yang ketiga adalah kurasi pengetahuan (curation of knowledge),” jelas Wamen Stella.
Kemudahan memperoleh informasi melalui teknologi, juga perlu diimbangi dengan pemahaman yang memadai agar informasi dapat dinilai dan digunakan secara tepat. Dalam konteks tersebut, kemampuan mengkurasi pengetahuan menjadi penting, untuk menentukan informasi yang relevan dan menghubungkannya dalam memahami suatu persoalan.
Wamen Stella turut mengangkat aspek keberlanjutan dalam perkembangan AI, khususnya kebutuhan energi dan air untuk mendukung infrastrukturnya. Menurut Wamendiktisaintek, perkembangan teknologi perlu dipertimbangkan bersama sumber daya yang dibutuhkan dan manfaat yang dihasilkan, sehingga pemanfaatannya dapat diarahkan pada kebutuhan yang memberikan nilai.
Partisipasi Kemdiktisaintek dalam forum tersebut sejalan dengan arah Diktisaintek Berdampak, terutama dalam mendorong penguatan kapasitas manusia, penciptaan pengetahuan, dan kolaborasi. Hal tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kontribusi pendidikan tinggi, sains, dan teknologi bagi masyarakat dan pembangunan nasional.
Humas
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi
#DiktisaintekBerdampak
#PentingSaintek
#KampusBerdampak







