SERANG — Setiap pagi, Supiati menempuh perjalanan dari rumah menuju Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta). Tanpa tinggal di kos dan harus pulang-pergi setiap hari, ia tetap menjalani perkuliahan dengan tekad untuk menjadi orang pertama di keluarganya yang menempuh pendidikan tinggi.
Sebagai anak kedua dari tiga bersaudara, Supiati tumbuh dari keluarga sederhana. Ayahnya bekerja sebagai pedagang, sementara sang ibu, Saria, merupakan ibu rumah tangga. Bagi Supiati, kesempatan berkuliah bukan sekadar pencapaian pribadi, tetapi juga bentuk tanggung jawab kepada keluarga.
Sebagai penerima Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K), Supiati merasakan langsung manfaat program tersebut. Bantuan yang diterimanya turut menopang kebutuhan perkuliahan, mulai dari ongkos perjalanan hingga berbagai kegiatan akademik.
“Perannya sejauh ini yang saya rasakan adalah membantu biaya pendidikan, terutama seperti membantu untuk ongkos. Karena saat ini saya tidak kos, saya pulang pergi dari kampus.”
Namun, Supiati tidak ingin berhenti sebagai penerima bantuan. Ia aktif dalam organisasi mahasiswa yang menaungi penerima KIP-K di Untirta. Di sana, ia turut membantu mahasiswa lain yang menghadapi persoalan akademik maupun administratif, termasuk mendampingi mahasiswa baru dalam proses registrasi ulang.
“Saya memang tidak bisa menyumbang dalam segi prestasi, namun saya menyumbang dari segi organisasi.”
Baginya, kesempatan yang diterima juga harus menjadi kesempatan bagi orang lain.
Dari pengalamannya, Supiati berharap akses KIP-K dapat terus diperluas sehingga semakin banyak mahasiswa yang membutuhkan dapat merasakan manfaatnya. Ia juga mendorong sekolah untuk lebih aktif menyosialisasikan program tersebut kepada siswa yang memiliki keinginan melanjutkan pendidikan, tetapi terkendala kondisi ekonomi.
Kepada adik-adik yang masih ragu untuk melanjutkan kuliah, Supiati berpesan:
“Jangan takut melangkah, karena kita sebagai yang tahu, mendorong, membantu. Jadi jangan takut melangkah untuk hal yang baru.”
Di akhir pertemuan, Supiati berdiri bersama sang ibu, Saria. Mewakili keluarga, ia menyampaikan rasa terima kasih kepada Untirta atas dukungan KIP-K yang telah membantu perjalanan pendidikannya.
Kisah Supiati menunjukkan bahwa perjalanan menuju perguruan tinggi tidak selalu dimulai dengan kemudahan. Kadang, ia dimulai dari perjalanan pulang-pergi setiap hari, dukungan keluarga, dan keberanian untuk terus melangkah. Dengan KIP-K, langkah itu menjadi lebih ringan—dan harapan untuk masa depan pun semakin terbuka.







