Mahasiswa Berdampak: Atraktor Cumi IPB Pulihkan Hasil Tangkapan Nelayan Sangrawayang

News

12 June 2026 | 19.30 WIB

Mahasiswa Berdampak: Atraktor Cumi IPB Pulihkan Hasil Tangkapan Nelayan Sangrawayang

Yogyakarta - Desa Sangrawayang di Kabupaten Sukabumi dikenal sebagai salah satu wilayah pesisir dengan kekayaan hasil laut yang melimpah. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, para nelayan setempat menghadapi tantangan berupa menurunnya hasil tangkapan cumi-cumi akibat berbagai faktor, termasuk perubahan kondisi alam.


Melihat tantangan yang dihadapi nelayan Sangrawayang, tim Program Mahasiswa Berdampak dari Institut Pertanian Bogor (IPB) hadir mendampingi masyarakat melalui inovasi teknologi atraktor cumi-cumi sekaligus pemberdayaan ekonomi berbasis hasil laut. 


Inisiatif tersebut dipamerkan dalam Seminar Dampak Program Mahasiswa Berdampak Tahun Anggaran 2025 yang diselenggarakan Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek bersama Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Yogyakarta. 


Ketua pelaksana tim, Faturokhman, menjelaskan bahwa teknologi atraktor cumi-cumi merupakan inovasi yang dikembangkan oleh Prof. Mulyono dari IPB. Atraktor tersebut berfungsi sebagai tempat cumi-cumi bertelur dan dipasang di bawah keramba jaring apung di Pantai Sangrawayang. 


“Semakin banyak cumi yang datang untuk bertelur, maka peluang nelayan mendapatkan hasil tangkapan juga semakin besar. Dari hasil implementasi di lapangan, penggunaan atraktor ini mampu meningkatkan tangkapan cumi-cumi hingga sekitar 30 persen,” ujarnya.


Sebanyak 4 hingga 5 unit atraktor dipasang pada setiap keramba yang digunakan dalam program pendampingan. Kehadiran teknologi sederhana tersebut menjadi harapan baru bagi nelayan yang selama ini menggantungkan hidup dari hasil tangkapan laut.


Bagi tim IPB, meningkatnya hasil tangkapan bukanlah tujuan akhir. Mereka juga ingin memastikan manfaat ekonomi dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat. Mahasiswa juga mendampingi masyarakat untuk mengolah hasil laut menjadi produk bernilai tambah.


Bersama Karang Taruna dan kelompok Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK), cumi-cumi diolah menjadi berbagai produk pangan, seperti nugget cumi-cumi, bakso cumi-cumi, dan kerupuk cumi-cumi. Dari ketiga produk tersebut, kerupuk cumi menjadi yang paling diminati masyarakat karena mudah diproduksi dan memiliki cita rasa khas.


Ketua mahasiswa, Ilham Toni Maulana, mengatakan bahwa pengembangan produk dilakukan berdasarkan aspirasi masyarakat setempat mengenai potensi yang ingin dikembangkan di Desa Sangrawayang. 


“Kami melihat potensi yang ingin dikembangkan masyarakat. Dari sumber daya cumi-cumi yang dimiliki desa, kami mencoba mengolahnya menjadi produk yang bisa memberikan nilai tambah bagi warga,” katanya.


Produk-produk tersebut dipasarkan melalui merek Sangra Food. Tim mahasiswa turut membantu masyarakat dalam penguatan pemasaran digital melalui pembuatan website penjualan serta promosi melalui media sosial.


Harapannya, produk olahan cumi khas Sangrawayang dapat berkembang menjadi identitas baru daerah tersebut. Jika selama ini kawasan Pelabuhan Ratu dikenal dengan olahan bakso ikan, masyarakat berharap bakso cumi dan kerupuk cumi Sangrawayang juga dapat menjadi buah tangan khas yang dicari wisatawan. 


Melalui Program Mahasiswa Berdampak, mahasiswa IPB menunjukkan bahwa inovasi yang berdampak lahir dari kedekatan dengan masyarakat. Dengan memahami kebutuhan warga, memanfaatkan potensi lokal, dan berjalan bersama komunitas, perguruan tinggi dapat menghadirkan solusi yang tidak hanya menyelesaikan persoalan hari ini, tetapi juga membuka peluang kesejahteraan yang berkelanjutan bagi masyarakat pesisir.

/

5

Rate Now