UNDIP, Semarang (28/7) – Lulusan terbaik Program Magister Ilmu Biomedik Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (FK Undip), Aqsa Aufa Syauqi Sadana, S.Ked., M.Biomed., membuktikan bahwa usia muda bukan menjadi penghalang untuk menghasilkan riset berkualitas dan berdaya saing global. Lulus melalui Program Degree by Research (DBR) pada usia 22 tahun dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 4,00, Aqsa juga menjadi lulusan terbaik pada Prosesi Sumpah Profesi Dokter FK Undip yang digelar pada 28 Juli 2026 bersama 107 tenaga kesehatan baru lainnya. Selain itu, ia meraih penghargaan Publikasi Terbaik serta DPD Award 2025 atas kontribusinya dalam pengembangan riset biomedis dan teknologi kesehatan berbasis kearifan lokal.
Bagi Aqsa, berbagai penghargaan tersebut bukan sekadar bentuk pengakuan atas prestasi akademik, melainkan amanah untuk terus berkarya dan memberikan manfaat yang lebih luas.
“Alhamdulillah, saya sangat bersyukur atas seluruh pencapaian tersebut. Bagi saya, penghargaan bukanlah tujuan utama, melainkan amanah dan motivasi untuk terus berkembang. Menjadi lulusan terbaik Magister Ilmu Biomedik FK Undip dengan IPK 4,00 dan memperoleh penghargaan Publikasi Terbaik merupakan hasil dari proses serta bimbingan luar biasa dari para dosen pembimbing dan BRIN,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa DPD Award 2025 semakin menguatkan keyakinannya bahwa penelitian harus mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Menurutnya, keberhasilan seorang peneliti tidak hanya diukur dari banyaknya publikasi atau penghargaan, tetapi juga dari kontribusi yang dihasilkan dalam meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat.
Keberhasilan Aqsa menyelesaikan pendidikan magister melalui skema DBR dalam waktu relatif singkat tidak terlepas dari kedisiplinan dalam mengelola proses penelitian. Ia membiasakan diri menyusun target mingguan dan bulanan yang mencakup penyusunan proposal, pengumpulan data, analisis laboratorium, analisis statistik, hingga penulisan manuskrip.
Selain manajemen waktu, Aqsa menilai kolaborasi menjadi faktor penting dalam keberhasilan penelitiannya. Dukungan dosen pembimbing, para peneliti di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), keluarga, serta rekan-rekan penelitian menjadi fondasi yang memperlancar setiap tahapan riset.
Aqsa Aufa Syauqi Sadana, S.Ked., M.Biomed., menerima ucapan selamat dari Rektor Universitas Diponegoro usai dinobatkan sebagai lulusan terbaik.Penelitian yang dikerjakan Aqsa merupakan bagian dari penelitian besar SIMCEH 2019–2024 yang mengkaji interaksi antara variasi genetik dan paparan lingkungan, khususnya paparan merkuri pada ibu hamil. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa paparan merkuri berhubungan dengan meningkatnya risiko komplikasi obstetri, sementara variasi genetik GSTP1 memberikan gambaran bahwa setiap individu memiliki respons yang berbeda terhadap paparan lingkungan.
Temuan tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu dasar pengembangan strategi pencegahan dan layanan kesehatan ibu dan anak yang lebih berbasis bukti, sekaligus memperkuat penelitian mengenai faktor genetik dan lingkungan dalam bidang kesehatan reproduksi di Indonesia.
Kualitas penelitian tersebut turut mengantarkan manuskrip Aqsa terbit pada jurnal internasional bereputasi Scopus Q1. Menurutnya, keberhasilan menembus jurnal bergengsi bukan diperoleh secara instan, melainkan melalui proses panjang yang dipenuhi berbagai masukan dan revisi dari para reviewer.
“Saya melihat keberhasilan menembus jurnal internasional Q1 lebih banyak ditentukan oleh ketekunan dalam memperbaiki kualitas manuskrip daripada sekadar mengejar publikasi. Tentunya telah melewati banyak masukan dan revisi dari reviewer,” ungkapnya.
Di luar aktivitas akademik, Aqsa juga mendirikan AQSA Center sebagai wadah kolaborasi riset dan inovasi bagi generasi muda. Melalui inisiatif tersebut, ia ingin mendorong semakin banyak pelajar, mahasiswa, akademisi, dan masyarakat untuk terlibat dalam penelitian yang mampu menghasilkan solusi atas berbagai persoalan bangsa.
Menurutnya, penelitian akan memiliki makna yang lebih besar apabila hasilnya dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, pengembangan inovasi tidak boleh berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi perlu diterjemahkan menjadi teknologi maupun solusi yang bermanfaat bagi masyarakat.
Ke depan, Aqsa berharap dapat melanjutkan pendidikan, memperluas kolaborasi riset di tingkat nasional maupun internasional, serta menghasilkan penelitian yang mampu melahirkan inovasi, teknologi kesehatan, dan kebijakan berbasis bukti untuk mendukung peningkatan kualitas kesehatan masyarakat.
Kepada generasi muda Indonesia yang bercita-cita menjadi peneliti, Aqsa berpesan agar tidak takut memulai dan terus menjaga semangat belajar.
“Jangan pernah takut untuk memulai penelitian meskipun dari hal-hal yang sederhana. Teruslah belajar, terbuka terhadap kritik, dan bangun kolaborasi. Prestasi bukan dicapai karena bekerja sendiri, tetapi karena mau terus berkembang bersama. Jadikan penelitian sebagai jalan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat, bukan hanya untuk memperoleh penghargaan,” pesannya. (Komunikasi Publik/ UNDIP/ Humas FK, ed. Nurul)







