Dari Rumah ke Rumah, Seorang Ibu Antarkan Putrinya Menuju Kampus

Our Story

03 Agustus 2026 | 09.45 WIB

Dari Rumah ke Rumah, Seorang Ibu Antarkan Putrinya Menuju Kampus

SERANG — Septhie Yanti tahu betul bahwa kuliah bukan sekadar tentang keinginan, tetapi juga tentang kesempatan. Sebagai anak tunggal dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi, langkahnya menuju perguruan tinggi sempat berada di ujung ketidakpastian.

Mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) itu merupakan sarjana pertama di keluarganya. Sang ibu, Sutihat, bekerja sebagai asisten rumah tangga dari rumah ke rumah untuk memastikan putri satu-satunya tetap dapat melanjutkan pendidikan.

Saat mendaftar kuliah melalui jalur SNBT, Septhie menyadari satu hal: keberlanjutan pendidikannya sangat bergantung pada diterima atau tidaknya sebagai penerima KIP-Kuliah.

“Kalau misalkan tidak ada bantuan dari KIP-K tersebut, saya sendiri bingung melanjutkannya.”

Ketika akhirnya dinyatakan lolos sebagai penerima KIP-K, kekhawatiran itu perlahan berubah menjadi semangat. Bagi Septhie, KIP-K bukan sekadar bantuan biaya pendidikan, tetapi menjadi jembatan untuk mewujudkan cita-cita.

“Karena ada bantuan, jadi kayak tidak melangkah sendiri. Dan saya bersemangat buat belajar.”

Semangat tersebut kemudian ia buktikan melalui prestasi. Di bidang seni sastra, Septhie berhasil meraih Juara 3 seleksi Peksiminas tingkat universitas. Ia juga aktif mengikuti berbagai kegiatan, termasuk sosialisasi ke sekolah-sekolah untuk berbagi informasi mengenai kesempatan pendidikan kepada siswa lainnya.

Bagi Septhie, kesempatan yang diterimanya perlu diteruskan menjadi manfaat bagi orang lain.

“Saya berusaha untuk diri saya sendiri, mempertahankan IPK, ikut berlomba, menciptakan prestasi. Kemarin juga semester satu, saya pernah ikut sosialisasi ke sekolah-sekolah. Itu juga langsung berdampak ke masyarakat.”

Dari Perjuangan Seorang Ibu

Di balik langkah Septhie menuju perguruan tinggi, ada perjuangan panjang sang ibu, Sutihat.

Sebagai orang tua tunggal, Sutihat bekerja sebagai asisten rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan keluarga sekaligus mendukung pendidikan putrinya. KIP-K menjadi bantuan yang sangat berarti bagi keluarga mereka.

“Dengan adanya KIP, saya benar-benar bersyukur. Sangat-sangat membantu, alhamdulillah.”

Bagi Sutihat, keberhasilan Septhie bukan hanya tentang menyelesaikan pendidikan tinggi. Ia ingin melihat putrinya sukses meski harus berjuang dengan segala keterbatasan.

Ia pun berharap semakin banyak anak dari keluarga yang membutuhkan mendapatkan kesempatan serupa.

“Semoga anak saya bisa mempergunakannya sebaik mungkin. Dengan keterbatasan saya, saya ingin melihat anak sukses.”

Jangan Takut Mencoba

Kini, Septhie ingin kisahnya menjadi penyemangat bagi anak-anak lain yang memiliki mimpi untuk melanjutkan pendidikan, tetapi masih ragu karena keterbatasan ekonomi.

Pesannya sederhana:

“Pokoknya jangan takut untuk mencoba. Karena kalau kita sudah berusaha, insya Allah ada jalannya.”

Kisah Septhie dan ibunya menunjukkan bahwa KIP-Kuliah bukan hanya tentang bantuan pendidikan, tetapi tentang membuka jalan bagi mereka yang hampir tidak bisa melangkah—agar mimpi tetap memiliki kesempatan untuk tumbuh.

DiktisaintekBerdampak

Kampus Berdampak

Jawara Berdampak

Untirta Jawara

Untirta

/

5

Rate Now