PALEMBANG — Universitas Sriwijaya (UNSRI) berkolaborasi dengan Universitas Hasanuddin (UNHAS) dan Universitas Diponegoro (UNDIP) dalam Program KITA SEBAYA (Kolaborasi, Inovatif, Transformasi, dan Aksi Sebaya) untuk memperkuat upaya pencegahan HIV pada remaja. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat Kolaborasi Indonesia tersebut dilaksanakan di SMA Negeri 1 Unggulan Indralaya Utara, Rabu (29/7/2026).
Program ini dirancang untuk meningkatkan pengetahuan sekaligus kapasitas, efikasi diri, dan keterampilan remaja dalam mengambil keputusan terkait kesehatan. Pendekatan yang digunakan mengintegrasikan kesehatan masyarakat, promosi kesehatan, ilmu perilaku, pendidikan kesehatan, pemberdayaan remaja, serta pemanfaatan teknologi digital.
Ketua Pelaksana Program KITA SEBAYA, Prof. Dr. Rico Januar Sitorus, S.K.M., M.Kes. (Epid), mengatakan remaja memiliki posisi strategis dalam upaya pencegahan HIV. Menurutnya, remaja perlu ditempatkan bukan hanya sebagai penerima informasi, tetapi juga sebagai agen perubahan di lingkungan sebaya.
“Remaja tidak seharusnya hanya ditempatkan sebagai penerima informasi kesehatan. Mereka memiliki kapasitas untuk menjadi agen perubahan di lingkungan sebayanya. Karena itu, KITA SEBAYA dirancang untuk membangun pengetahuan sekaligus meningkatkan kemampuan remaja dalam mengomunikasikan pesan pencegahan HIV secara tepat, ilmiah, dan tidak menstigmatisasi,” tegasnya.
Ia menambahkan, kolaborasi tiga perguruan tinggi memberikan nilai tambah dalam menghadirkan intervensi kesehatan masyarakat yang lebih kontekstual dan berkelanjutan.
“Kolaborasi antara Universitas Sriwijaya, Universitas Hasanuddin, dan Universitas Diponegoro menunjukkan bahwa persoalan kesehatan masyarakat membutuhkan kerja bersama lintas institusi dan lintas keahlian. Melalui kolaborasi ini, kita berupaya menggabungkan kekuatan akademik, pengalaman, dan inovasi untuk menghasilkan intervensi yang lebih kontekstual dan berkelanjutan,” tambah Prof. Rico.
Perkuat Peran Remaja sebagai Pendidik Sebaya
KITA SEBAYA menerapkan pendekatan peer-led intervention, dengan menempatkan remaja sebagai subjek sekaligus agen perubahan dalam upaya pencegahan HIV di lingkungan sekolah dan kelompok sebayanya.
Pendekatan tersebut tidak hanya berfokus pada peningkatan pengetahuan, tetapi juga membangun sikap, efikasi diri, keterampilan komunikasi, kemampuan menyaring informasi, serta kesadaran untuk mengurangi stigma terhadap HIV.
Rangkaian kegiatan diawali dengan pre-test untuk mengukur pengetahuan awal peserta mengenai HIV/AIDS. Selanjutnya, peserta mendapatkan pengenalan Program KITA SEBAYA yang disampaikan Prof. Rico Januar Sitorus bersama Beka Purnama, S.K.M.
Materi mengenai HIV/AIDS kemudian disampaikan oleh Farida Kumalasari, S.K.M., M.K.M. Sementara itu, Rotua Lenawati Tindaon, SST., S.Keb., Bdn., M.Kes., memberikan materi “Pendidik Sebaya: Melawan Stigma, Merangkul Sesama”.
Materi tersebut menekankan pentingnya peran pendidik sebaya dalam membangun lingkungan sekolah yang suportif, terbuka, dan bebas dari stigma. Edukasi HIV, menurut tim pelaksana, perlu berjalan beriringan dengan upaya meluruskan informasi yang keliru dan mengurangi prasangka terhadap orang dengan HIV.
Peserta juga mendapatkan materi mengenai efikasi diri dalam pencegahan HIV di sekolah yang disampaikan M. Cholil Munadi, S.Psi., M.K.M. Materi ini membekali remaja dengan pemahaman mengenai pentingnya keyakinan terhadap kemampuan diri dalam mengambil keputusan sehat, menghadapi tekanan sosial, menyaring informasi, dan berkomunikasi secara efektif.
Edukasi Berlanjut melalui Teknologi Digital
Untuk memperluas jangkauan edukasi, KITA SEBAYA juga memanfaatkan Website KITA SEBAYA sebagai media pembelajaran dan pendampingan digital.
dr. Danny K. Aerosta, M.K.M., menjelaskan bahwa website tersebut dirancang untuk membantu remaja memperoleh informasi kesehatan yang kredibel sekaligus mendukung proses pendampingan selama enam minggu setelah kegiatan tatap muka.
“Teknologi kita gunakan sebagai instrumen untuk memperkuat pemberdayaan. Website KITA SEBAYA diharapkan menjadi ruang belajar yang dapat diakses remaja secara lebih fleksibel, sehingga proses edukasi tidak berhenti pada satu kali pertemuan, tetapi dapat berlanjut melalui pendampingan,” ujarnya.
Pemanfaatan teknologi tersebut menjadi bagian dari transformasi promosi kesehatan, sehingga proses edukasi dan pendampingan dapat berlangsung secara lebih fleksibel dan berkelanjutan.
Kegiatan ditutup dengan post-test dan evaluasi yang dipandu Farida Kumalasari. Tahap ini dilakukan untuk melihat perubahan pengetahuan peserta setelah mengikuti rangkaian intervensi.
Dukung SDGs dan Penguatan SDM
Program KITA SEBAYA sejalan dengan sejumlah tujuan dalam Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3: Good Health and Well-being dan Target 3.3 terkait upaya mengakhiri epidemi AIDS serta penyakit menular lainnya.
Program ini juga mendukung SDG 4: Quality Education melalui penguatan literasi kesehatan dan keterampilan hidup remaja, serta SDG 10: Reduced Inequalities melalui upaya mengurangi kesenjangan informasi kesehatan dan stigma terhadap HIV.
Sementara itu, kolaborasi UNSRI, UNHAS, dan UNDIP menjadi bentuk implementasi SDG 17: Partnerships for the Goals, sekaligus memperkuat sinergi perguruan tinggi dalam menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi.
Melalui KITA SEBAYA, perguruan tinggi tidak hanya menghadirkan edukasi mengenai HIV, tetapi juga mendorong terbentuknya remaja yang memiliki pengetahuan, keterampilan, dan kepercayaan diri untuk mengambil keputusan kesehatan yang tepat.
Program ini diharapkan dapat berkembang menjadi gerakan pemberdayaan remaja yang berkelanjutan dalam meningkatkan literasi kesehatan, mengurangi stigma, dan memperkuat upaya pencegahan HIV. Langkah tersebut sekaligus menjadi bagian dari investasi dalam membangun sumber daya manusia yang sehat, produktif, dan berkualitas menuju Indonesia Emas 2045.





