UNSRI Perkuat Jejaring Global melalui Kolaborasi DAAD dan EURAXESS untuk Peluang Studi serta Riset Internasional

Our Campus

06 May 2026 | 17.30 WIB

UNSRI Perkuat Jejaring Global melalui Kolaborasi DAAD dan EURAXESS untuk Peluang Studi serta Riset Internasional
Universitas Sriwijaya (UNSRI) menerima kunjungan dari DAAD Regional Office Jakarta dan perwakilan EURAXESS Worldwide untuk kegiatan courtesy call sekaligus sosialisasi peluang studi dan riset di Jerman. Kegiatan ini berlangsung di Kampus UNSRI Bukit Besar, Palembang, Rabu (6/5/2026). 

Agenda diawali dengan courtesy call antara pimpinan UNSRI dan Delegasi DAAD yang berlangsung di Ruang Rapat 1 Kantor Pusat Administrasi (KPA) UNSRI. Kegiatan ini dihadiri oleh Pimpinan UNSRI yakni para Wakil Rektor, Dekan, Direktur, Subdirektur, Ketua LPPM, dan juga melibatkan alumni DAAD di lingkungan UNSRI. 

Kegiatan dilanjutkan dengan seminar hybrid yang diikuti dosen dan mahasiswa pascasarjana dilaksanakan di Ruang Djuaini Mukti, Lembaga Bahasa UNSRI. Acara dibuka oleh Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerja Sama, Internasionalisasi, dan Alumni UNSRI, Prof. Ir. Eng. Joni Arliansyah, M.T. Dalam sambutannya menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Dr. Guido Schnieders, Dr. Tatas Brotosudarmo, dan Olivia J. Sopacua atas kunjungannya ke kampus UNSRI. Ia menegaskan pentingnya penguatan jejaring global melalui kolaborasi riset dan pendidikan. 

“Courtesy Call ini merupakan momentum strategis untuk mensosialisasikan program beasiswa DAAD, serta inisiatif EURAXESS-ASEAN dan Horizon Europe, yang sangat penting bagi pengembangan riset internasional di UNSRI,” ujarnya. 

Ia juga mengatakan bahwa kekuatan utama UNSRI terletak pada sumber daya manusia dan jaringan alumni internasional. "Modal utama dalam membangun hubungan ini terletak pada kualitas sumber daya manusia kami. UNSRI bangga memiliki dosen dan peneliti yang merupakan alumni dari berbagai universitas terkemuka di Jerman. Jaringan alumni ini menjadi jembatan hidup yang sangat penting dalam memperkuat koneksi akademik dan riset antara UNSRI dengan berbagai institusi di Jerman dan Eropa," Kata Prof Joni. 

Selain itu, Prof Joni juga menyoroti besarnya peluang pendanaan riset dari Eropa, termasuk program Horizon Europe 2026–2027 yang memiliki nilai investasi mencapai 14 miliar euro untuk mendukung riset global, kecerdasan buatan, dan ketahanan iklim. 

Melalui dukungan DAAD dan pemanfaatan platform EURAXESS ASEAN, UNSRI menargetkan keterlibatan aktif dalam berbagai skema internasional seperti Marie Skłodowska-Curie Actions (MSCA) dan European Research Council (ERC), khususnya dalam bidang pangan, energi, dan kesehatan.

Sebagai langkah konkret, UNSRI telah menyiapkan sejumlah program, di antaranya Program Dosen Tamu Jangka Pendek dan Jangka Panjang dengan menghadirkan profesor dari Jerman melalui skema pendanaan DAAD. Selain itu, UNSRI juga mendorong pemanfaatan hibah DAAD Alumni Grant serta melakukan pemetaan peluang riset bersama EURAXESS ASEA.

UNSRI juga berharap dukungan dari DAAD dan EURAXESS dalam memberikan pendampingan intensif bagi para dosen. “Fokus kami adalah meningkatkan kualitas proposal riset serta memperluas jejaring, sehingga setiap peluang kolaborasi dapat menghasilkan luaran yang berdampak dan berkelanjutan bagi kemajuan ilmu pengetahuan, baik di tingkat nasional maupun global,” Pungkas Prof Joni.

Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, Inovasi, Hilirisasi, dan Teknologi Informasi, Prof. Dr. dr. Radiyati Umi Partan, SpPD-KR, M.Kes, menyampaikan bahwa kunjungan ini memiliki arti penting dalam mendorong regenerasi akademisi UNSRI agar lebih aktif di tingkat global.

“Kunjungan ini sangat berarti bagi kami. Jerman telah menjadi bagian penting dalam perjalanan akademik banyak dosen UNSRI. Beberapa dosen di Universitas Sriwijaya adalah alumni universitas-universitas di Jerman. Mereka memiliki kesempatan untuk belajar, melakukan penelitian, dan membangun jaringan akademis di Jerman. Melalui pengalaman tersebut, mereka memperoleh perspektif yang berharga, terutama dalam budaya akademis dan penelitian. Namun ke depan, kami ingin lebih banyak dosen muda yang mendapatkan kesempatan studi dan riset di Jerman,” ungkapnya.

Ia juga menyoroti sejumlah tantangan yang dihadapi, terutama dalam mempersiapkan dosen muda untuk mengakses peluang internasional.
“Kami sangat tertarik untuk belajar dari DAAD. Pertama, bagaimana kita dapat mempersiapkan dosen muda kita dengan lebih baik untuk mengajukan beasiswa? Kedua, bagaimana kita dapat membantu mereka menemukan pembimbing, kelompok riset, dan universitas mitra di Jerman? Ketiga, bagaimana kita dapat mendorong lebih banyak studi doktoral, penelitian pascadoktoral, pembimbingan dan penelitian bersama antara UNSRI dan lembaga-lembaga Jerman?” ujar Prof Radiyati. 
Lebih jauh Prof Radiyati mengatakan, UNSRI memiliki potensi penelitian yang kuat di beberapa bidang strategis, khususnya di bidang pertanian, ilmu kedokteran dan kesehatan, sistem pangan, lahan basah, lingkungan, keanekaragaman hayati, energi, dan pembangunan berkelanjutan.

“Area-area ini terkait erat dengan kebutuhan dan karakteristik Sumatera Selatan. Meskipun sangat relevan dengan prioritas penelitian regional dan global, kami percaya tren ini dapat menjadi kunci dan diperlukan untuk kolaborasi akademis dan penelitian yang lebih luas, tidak hanya dengan universitas-universitas Jerman, tetapi juga dengan universitas dan lembaga penelitian di seluruh Asia dan Eropa,” tambahnya.

Director of the DAAD Regional Office Jakarta, Dr. Guido Schnieders memaparkan materi mengenai peluang riset dan pendanaan studi di Jerman untuk jenjang magister, doktor, hingga postdoktoral. Ia juga memaparkan berbagai skema pendanaan yang tersedia, mulai dari beasiswa individu hingga hibah kolaborasi riset antar institusi. Ia menegaskan bahwa kunci utama kerja sama bukan hanya pendanaan, tetapi juga kekuatan ide dan jaringan.

“Kolaborasi akademik di Jerman tidak didasarkan pada bisnis, tetapi pada kesamaan minat riset. Jika ide Anda kuat dan relevan, maka peluang kerja sama akan terbuka luas,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa DAAD memiliki banyak program pendanaan proyek kolaboratif yang dapat dimanfaatkan oleh perguruan tinggi di Indonesia.
“Kami bahkan mengalokasikan lebih banyak dana untuk proyek kolaborasi dibandingkan beasiswa individu. Ini adalah peluang besar bagi universitas untuk membangun program bersama dengan mitra di Jerman,” katanya.

Kegiatan ini juga menghadirkan K.R.M.H. Tatas Hardo Panintingjati Brotosudarmo, Ph.D., perwakilan EURAXESS ASEAN, yang berbagi wawasan mengenai pengalaman pendidikan tinggi di Jerman serta peluang kolaborasi riset internasional.

Dalam kesempatan itu, ia menjelaskan peluang keterlibatan UNSRI dalam program pendanaan Uni Eropa melalui Horizon Europe.

“Untuk mendapatkan pendanaan dari Uni Eropa, kunci utamanya adalah membangun konsorsium internasional. Kolaborasi dengan institusi di Jerman dapat menjadi pintu masuk strategis bagi UNSRI,” jelasnya.

Ia juga mendorong UNSRI untuk mulai mempersiapkan proposal riset sejak dini dan aktif menjalin kemitraan global. “Semakin spesifik topik riset yang disiapkan, semakin besar peluang untuk mendapatkan pendanaan. Yang penting adalah kesiapan tim dan jaringan kolaborator,” tambahnya.

Kegiatan tersebut diisi juga dengan sesi diskusi yang berlangsung interaktif dengan dimoderatori oleh Dr.phil. Ir Arinafril, dosen Fakultas Pertanian UNSRI sekaligus alumni DAAD. Para peserta yang terdiri dari dosen dan mahasiswa pascasarjana memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menggali informasi lebih dalam terkait persyaratan, peluang pendanaan, serta strategi membangun jejaring riset global. (Humas_UNSRI)

@diktisaintekberdampak

@unsriberdampak

/

5

Rate Now