MAKASSAR — Dua puluh mahasiswa penyandang disabilitas memulai pendidikan tinggi di Universitas Hasanuddin pada 2026. Mereka tersebar di 12 program studi dan berasal dari sejumlah daerah di Sulawesi maupun luar Sulawesi.
Jumlah itu merupakan bagian dari upaya Universitas Hasanuddin atau Unhas memperluas akses pendidikan tinggi bagi penyandang disabilitas. Sejak Pusat Disabilitas Unhas berdiri pada 2023, sebanyak 70 mahasiswa disabilitas telah diterima di berbagai program studi, termasuk jenjang magister.
Penerimaan tahun ini yang keempat kalinya Unhas secara sistemik membuka akses bagi mahasiswa disabilitas. Dari 20 mahasiswa baru tersebut, 12 merupakan penyandang disabilitas fisik, enam penyandang disabilitas sensorik pendengaran atau Tuli dan hard of hearing, satu penyandang disabilitas mental psikososial, serta satu penyandang disabilitas mental perkembangan.
Mereka masuk melalui dua jalur. Sebanyak 13 mahasiswa diterima melalui Jalur Mandiri Afirmasi Disabilitas, sedangkan tujuh lainnya melalui SNBP dan SNBT.
Sebaran mahasiswa tersebut menunjukkan kebutuhan layanan inklusif yang tidak berhenti pada proses penerimaan. Di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, misalnya, terdapat lima mahasiswa yang diterima di program studi Administrasi Publik, Ilmu Pemerintahan, Ilmu Politik, Antropologi, dan Ilmu Komunikasi. Empat mahasiswa lainnya tersebar di sejumlah program studi di Fakultas Ekonomi dan Bisnis.
Mahasiswa lainnya diterima di Fakultas Ilmu Budaya, Fakultas Peternakan, Fakultas Kedokteran, Fakultas Hukum, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, serta Fakultas Vokasi.
Rektor Unhas, Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, mengatakan penerimaan mahasiswa disabilitas harus berjalan beriringan dengan kesiapan lingkungan akademik. Menurut dia, membuka akses masuk perguruan tinggi saja tidak cukup jika mahasiswa tidak memperoleh dukungan selama menjalani proses pendidikan.
“Kita membuka akses pendidikan bagi mahasiswa disabilitas, kemudian memastikan proses belajar mereka berlangsung dengan dukungan yang sesuai untuk Unhas sebagai kampus inklusif,” kata Jamaluddin dalam penerimaan mahasiswa baru Unhas 2026, Selasa, 11 Agustus 2026.
Unhas mulai membenahi sejumlah aspek pendukung pembelajaran. Fasilitas fisik dilengkapi dengan ramp, toilet aksesibel, area parkir khusus, dan penanda aksesibilitas. Akses antarruang juga terus dikembangkan, termasuk jalur horizontal dan vertikal serta penggunaan lift pada bangunan bertingkat.
Di ruang kelas, kebutuhan mahasiswa disabilitas juga mulai diakomodasi melalui metode pembelajaran yang lebih adaptif. Sejumlah dosen menggunakan real-time closed caption melalui Zoom dan Google Teams untuk mahasiswa Tuli. Penyesuaian waktu belajar juga dilakukan berdasarkan kebutuhan mahasiswa.
Lembaga Penjaminan Mutu dan Pengembangan Pendidikan Unhas tengah menyusun pedoman pembelajaran inklusif. Pedoman tersebut diharapkan menjadi acuan bagi dosen dalam merancang proses pembelajaran yang dapat mengakomodasi kebutuhan mahasiswa disabilitas.
Dukungan komunikasi juga diperkuat. Unhas saat ini memiliki tiga juru bahasa isyarat dan 10 relawan isyarat. Pusat Disabilitas Unhas turut menginisiasi pembelajaran bahasa isyarat bagi sivitas akademika.
Jamaluddin mengatakan layanan inklusif tidak dapat bergantung pada inisiatif individu atau unit tertentu. Sistem di tingkat fakultas dan departemen perlu memiliki kemampuan untuk memberikan akomodasi yang sesuai.
“Penyediaan layanan inklusif membutuhkan sistem yang konsisten. Kita perlu memastikan setiap fakultas dan departemen memiliki kapasitas untuk memberikan akomodasi yang sesuai dengan kebutuhan mahasiswa,” ujar dia.
Selain layanan akademik dan fasilitas, Unhas mengembangkan agenda riset mengenai disabilitas melalui Disability Research Group. Pendekatan tersebut merupakan bagian dari upaya universitas menempatkan isu disabilitas bukan semata sebagai persoalan layanan mahasiswa, tetapi juga sebagai bagian dari pengembangan pengetahuan dan budaya akademik.
“Inklusivitas ini kami bangun melalui kebijakan, fasilitas, pembelajaran, riset, dan budaya akademik,” kata Jamaluddin.
Pada penerimaan mahasiswa baru tahun ini, simbol komitmen tersebut terlihat ketika Jamaluddin menyematkan jas almamater kepada Muhammad Ali Syariati, mahasiswa asal Pinrang yang merupakan penyandang cerebral palsy.
Penyematan jas almamater itu penanda dimulainya perjalanan akademik Ali bersama mahasiswa lainnya. Bagi Unhas, penerimaan mahasiswa disabilitas bukan sekadar menambah jumlah mahasiswa dari kelompok yang selama ini menghadapi hambatan akses pendidikan, melainkan bagian dari upaya membangun lingkungan kampus yang memungkinkan setiap mahasiswa belajar dan berkembang secara setara.
Langkah tersebut sekaligus bagian dari komitmen Unhas terhadap SDG 4 tentang pendidikan berkualitas dan SDG 10 tentang pengurangan kesenjangan, dalam upayanya menuju kampus yang lebih inklusif dan berorientasi pada standar World Class University.
Copywriter : Andi Muhammad Syafrizal
Editor :Ishaq Rahman







