Tangani Air Keruh dan Drainase Tergenang, TEP UNDIP Petakan Sanitasi Woslay Papua

Our Campus

26 September 2026 | 20.30 WIB

Tangani Air Keruh dan Drainase Tergenang, TEP UNDIP Petakan Sanitasi Woslay Papua

UNDIP, Senggi Kabupaten Keerom (26/9) – Penanganan dan perbaikan fasilitas sanitasi dan ketersediaan air bersih menjadi fokus utama dalam upaya peningkatan kualitas hidup masyarakat di Kawasan Transmigrasi. Untuk memahami secara langsung kondisi dan kebutuhan warga, Tim Ekspedisi Patriot Universitas Diponegoro (TEP UNDIP) Tim 18 menggelar survei sanitasi secara langsung dari rumah ke rumah di Woslay SP 1 dan SP 2, Distrik Senggi, Kabupaten Keerom, Papua.

Pendekatan secara langsung ini dinilai penting karena indikator sanitasi yang sehat tidak sekadar diukur dari ketersediaan fisik fasilitas, melainkan dari cara fasilitas tersebut difungsikan dan dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari. Berdasarkan pengamatan di lapangan, tim menemukan bahwa kondisi sanitasi di Woslay berkaitan erat dengan ketersediaan air bersih, penggunaan jamban sehat yang layak, pengelolaan air limbah rumah tangga dan sistem drainase permukiman.

Sanitasi yang sehat pada hakikatnya berawal dari lingkungan rumah tangga, yaitu saat air bersih tercukupi dengan baik, jamban berfungsi optimal, dan air limbah tidak dibiarkan menggenang di sekitar tempat tinggal. Namun, dari hasil interaksi dan kunjungan lapangan, sebagian besar warga menyuarakan aspirasi terkait kebutuhan akan pasokan air bersih yang mencukupi. Pada beberapa titik lokasi, ketersediaan air masih sangat terbatas, belum terjamin sepanjang tahun, dan secara visual menunjukkan kondisi yang keruh.

Kondisi tersebut diamini oleh salah satu warga setempat, Martina, yang menceritakan tantangan kebutuhan air di keluarganya. Ia mengungkapkan bahwa air yang digunakan sehari-hari kerap terlihat keruh. Persoalan air di kawasan Woslay tidak hanya terbatas pada kuantitas pemenuhan saja, melainkan juga menyangkut kualitas air yang dikonsumsi masyarakat. “Saya berharap dapat mengakses pasokan air bersih yang jauh lebih layak dan mudah dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” ungkap Martina.

Dari aspek penggunaan jamban, perkembangan positif justru ditunjukkan oleh kesadaran masyarakat setempat. Tenaga kesehatan dari Puskesmas Senggi, Nurelyanti, menyampaikan bahwa tingkat partisipasi warga telah menunjukkan kemajuan signifikan. Berdasarkan pemantauan dan hasil survei di lokasi, sebanyak 100% responden yang terdata telah memanfaatkan jamban leher angsa.

Capaian positif ini menjadi modal sosial yang berharga dalam membangun fondasi sanitasi rumah tangga yang sehat. Meski demikian, penggunaan jamban harus diimbangi dengan ketersediaan air yang cukup, keberadaan septic tank yang aman dan terstandar, serta sistem pembuangan air limbah yang tidak mencemari lingkungan sekitar.

Di sisi lain, persoalan kelayakan saluran pembuangan air limbah masih menjadi tantangan yang belum terselesaikan sepenuhnya. Lamuji, salah seorang warga Woslay, menjelaskan bahwa mayoritas saluran air limbah rumah tangga di kawasannya masih dibuat secara mandiri dengan menggali tanah sebagai jalur pembuangan sederhana.

Kondisi saluran tanah ini belum memenuhi kriteria sanitasi yang layak karena rentan mengalami pendangkalan, cepat ditumbuhi rumput liar, tersumbat sedimen, hingga mengakibatkan air limbah sisa tergenang di sekitar area rumah. “Warga disini sangat membutuhkan pembangunan saluran drainase yang lebih tertata agar air limbah dapat mengalir lancar dan kebersihan lingkungan rumah tetap bersih,” ungkap Lamuji.

Rangkaian temuan lapangan ini menegaskan bahwa penanganan sanitasi di wilayah Woslay harus ditangani sebagai satu kesatuan. Penyediaan pasokan air bersih, pemanfaatan jamban yang layak, penyediaan septic tank yang aman, hingga perbaikan infrastruktur saluran pembuangan air limbah perlu diintervensi secara beriringan. Melalui perbaikan menyeluruh ini, lingkungan permukiman warga di Senggi diharapkan menjadi area yang bersih, sehat, dan nyaman bagi masyarakat.

Kegiatan TEP UNDIP Tim 18 ini merupakan komitmen dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) melalui penataan lingkungan yang higienis, SDG 6 (Air Bersih dan Sanitasi Layak) melalui peningkatan akses air bersih dan sanitasi terpadu, dan SDG 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan) guna mewujudkan kawasan transmigrasi yang bersih, sehat, dan nyaman. (Komunikasi Publik/UNDIP)

DiktisaintekBerdampak

UNDIP

/

5

Rate Now