Riset Perguruan Tinggi Jadi Kunci Penguatan Kemandirian Pangan dan Kesehatan Nasional

News

08 November 2026 | 21.00 WIB

Riset Perguruan Tinggi Jadi Kunci Penguatan Kemandirian Pangan dan Kesehatan Nasional

Surabaya — Ketergantungan Indonesia terhadap produk impor di sektor pangan dan kesehatan perlu menjadi salah satu titik berangkat pengembangan riset nasional. Perguruan tinggi memiliki kapasitas untuk menjawab kebutuhan tersebut melalui penelitian yang berorientasi pada persoalan nyata, pengembangan teknologi, hingga menghasilkan produk yang dapat dimanfaatkan industri dan masyarakat. Karena itu, riset perlu diarahkan untuk mengisi celah produksi dalam negeri sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku dan produk impor.


Persoalan tersebut menjadi salah satu perhatian Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan (Dirjen Risbang) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), Fauzan Adziman, dalam keynote speech pada kegiatan Industry Matching ASSIE IV 2026 di Surabaya, Jumat (6/11). Mengusung tema “Penguatan Sinergi Pentahelix untuk Mendorong Inovasi dan Hilirisasi dalam Mewujudkan Kemandirian serta Kedaulatan Kesehatan dan Pangan Nasional”, kegiatan yang diselenggarakan Pusat Akselerasi Inovasi dan Bisnis (PASINBIS) Universitas Airlangga ini menjadi ruang pertemuan antara perguruan tinggi, industri, pemerintah, dan mitra usaha untuk mempertemukan kebutuhan industri dengan potensi hasil riset perguruan tinggi.


Dalam sektor pangan, salah satu pijakan pengembangan riset adalah membaca kebutuhan nasional melalui proyeksi neraca pangan. Data proyeksi neraca pangan 11 komoditas tahun 2026 dari Kementerian Pertanian menunjukkan bahwa bawang putih, kedelai, dan daging sapi/kerbau masih mengalami defisit produksi. Kondisi ini memperlihatkan ruang bagi perguruan tinggi untuk mengembangkan riset yang dapat memperkuat kapasitas produksi dalam negeri, mulai dari pengembangan benih dan bibit unggul, teknologi budidaya, hingga pengolahan dan distribusi hasil pangan.


Kebutuhan tersebut juga terlihat pada bahan baku industri. Jawa Timur, misalnya, memiliki kapasitas produksi yang besar pada sejumlah komoditas, seperti padi, gula, susu, dan garam. Namun, Indonesia masih mengimpor sekitar 4,4 juta ton gula mentah untuk kebutuhan industri, sekitar 80 persen bahan baku industri susu, serta 2,6 juta ton garam per tahun. Ketergantungan impor kedelai juga masih mencapai sekitar 95 persen dari kebutuhan nasional. Kesenjangan antara kapasitas produksi dan kebutuhan industri ini menjadi peluang bagi perguruan tinggi untuk mengembangkan riset pengolahan dan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan industri dalam negeri.


Kontribusi perguruan tinggi dalam memperkuat ketahanan pangan tidak terbatas pada peningkatan produksi. Riset dapat dilakukan di setiap tahapan rantai pasok, mulai dari penyediaan benih dan varietas unggul, inovasi pupuk dan nutrisi tanaman, mekanisasi pertanian, hingga pengembangan sistem pergudangan, distribusi, serta teknologi pascapanen. Penguatan pada berbagai tahapan tersebut diperlukan agar hasil riset mampu menjawab hambatan produksi sekaligus meningkatkan efisiensi dan nilai tambah komoditas pangan.


Selain kesenjangan produksi dan kebutuhan industri, persoalan kesehatan masyarakat juga perlu menjadi agenda riset perguruan tinggi. Di Jawa Timur, prevalensi stunting tercatat sebesar 14,7 persen pada 2024. Meski menjadi salah satu capaian terbaik secara nasional, masih terdapat 430.780 anak yang mengalami stunting. Pada saat yang sama, Jawa Timur mencatat 116.752 kasus tuberkulosis pada 2024, tertinggi kedua secara nasional, dengan Surabaya sebagai daerah dengan jumlah lokus TBC terbanyak di provinsi tersebut, yakni 725 dari total 5.766 lokus. Persoalan-persoalan ini menunjukkan pentingnya riset yang berangkat dari kebutuhan masyarakat dan diarahkan untuk menghasilkan solusi yang dapat diterapkan.


Besarnya kebutuhan di sektor kesehatan juga tercermin dari belanja kesehatan nasional yang meningkat hampir dua kali lipat dalam satu dekade, dari Rp324,6 triliun menjadi Rp639,9 triliun pada 2025. Besarnya belanja tersebut sekaligus menunjukkan potensi pasar bagi produk kesehatan dalam negeri. Karena itu, pengembangan riset perlu terhubung dengan kebutuhan industri dan layanan kesehatan agar hasil penelitian dapat dimanfaatkan serta menjadi bagian dari upaya mengurangi ketergantungan terhadap produk impor.


Pengalaman pengembangan bahan baku obat menunjukkan bahwa upaya mengurangi ketergantungan impor dapat dilakukan secara bertahap. Pada 2026, ketergantungan impor bahan baku obat telah turun dari sebelumnya di atas 90 persen menjadi sekitar 70–80 persen. Sebanyak 35 jenis bahan baku aktif obat atau active pharmaceutical ingredients (API) juga telah diproduksi di dalam negeri. Capaian ini menjadi pijakan untuk memperluas pengembangan produk kesehatan lainnya, termasuk produk biologis dan alat kesehatan yang masih memiliki tingkat ketergantungan impor tinggi.


Perguruan tinggi telah menunjukkan bahwa riset dapat dikembangkan hingga menghasilkan produk yang dimanfaatkan masyarakat dan industri. Di Universitas Airlangga, salah satu contohnya adalah INAVAC atau Vaksin Merah Putih yang dikembangkan dari riset hulu dan diproduksi oleh PT Biotis. Contoh lainnya adalah AirBiliNest, perangkat fototerapi portabel untuk bayi dengan penyakit kuning yang dikembangkan oleh Fakultas Kedokteran UNAIR dan kini telah diproduksi secara massal melalui kerja sama dengan mitra industri. Di bidang pangan, riset UNAIR juga menghasilkan gelatin halal berbasis rumput laut sebagai alternatif pengganti gelatin impor.


Pengembangan hasil riset hingga dapat dimanfaatkan secara luas memerlukan kesinambungan proses, mulai dari penciptaan pengetahuan, pengembangan teknologi, validasi dan pembuatan prototipe, hingga penciptaan pasar dan komersialisasi. Dengan demikian, arah penelitian perlu semakin memperhatikan kebutuhan pasar dan masyarakat sejak awal, sehingga hasilnya memiliki peluang lebih besar untuk diterapkan dan dikembangkan bersama industri.


Melalui kegiatan Industry Matching ASSIE IV 2026, Kemdiktisaintek melihat pentingnya ruang kolaborasi yang mempertemukan perguruan tinggi dengan industri dan mitra strategis. Pertemuan tersebut diharapkan dapat memperkuat pemanfaatan hasil riset, membuka peluang kerja sama, serta mempercepat hilirisasi inovasi perguruan tinggi. Dengan riset yang berangkat dari kebutuhan nasional dan didukung kolaborasi lintas sektor, perguruan tinggi dapat mengambil peran lebih besar dalam memperkuat kemandirian pangan dan kesehatan Indonesia.

/

5

Rate Now