Bandar Lampung – Di balik hiruk-pikuk jalanan Kota Bandar Lampung, tersimpan kisah perjuangan yang membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukan penghalang untuk meraih cita-cita. Mimpi besar itu kini menjadi kenyataan bagi Rinita Irawati, siswi asal SMA Negeri 1 Bandar Lampung yang berhasil lolos ke Fakultas Kedokteran Universitas Lampung melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) 2026.
Bagi keluarga Rinita, kabar tersebut menjadi kebahagiaan besar di tengah keterbatasan ekonomi. Putri tunggal dari Bukhori, seorang pengemudi ojek daring, dan Isnayini yang merupakan ibu rumah tangga itu berhasil membuktikan bahwa kerja keras dan ketekunan mampu membuka jalan menuju masa depan yang lebih baik.
Keputusan Rinita menjadikan Fakultas Kedokteran Unila sebagai pilihan utama akhirnya berbuah manis. Status “diterima” yang muncul pada pengumuman SNBP menjadi jawaban atas perjuangan panjang yang ia tempuh selama ini.
Perjalanan Rinita menuju bangku pendidikan kedokteran tidak dilalui dengan berbagai fasilitas belajar yang lengkap. Menyadari kondisi ekonomi keluarga, ia memilih belajar secara mandiri tanpa mengikuti bimbingan belajar berbayar. Ia memanfaatkan berbagai sumber pembelajaran yang tersedia, mulai dari materi di sekolah hingga kanal pembelajaran melalui platform digital.
“Saya belajar mandiri di rumah. Saya tidak les karena orang tua tidak mampu membiayai. Saya memaksimalkan apa yang ada di sekolah dan belajar sendiri melalui YouTube,” tuturnya.
Di balik keinginannya menjadi dokter, tersimpan alasan yang begitu personal. Rinita teringat kondisi neneknya di Kampung Carodok, Pandeglang, yang mengalami keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan akibat faktor ekonomi dan lokasi yang jauh dari fasilitas kesehatan.
“Saya ingin membuka praktik dan membantu masyarakat di kampung nenek saya. Di sana akses ke rumah sakit sangat sulit. Profesi dokter itu berharga bukan karena gelarnya, tetapi karena kemampuannya menolong banyak orang,” ungkapnya.
Di sisi lain, sang ayah, Bukhori, mengaku bangga atas pencapaian putrinya. Menurutnya, Rinita selama ini dikenal sebagai sosok yang tekun, disiplin, dan tidak pernah menyerah dalam mengejar cita-citanya.
“Kami selalu berpesan agar selalu jujur dan amanah. Kami hanya bisa memberikan motivasi dan doa, karena kami percaya usaha tidak akan mengkhianati hasil,” ujarnya.
Sementara itu, Rektor Universitas Lampung, Lusmeilia Afriani, menyampaikan bahwa kisah Rinita menjadi bukti bahwa akses pendidikan tinggi yang inklusif dapat membuka kesempatan yang sama bagi seluruh anak bangsa tanpa memandang latar belakang ekonomi.
“Unila adalah rumah bagi para pejuang mimpi. Kisah Rinita menjadi bukti bahwa proses seleksi dilakukan secara transparan dan benar-benar berbasis prestasi,” ujarnya.
Unila juga berkomitmen mendampingi perjalanan akademik Rinita melalui berbagai program dukungan pendidikan dan fasilitas akademik yang tersedia. Langkah tersebut diharapkan dapat membantu mahasiswa berprestasi mengembangkan potensinya secara optimal.
Kisah Rinita bukan sekadar tentang keberhasilan menembus bangku pendidikan kedokteran. Kisah ini menjadi gambaran tentang bagaimana kerja keras, dukungan keluarga, dan akses pendidikan yang terbuka dapat bertemu untuk menghadirkan harapan serta masa depan yang lebih baik.







