Mahasiswa KKN Tematik Gentaskin Batch 2 Resmi Ditarik, LLDIKTI XV Dorong Keberlanjutan Kolaborasi

News

02 September 2026 | 11.30 WIB

Mahasiswa KKN Tematik Gentaskin Batch 2 Resmi Ditarik, LLDIKTI XV Dorong Keberlanjutan Kolaborasi

Soe, 31 Agustus 2026, lldikti15kemdiktisaintek.go.id Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Generasi NTT Sehat, Kuat, dan Inklusif (Gentaskin) Batch 2 resmi ditarik setelah kurang lebih dua bulan melaksanakan berbagai program pengabdian di desa-desa sasaran. Kegiatan penarikan berlangsung di Kampus Institut Pendidikan Soe (IPS), Senin (31/8/2026), sekaligus menjadi momentum evaluasi dan refleksi atas pelaksanaan program di tengah masyarakat.

Kegiatan tersebut dihadiri Kepala LLDIKTI Wilayah XV Prof. Dr. Adrianus Amheka, S.T., M.Eng., Rektor Institut Pendidikan Soe Ared J. Billik, S.T., M.Si., para Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), unsur Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), camat, kepala desa, serta mahasiswa peserta KKN Tematik Gentaskin.

Program Gentaskin merupakan bentuk kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung upaya penanganan stunting dan pengentasan kemiskinan ekstrem melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, mahasiswa, dan masyarakat.

Penarikan mahasiswa KKN Tematik Gentaskin Batch 2 dilakukan secara serentak di 13 kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Timur, sebagai tanda berakhirnya masa penugasan mahasiswa di lokasi masing-masing. Namun, pelaksanaan penarikan di wilayah Flores dilakukan lebih awal menyusul bencana gempa yang berdampak pada sejumlah wilayah di daerah tersebut.

Dalam situasi tersebut, sebagian mahasiswa yang sebelumnya ditempatkan di wilayah terdampak tidak hanya menyelesaikan masa pengabdian, tetapi turut mengambil bagian dalam aksi kemanusiaan dengan menjadi relawan di kabupaten-kabupaten yang terdampak gempa. Keterlibatan tersebut menjadi bagian dari semangat pengabdian Gentaskin yang tidak terbatas pada pelaksanaan program kerja, tetapi juga merespons kebutuhan masyarakat dalam situasi kebencanaan.

Perwakilan mahasiswa, Paulus S. Sebho, menyampaikan bahwa pelaksanaan Gentaskin menjadi pengalaman bagi mahasiswa untuk menerapkan pengetahuan sekaligus belajar langsung dari masyarakat. Ia menyampaikan terima kasih kepada LLDIKTI Wilayah XV, pemerintah daerah, perguruan tinggi, DPL, pemerintah desa, dan masyarakat yang telah mendukung pelaksanaan KKN. Setiap tempat adalah sekolah dan setiap orang adalah guru bagi kami, ujar Paulus.

Sementara itu, Dosen Pembimbing Lapangan Alfred G. O. Kase, S.Psi., M.Si., Ph.D., menilai Gentaskin menjadi ruang strategis bagi mahasiswa untuk berkontribusi terhadap persoalan stunting dan kemiskinan ekstrem sekaligus membangun pengalaman pengabdian secara langsung.

Ia mengapresiasi kreativitas dan inovasi mahasiswa selama berada di desa serta berharap semangat pengabdian tersebut terus dibawa setelah masa penugasan berakhir. Yang berakhir hanyalah masa penugasan kalian di desa, katanya.

Mewakili Pemerintah Kabupaten TTS, Camat Mollo Selatan Solvie M. D. Makandolu, S.H., menyampaikan apresiasi kepada LLDIKTI Wilayah XV dan perguruan tinggi atas pelaksanaan KKN Tematik Gentaskin. Menurutnya, kehadiran mahasiswa telah memberikan kontribusi melalui edukasi kesehatan, kegiatan mengajar, pengembangan potensi lokal, serta pendampingan masyarakat.

Ia berharap berbagai praktik baik yang telah dibangun dapat dilanjutkan oleh masyarakat dan pemerintah setempat sehingga hubungan antara perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat tetap berjalan secara berkelanjutan.

Menutup rangkaian kegiatan, Kepala LLDIKTI Wilayah XV Prof. Dr. Adrianus Amheka, S.T., M.Eng., menegaskan bahwa Gentaskin perlu dipandang lebih luas daripada sekadar program KKN.

Menurutnya, kehadiran mahasiswa di tengah masyarakat merupakan bagian dari kontribusi perguruan tinggi dalam mendorong perubahan sosial dan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Pada 2026, Gentaskin membawa semangat membangun NTT yang sehat, inklusif, dan kuat, dengan perhatian pada persoalan stunting, kemiskinan ekstrem, kualitas sumber daya manusia, dan penguatan masyarakat desa.

Prof. Adrianus menekankan bahwa keberhasilan program tidak cukup dilihat dari jumlah kegiatan yang dilaksanakan. Dampak sosial dan ekonomi yang dihasilkan juga perlu diukur dan dievaluasi agar praktik baik dari lapangan dapat menjadi bahan pengembangan program maupun kebijakan di masa mendatang.

Ia mengapresiasi berbagai kontribusi mahasiswa, mulai dari kegiatan mengajar, pendampingan masyarakat, pengembangan potensi lokal, hingga aksi sosial. Kehadiran mahasiswa di desa, menurutnya, tidak hanya menghadirkan program, tetapi juga memberikan harapan bagi masyarakat, terutama generasi muda.

Karena itu, ia mendorong agar kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dosen, mahasiswa, dan masyarakat terus berlanjut setelah mahasiswa ditarik dari lokasi KKN. Kolaborasi tersebut diharapkan berkembang menjadi ekosistem kerja sama yang lebih kuat, termasuk melalui berbagai proyek bersama antarmahasiswa dan antarkampus. Modal semangat, modal saling mengerti, modal empati, dan modal untuk melihat persoalan yang sama dengan tujuan yang sama.

Prof. Adrianus menambahkan bahwa Gentaskin juga harus menjadi ruang pembelajaran bagi mahasiswa untuk membangun karakter, kepemimpinan, kepedulian sosial, kemampuan bekerja sama, serta kepekaan terhadap persoalan masyarakat. Pengalaman di lapangan diharapkan menjadi bekal bagi mahasiswa ketika kembali ke lingkungan akademik maupun ketika kelak terjun ke dunia kerja dan masyarakat.

Ia berharap pemerintah daerah dan pemerintah desa dapat melanjutkan berbagai program yang telah dirintis mahasiswa.Penarikan ini bukan akhir. Ini adalah pergantian peran. Mahasiswa kembali ke kampus, masyarakat melanjutkan apa yang sudah dimulai, dan perguruan tinggi bersama pemerintah harus memastikan bahwa kolaborasi ini terus hidup, jelasnya.

Penarikan mahasiswa KKN Tematik Gentaskin Batch 2 menandai berakhirnya masa penugasan mahasiswa di desa, tetapi bukan akhir dari pengabdian. Berbagai praktik baik yang telah dibangun diharapkan dapat terus dilanjutkan melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat.

Melalui keberlanjutan kolaborasi tersebut, Gentaskin diharapkan tidak hanya menjadi program pengabdian, tetapi berkembang menjadi gerakan bersama untuk memperkuat masyarakat, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, mengembangkan potensi desa, serta memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan Nusa Tenggara Timur.

/

5

Rate Now