UNDIP, Semarang (20/8) – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (FK UNDIP) di tingkat internasional. Tim Delegasi FK UNDIP yang terdiri atas mahasiswa Program Studi Kedokteran angkatan 2023 dan 2024 berhasil meraih tiga penghargaan sekaligus dalam ajang International Youth Conference (IYC) yang diselenggarakan di Malaysia pada 27–28 Juni 2026.
Dalam kompetisi tersebut, tim berhasil membawa pulang Gold Medal, 1st Runner Up (Juara Harapan I), dan Favorite Poster melalui inovasi bertajuk FerraCare, sebuah bubur instan berbahan bekatul, tepung ubi jalar oranye, dan ampas pepaya yang dirancang sebagai alternatif pangan fungsional untuk membantu mencegah anemia pada balita sekaligus mengusung konsep zero waste melalui pemanfaatan limbah pangan.
Tim Delegasi FK UNDIP terdiri atas Fahmi Istikmal Akbar (Ketua, Kedokteran UNDIP 2023), Alia Nurhaliza Hadari (Kedokteran UNDIP 2023), Widiana Harrista (Kedokteran UNDIP 2024), Naura Shafa Anindya (Kedokteran UNDIP 2024), dan Natasya Marianda (Kedokteran UNDIP 2024).
Ketua tim, Fahmi Istikmal Akbar, menjelaskan bahwa gagasan FerraCare lahir dari dua persoalan yang masih menjadi tantangan di Indonesia, yaitu tingginya prevalensi anemia pada balita serta belum optimalnya pemanfaatan limbah pangan.
“Anemia pada balita masih menjadi salah satu tantangan utama kesehatan masyarakat di Indonesia. Di sisi lain, limbah pangan seperti bekatul dan ampas pepaya masih belum dimanfaatkan secara optimal, padahal keduanya memiliki kandungan gizi dan senyawa bioaktif yang berpotensi dikembangkan menjadi pangan fungsional. Melalui FerraCare, kami ingin menghadirkan solusi yang tidak hanya berkontribusi pada upaya pencegahan anemia, tetapi juga mendukung keberlanjutan lingkungan melalui konsep zero waste,” ungkap Fahmi.
Ia menambahkan bahwa berdasarkan data World Health Organization (WHO), prevalensi anemia pada anak usia 6–59 bulan di Indonesia masih mencapai 38,4 persen. Kondisi tersebut mendorong tim untuk menghadirkan inovasi pangan yang memiliki nilai gizi sekaligus memanfaatkan bahan yang selama ini belum dimaksimalkan pemanfaatannya.
Proses pengembangan FerraCare diawali dengan menentukan subtema kompetisi yang berfokus pada bidang pangan, kemudian dilanjutkan dengan kajian literatur untuk mengidentifikasi permasalahan kesehatan yang relevan. Setelah merumuskan konsep inovasi, tim menyusun esai ilmiah yang berhasil lolos seleksi menuju babak final.
Pada tahap final, tim mempersiapkan prototipe produk melalui praktikum di Laboratorium Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, sekaligus menyusun media presentasi berupa poster ilmiah dan presentasi PowerPoint. Seluruh hasil tersebut dipresentasikan di hadapan dewan juri melalui sesi penilaian poster dan presentasi ilmiah.
Menurut Fahmi, tantangan terbesar selama persiapan adalah keterbatasan waktu menjelang keberangkatan ke Malaysia.
“Tantangan terbesar kami adalah menyelesaikan pembuatan prototipe beserta seluruh perlengkapan lomba dalam waktu yang sangat singkat karena berdekatan dengan jadwal keberangkatan. Situasi tersebut mengharuskan kami membagi tugas secara efektif, menjaga koordinasi, dan memanfaatkan waktu sebaik mungkin sehingga seluruh persiapan dapat diselesaikan tepat waktu,” ujarnya.
Keberhasilan tersebut tidak terlepas dari dukungan dosen pembimbing, Dr. Fitriyono Ayustaningwarno, S.TP., M.Si. dan lingkungan akademik FK UNDIP. Selama proses pengembangan, tim secara mandiri melakukan identifikasi permasalahan, kajian literatur, penyusunan konsep inovasi, hingga penulisan karya ilmiah. Sementara itu, dosen pembimbing memberikan arahan dalam pelaksanaan praktikum pembuatan prototipe di Laboratorium Gizi FK UNDIP sehingga produk yang dihasilkan sesuai dengan konsep yang telah dirancang.
Selain pendampingan akademik, Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro juga memberikan dukungan administratif serta memfasilitasi proses pendelegasian tim untuk mengikuti kompetisi internasional tersebut.
Fahmi menilai kolaborasi antara mahasiswa, dosen pembimbing, dan fakultas menjadi salah satu faktor penting yang mendukung keberhasilan tim dalam kompetisi.
“Kolaborasi yang baik antara seluruh anggota tim, dosen pembimbing, dan fakultas menjadi kekuatan utama kami. Dukungan tersebut memungkinkan kami mempersiapkan kompetisi dengan lebih optimal, mulai dari penyusunan karya ilmiah hingga pengembangan prototipe dan presentasi di tingkat internasional,” katanya.
Ke depan, tim berharap FerraCare tidak berhenti sebagai gagasan dalam kompetisi, tetapi dapat dikembangkan menjadi produk yang memiliki manfaat nyata bagi masyarakat.
“Kami berharap FerraCare dapat terus dikembangkan menjadi produk yang layak diproduksi secara massal sebagai alternatif pangan fungsional untuk membantu pencegahan anemia pada balita. Tentunya masih diperlukan penyempurnaan formulasi, pengujian kandungan gizi, keamanan, mutu, stabilitas produk, hingga uji efektivitas agar inovasi ini memenuhi standar sebelum dapat diproduksi dan dipasarkan secara luas,” tutup Fahmi.
Prestasi ini menjadi bukti bahwa mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro tidak hanya mampu berprestasi di tingkat internasional, tetapi juga menghadirkan inovasi berbasis riset yang berorientasi pada penyelesaian permasalahan kesehatan masyarakat sekaligus mendukung pembangunan berkelanjutan melalui pemanfaatan sumber daya secara lebih optimal. (Komunikasi Publik/UNDIP/Humas FK)





