Canberra, 3 Juni 2026 – KBRI Canberra melalui Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) kembali menyelenggarakan Scientech Talks Series 4 dengan tema “MyINDAH Diet: Partnerships Toward Strengthening Local Community Resilience and Climate-smart Agriculture through Digital Innovation”. Kegiatan yang dilaksanakan secara daring ini menghadirkan akademisi, peneliti, dan praktisi dari Indonesia dan Australia untuk berbagi hasil riset dan praktik baik dalam bidang ketahanan pangan, gizi masyarakat, serta pertanian cerdas iklim. Sebanyak 56 peserta yang terdiri atas peneliti, dosen, mahasiswa, dan praktisi mengikuti kegiatan tersebut.
Scientech Talks Series 4 menjadi wadah untuk memaparkan perkembangan proyek MyINDAH (My Inclusive Digital Solutions for Healthy and Sustainable Diets and Food Security), sebuah kolaborasi riset Indonesia–Australia yang didukung pendanaan KONEKSI. Proyek ini berfokus pada penguatan ketahanan pangan dan gizi masyarakat melalui inovasi digital, peningkatan literasi pangan, serta penerapan pertanian cerdas iklim (climate-smart agriculture).
Kolaborasi ini melibatkan sembilan institusi dari Indonesia dan Australia, yaitu The University of Queensland (UQ), Monash University, BRIN, Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Negeri Malang (UM), Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Centre for Indonesian Policy Studies (CIPS), dan Parti Gastronomi.
Narasumber yang hadir antara lain Assoc. Prof. Risti Permani dan Prof. Ammar Abdul Aziz dari The University of Queensland, Dr. Zuhud Rozaki dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Dr. Ike Sari Astuti dari Universitas Negeri Malang, Mohamad Reyza Ramadhan dari Parti Gastronomi, serta Nisrina Qotrunnada dari The University of Queensland.
Dalam sesi diskusi, para narasumber memaparkan berbagai inovasi yang tengah dikembangkan, mulai dari peningkatan literasi digital petani, pemanfaatan data dan teknologi untuk mendukung pola konsumsi sehat, hingga pengembangan aplikasi MyINDAH yang dirancang sebagai platform digital bagi petani dan konsumen. Aplikasi tersebut menyediakan informasi budidaya, kalender tanam, harga pangan, resep berbasis pangan lokal, serta informasi gizi yang mendukung transformasi digital sektor pangan. Selain itu, para peneliti juga memperkenalkan pengembangan microgreens sebagai alternatif pangan bergizi yang berpotensi mendukung ketahanan pangan dan kesehatan masyarakat.
Menurut data yang dipaparkan dalam kegiatan tersebut, proyek MyINDAH telah melibatkan 33 peneliti, 41 institusi nasional dan regional, serta menjangkau 720 peserta penelitian di berbagai wilayah Indonesia. Informasi ini menunjukkan luasnya dampak dan potensi implementasi proyek dalam mendukung ketahanan pangan berbasis komunitas.
Atdikbud KBRI Canberra menilai kegiatan ini sejalan dengan upaya diplomasi pendidikan dan sains Indonesia dalam memperkuat kolaborasi dengan Australia, khususnya di bidang riset, inovasi, dan pengembangan sumber daya manusia. Melalui forum seperti Scientech Talks, para akademisi dan peneliti dari kedua negara dapat membangun jejaring yang lebih kuat sekaligus mendorong lahirnya solusi inovatif untuk menjawab tantangan global di bidang pangan, kesehatan, dan keberlanjutan.
Ke depan, KBRI Canberra akan terus memanfaatkan Scientech Talks sebagai platform diplomasi sains untuk mempromosikan hasil-hasil riset kolaboratif Indonesia–Australia dan membuka peluang kerja sama yang lebih luas antara perguruan tinggi, lembaga penelitian, industri, dan organisasi masyarakat sipil kedua negara





