PADANGPANJANG — Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang terus mendorong penguatan kapasitas masyarakat melalui pemanfaatan teknologi dalam pengembangan produk kriya. Upaya tersebut diwujudkan Program Studi Kriya Seni, Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD), melalui pelatihan pembuatan suvenir kayu menggunakan teknologi Laser Cutting CNC bagi Sanggar Mato Kayu di Nagari Paninjauan.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program pengabdian kepada masyarakat yang didukung pendanaan Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) Direktorat Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) Tahun Anggaran 2026.
Pelatihan dirancang sebagai proses transfer pengetahuan yang memadukan keterampilan kriya, desain, dan teknologi digital. Para peserta tidak hanya diperkenalkan dengan mesin Laser Cutting CNC, tetapi juga dilibatkan langsung dalam seluruh tahapan produksi, mulai dari penyusunan konsep desain, pembuatan gambar digital, persiapan file, pengaturan parameter mesin, pemilihan material, proses cutting dan engraving, hingga finishing.
Dalam proses tersebut, peserta diperkenalkan dengan aplikasi LightBurn dan CorelDRAW untuk menghasilkan desain yang lebih presisi dan konsisten. Pemanfaatan teknologi ini diharapkan dapat membantu perajin meningkatkan efisiensi sekaligus kapasitas produksi.
Teknologi Perkuat, Bukan Gantikan, Keterampilan Perajin
Pelatihan juga diarahkan untuk memastikan pemanfaatan teknologi tetap mempertahankan karakter lokal. Peserta diajak mengembangkan desain yang terinspirasi dari potensi budaya dan karakter visual Nagari Paninjauan untuk kemudian diterapkan pada produk berbahan kayu.
Dengan pendekatan tersebut, teknologi tidak ditempatkan sebagai pengganti keterampilan perajin, melainkan sebagai alat untuk memperkuat kreativitas, presisi, dan produktivitas.
Dekan FSRD ISI Padangpanjang sekaligus Ketua Tim Pelaksana, Dr. Riswel Zam, M.Sn., mengatakan penerapan teknologi digital menjadi salah satu langkah penting dalam meningkatkan daya saing produk kriya masyarakat.
“Teknologi Laser Cutting CNC bukan untuk menggantikan keterampilan perajin, tetapi menjadi alat bantu untuk meningkatkan presisi, efisiensi, dan produktivitas. Perajin tetap memiliki peran utama dalam menentukan konsep, desain, karakter, dan nilai budaya dari produk yang dihasilkan,” ujarnya.
Menurutnya, perkembangan teknologi dalam bidang kriya perlu berjalan berdampingan dengan pengetahuan dan keterampilan yang telah dimiliki masyarakat agar inovasi tetap memiliki identitas lokal.
Buka Peluang Produk Kreatif Lebih Beragam
Pemanfaatan Laser Cutting CNC membuka peluang bagi Sanggar Mato Kayu untuk mengembangkan lebih banyak produk, seperti gantungan kunci, magnet kulkas, plakat, miniatur, ornamen dekoratif, cendera mata, hingga aksesori meja.
Teknologi tersebut juga memungkinkan proses produksi dilakukan secara lebih cepat dan menghasilkan produk dengan bentuk serta ukuran yang relatif seragam. Kondisi ini menjadi modal penting bagi perajin untuk memenuhi pesanan dalam jumlah lebih besar sekaligus memperluas pasar.
Ketua Program Studi Kriya Seni ISI Padangpanjang berharap kegiatan tersebut dapat menjadi awal dari pendampingan yang lebih berkelanjutan. Pengembangan ke depan tidak hanya mencakup kemampuan produksi, tetapi juga desain, kualitas finishing, packaging, branding, fotografi produk, hingga pemasaran digital.
Dari Teknologi hingga Penguatan Ekonomi Lokal
Kolaborasi ISI Padangpanjang dan Sanggar Mato Kayu menunjukkan bagaimana perguruan tinggi dapat menghadirkan keilmuan secara langsung untuk menjawab kebutuhan masyarakat.
Perpaduan seni, teknologi, inovasi, dan potensi budaya lokal diharapkan mampu meningkatkan kompetensi perajin sekaligus menghasilkan produk kriya yang lebih inovatif, bernilai ekonomi, dan memiliki identitas yang kuat.
Melalui pengabdian tersebut, ISI Padangpanjang tidak hanya mentransfer teknologi, tetapi juga mendorong transformasi produksi kriya masyarakat agar semakin presisi, efisien, kreatif, dan adaptif terhadap perkembangan pasar.







