UNDIP, Semarang (9/8) – Keberanian melihat persoalan lingkungan sebagai peluang bisnis membawa tim mahasiswa Sekolah Vokasi Universitas Diponegoro (UNDIP) meraih prestasi gemilang di kancah nasional. Gagasannya tentang SUWIIT (Smart Livestock Integrated Technology) mengantarkannya menjadi penerima beasiswa sawit dan meraih Gold Medal Kategori Business Plan pada ajang Olimpiade Vokasi Indonesia (OLIVIA) XI 2026 di Universitas Negeri Surabaya pada 2 – 4 Agustus 2026.
Tim ini dipimpin oleh Luis Ibanez Sitinjak bersama dua rekannya, Kholis Na’imah dan Irgy Khoiroel Al Fahrezi, dari Program Studi Sarjana Terapan Teknologi Rekayasa Kimia Industri (TRKI). Di hadapan dewan juri lintas sektor mulai dari akademisi, praktisi industri, pelaku bisnis, hingga perwakilan instansi pemerintah, ketiganya mampu membuktikan bahwa riset vokasi sanggup menjawab tantangan nyata di lapangan secara presisi.
Inspirasi SUWIIT sejatinya berawal dari pengamatan mendalam terhadap realitas di tanah kelahiran mereka di Sumatra. Kawasan yang kaya akan perkebunan kelapa sawit tersebut menyimpan dua tantangan besar yang berjalan berdampingan, yakni limbah biomassa industri kelapa sawit yang belum terkelola secara optimal serta tingginya beban biaya pakan yang menghimpit para peternak lokal.
Melihat celah tersebut, tim TRKI UNDIP merumuskan formula pakan ternak nutrasetikal berbahan dasar Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS). Melalui sentuhan proses fermentasi yang diperkaya dengan probiotik, mineral, serta imunostimulan alami, sisa olahan industri yang semula tidak dilirik kini menjelma menjadi sumber nutrisi tinggi sebagai pengganti pakan konvensional.
Inovasi pakan ini dirancang khusus untuk menjaga kesehatan sistem pencernaan, meningkatkan daya tahan tubuh, dan mempercepat pertumbuhan ternak. Transformasi sisa biomassa menjadi produk bernilai tambah ini menegaskan komitmen mahasiswa UNDIP dalam menggerakkan rantai nilai baru berbasis ekonomi sirkular.
Untuk melengkapi keandalan produk fisiknya, SUWIIT terintegrasi langsung dengan platform digital Smart Livestock Assistance. Ekosistem digital ini hadir sebagai asisten pintar yang menghubungkan peternak dengan teknologi serta berbagai kemudahan layanan pemeliharaan dalam satu aplikasi yang praktis.
Lewat aplikasi tersebut, peternak dapat memantau kondisi kesehatan hewan, berkonsultasi langsung dengan dokter hewan, hingga mendapatkan rekomendasi perawatan otomatis berbasis kecerdasan buatan (AI). Fitur pendukung seperti edukasi interaktif dan marketplace kebutuhan ternak juga disematkan untuk mempermudah transaksi operasional sehari-hari.
Integrasi antara teknologi produk pakan bernutrisi yang dipadukan dengan layanan digitalisasi, layanan kesehatan hewan, dan edukasi menjadi salah satu kekuatan model bisnis SUWIIT. Berdasarkan perhitungan awal tim, penerapan konsep tersebut diproyeksikan dapat membantu menekan biaya pakan sekitar 20–40 persen, meningkatkan produktivitas ternak sekitar 20–40 persen, serta mengurangi angka kematian ternak sekitar 10–20 persen. Proyeksi tersebut memperlihatkan orientasi inovasi yang tidak berhenti pada kecanggihan teknologi, tetapi juga diarahkan pada dampak yang dapat dirasakan pengguna.
Proses pengembangan SUWIIT turut didampingi oleh Dr. Ir. Fahmi Arifan, S.T., M.Eng., M.M., IPM., ASEAN Eng. Pendampingan intensif dilakukan untuk mempertajam aspek teknologi sekaligus memperkuat model bisnis yang akan dibawa ke kompetisi. Kolaborasi antara mahasiswa dan dosen tersebut mencerminkan karakter pendidikan vokasi yang mendorong pengetahuan berkembang menjadi keterampilan terapan, produk, serta solusi yang selaras dengan kebutuhan industri dan masyarakat.
Ketua Program Studi TRKI Sekolah Vokasi UNDIP, Dr. Mohamad Endy Julianto, menilai capaian mahasiswa tersebut menunjukkan pentingnya ekosistem pendidikan yang memberi ruang bagi talenta muda untuk bereksperimen dan menghasilkan karya. Dukungan melalui beasiswa sawit juga memberi kesempatan bagi mahasiswa untuk memperluas pengetahuan mengenai sektor strategis tersebut, termasuk membaca peluang pengembangan teknologi dan industri turunannya. SUWIIT menjadi gambaran menarik tentang bagaimana pendidikan, kesempatan, pengalaman vokasi, dan kepedulian terhadap persoalan daerah dapat bertemu dan menciptakan inovasi yang berpotensi memberikan dampak luas.
Bagi Luis Ibanez, capaian di OLIVIA XI 2026 menjadi pengalaman penting untuk melihat inovasi tidak hanya dari sisi teknologi, melainkan juga dari sisi kemampuan gagasan dalam menjawab persoalan masyarakat. Kompetisi tersebut sekaligus menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menguji kelayakan ide, menyusun strategi bisnis, menerima masukan dari berbagai bidang, serta menilai potensi inovasi untuk dibawa ke tahap yang lebih konkret.
Perspektif ekonomi sirkular juga menjadi perhatian Kholis Na’imah dalam pengembangan SUWIIT. Limbah dipandang bukan sebagai akhir dari sebuah proses produksi, melainkan sebagai sumber daya yang masih dapat diolah menjadi nilai baru. Sementara itu, Irgy Khoiroel Al Fahrezi menguatkan sisi digitalisasi karena persoalan peternak tidak hanya berkaitan dengan pakan, tetapi juga akses terhadap informasi, kesehatan hewan, pendampingan, edukasi, hingga pasar. Konsep terpadu tersebut mendapat respons positif dari dewan juri dan membuka peluang untuk menjajaki pengembangan bisnis maupun investasi.
Langkah berikutnya adalah membawa SUWIIT keluar dari dinding kampus menuju tahap komersialisasi dan implementasi yang nyata di tengah masyarakat. Inilah bukti nyata kontribusi generasi muda UNDIP dalam mendorong transformasi peternakan Indonesia menuju era yang lebih hijau, mandiri, dan berkelanjutan. (Komunikasi Publik/UNDIP-SV/Endi; Ed. DHW)







