Dukung Transformasi Transmigrasi, Tim Ekspedisi Patriot UNDIP Kembangkan Sistem Informasi Lahan Berbasis WebGIS di Keerom

Our Campus

21 Agustus 2026 | 16.45 WIB

Dukung Transformasi Transmigrasi, Tim Ekspedisi Patriot UNDIP Kembangkan Sistem Informasi Lahan Berbasis WebGIS di Keerom

UNDIP, Keerom Papua (21/8) – Tim Ekspedisi Patriot Universitas Diponegoro (TEP UNDIP) mendorong transformasi tata kelola lahan di Kawasan Transmigrasi Senggi, Kabupaten Keerom, Papua, melalui pengembangan sistem informasi lahan berbasis Web Geographic Information System (WebGIS). Inovasi ini dirancang untuk mengintegrasikan informasi mengenai kondisi, status, legalitas, penggunaan, hingga potensi pengembangan lahan sebagai basis informasi yang dapat mendukung pengambilan keputusan pemerintah secara lebih terukur.

Gagasan tersebut mendapat dukungan dari jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Kabupaten Keerom dalam rangkaian koordinasi dan Focus Group Discussion (FGD) yang dilaksanakan TEP UNDIP di Kantor Sekretariat Daerah Kabupaten Keerom, Kamis (13/8). Pertemuan tersebut menjadi bagian dari proses membangun sinergi lintas sektor sekaligus mengidentifikasi kebutuhan data dan persoalan pengelolaan kawasan transmigrasi, khususnya di Permukiman Transmigrasi Woslay.

Pengembangan WebGIS merupakan bagian dari konsep manajemen lahan integratif yang diusung TEP UNDIP. Pendekatan tersebut menghubungkan berbagai aspek pengelolaan kawasan, mulai dari data pertanahan, status dan legalitas lahan, penggunaan lahan, kondisi kawasan, hingga potensi ekonomi serta peluang pengembangan dan investasi.

Melalui sistem berbasis spasial tersebut, berbagai informasi yang berada pada instansi berbeda diharapkan dapat diintegrasikan sehingga kondisi kawasan dapat dilihat secara lebih utuh. Data tersebut selanjutnya dapat menjadi referensi bersama dalam mengidentifikasi persoalan, menentukan kebutuhan penanganan, dan menyusun arah pengembangan kawasan berdasarkan kondisi aktual di lapangan.

“Data yang terintegrasi menjadi penting agar kondisi lahan dapat dilihat secara lebih utuh. Melalui sistem informasi berbasis WebGIS, berbagai informasi tersebut nantinya dapat menjadi referensi bersama dalam melihat kondisi, kebutuhan, dan potensi pengembangan kawasan ke depan,” ujar Dr. Sariffuddin, Ketua Tim 16 Ekspedisi Patriot UNDIP 2026.

Ia menjelaskan platform tersebut dikembangkan dengan memanfaatkan teknologi open source dan diarahkan untuk memuat sejumlah informasi utama mengenai lahan. “Kami memanfaatkan open source untuk membangun platform WebGIS, yang setidaknya memuat informasi mengenai administrasi lahan atau land tenure, nilai ekonomi lahan atau land value, dan penggunaan lahan serta site analysis,” jelasnya. 

Kebutuhan terhadap integrasi data tersebut turut terlihat dari pembahasan bersama OPD Kabupaten Keerom. Kantor Pertanahan Kabupaten Keerom menyatakan kesiapan mendukung kebutuhan data maupun aspek teknis yang diperlukan dalam proses kajian. Data hasil pengukuran menjadi salah satu sumber informasi penting dalam proses identifikasi kondisi lahan di kawasan transmigrasi.

Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Keerom juga menyoroti pentingnya pencocokan data pertanahan dan transmigrasi. Data pengukuran lahan transmigrasi disebut telah tersedia di Kantor Pertanahan, sementara sebagian transmigran masih belum memiliki sertifikat lahan permukiman. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya integrasi data agar kebutuhan penanganan lahan dapat diidentifikasi secara lebih jelas.

“Data-data transmigrasi terkait pengukuran sudah tersedia di Kantor Pertanahan dan sebelumnya telah dilakukan pengukuran beberapa kali. Data tersebut perlu dicocokkan agar dapat diketahui bagian mana yang masih kurang dan perlu ditindaklanjuti. Dengan data yang lebih lengkap, rekomendasi yang dihasilkan Tim Ekspedisi Patriot dapat lebih mudah kami tindak lanjuti,” ujar Berth Berotabus, selaku perwakilan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Keerom.

Selain persoalan sertifikasi, pemanfaatan lahan juga menjadi perhatian dalam pembahasan. Sebagian transmigran di SP1 disebut telah memiliki sertifikat lahan usaha, tetapi lahannya belum diusahakan sepenuhnya. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa manajemen lahan tidak cukup hanya melihat status legalitas, tetapi juga perlu memperhatikan pemanfaatan aktual dan potensi pengembangannya.

Dari sisi perencanaan kawasan, Bapperida Kabupaten Keerom menekankan pentingnya melakukan review kawasan sebelum proses pengembangan lebih lanjut. Review tersebut perlu mempertimbangkan posisi strategis Keerom yang berada di antara Provinsi Papua dan Papua Pegunungan serta potensi kawasan dalam mendukung pembangunan ekonomi daerah.

Review kawasan perlu dilakukan agar arah pengembangan Senggi dapat dilihat secara lebih utuh, termasuk dengan mempertimbangkan posisi Keerom yang berada di antara Provinsi Papua dan Papua Pegunungan. Informasi yang lebih lengkap mengenai kondisi kawasan akan penting untuk melihat potensinya sebagai lumbung pertanian dan pusat akselerasi perekonomian,” ujar perwakilan Bapperida Kabupaten Keerom.

Bapperida Keerom juga mendorong keterlibatan Bagian Hukum dalam pembahasan lanjutan untuk memberikan penjelasan mengenai histori kawasan serta aspek legal yang tercantum dalam keputusan Bupati. Langkah tersebut diperlukan untuk memperkuat proses review dan penataan kawasan agar rekomendasi yang dihasilkan memiliki dasar yang jelas.

Berbagai masukan dari OPD tersebut menjadi bagian dari proses penyusunan basis data dan pemetaan kondisi Kawasan Transmigrasi Senggi yang dilakukan TEP UNDIP. Selain aspek pertanahan dan legalitas, tim juga akan mendalami kondisi pemanfaatan lahan, aksesibilitas, kondisi sosial ekonomi, potensi kawasan, dan faktor lain yang berpengaruh terhadap pengembangan Permukiman Transmigrasi Woslay.

Konsep manajemen lahan integratif yang dikembangkan TEP UNDIP merupakan bagian dari upaya mendukung Trans Tuntas sebagai agenda akselerasi transformasi transmigrasi. Dalam kerangka tersebut, data investasi juga diperkenalkan sebagai bagian dari analisis untuk melihat kesiapan kawasan secara lebih terukur.

Pengembangan sistem informasi lahan berbasis WebGIS diharapkan dapat memperkuat keterhubungan antara data, kondisi lapangan, dan kebutuhan perencanaan. Dengan informasi yang terintegrasi, pemerintah daerah memiliki basis yang lebih kuat untuk melihat persoalan lahan sekaligus mengidentifikasi peluang pengembangan kawasan sesuai karakteristik dan potensinya.

Ke depan, hasil pengumpulan data, pemetaan, koordinasi lintas sektor, dan analisis kondisi kawasan akan menjadi dasar penyempurnaan sistem informasi lahan berbasis WebGIS. Sistem tersebut diharapkan dapat menjadi instrumen pendukung bagi pemerintah dalam memahami kondisi kawasan secara lebih presisi, mengintegrasikan informasi lintas sektor, serta merumuskan kebijakan pengelolaan dan pengembangan Kawasan Transmigrasi Senggi yang lebih terencana dan berkelanjutan. 

Melalui inovasi ini, Kolaborasi TEP UNDIP dengan Pemerintah Kabupaten Keerom menjadi bagian penting untuk memastikan sistem yang dikembangkan relevan dengan kebutuhan daerah serta dapat mendukung pengelolaan lahan permukiman Kawasan Transmigrasi Senggi. Langkah nyata ini sekaligus menegaskan komitmen “UNDIP Bermartabat, UNDIP Bermanfaat” dalam mendukung pencapaian SDGs, khususnya SDG 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan) dan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui kolaborasi lintas sektor bagi pembangunan daerah. (Komunikasi Publik/UNDIP)

DiktisaintekBerdampak

UNDIP

Kolaborasi Pemerintahan Daerah

/

5

Rate Now