UNDIP, Keerom Papua (20/8) – Universitas Diponegoro (UNDIP) terus menegaskan komitmennya dalam mendukung peningkatan derajat kesehatan masyarakat di wilayah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T). Melalui Tim Ekspedisi Patriot (TEP), UNDIP berkolaborasi dengan UPTD Puskesmas Senggi menggelar program pencegahan anemia dan skrining kesehatan bagi remaja di Distrik Senggi, Kabupaten Keerom, Papua.
Kegiatan yang digelar pada Selasa (18/8) di SMK Negeri 2 Agrobisnis dan Agroteknologi Keerom ini berfokus pada pemberian edukasi kesehatan, pembagian Tablet Tambah Darah (TTD), dan pemeriksaan kesehatan berkala bagi remaja putri. Kegiatan ini menjadi salah satu langkah nyata dalam meningkatkan kesadaran remaja terhadap pentingnya pencegahan anemia sekaligus mendukung deteksi dini masalah gizi dan kesehatan.
Langkah strategis ini menjadi krusial mengingat data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 dari Kementerian Kesehatan mencatat prevalensi anemia pada remaja di Indonesia masih berada di angka 15,5%. Kondisi anemia pada usia remaja perlu mendapat perhatian karena masa remaja merupakan periode penting dalam pertumbuhan dan perkembangan serta menjadi tahap persiapan menuju usia dewasa.
Rangkaian kegiatan diawali pada pukul 09.00 WIT melalui sesi sosialisasi mengenai bahaya anemia dan strategi pencegahannya. Pengisi materi sosialisasi oleh Tim Ekspedisi Patriot UNDIP di bawah koordinasi Prof. Dr. Diana Nur Afifah, S.TP., M.Si. Untuk memastikan penyampaian edukasi berjalan efektif dan tepat sasaran, TEP UNDIP menerjunkan tim ahli yang berpengalaman di lapangan meliputi Dwi Intan Yuniar Sari, S.Gz., M.Gz.; Fenny Anggreany Nasution, S.Gz., M.Gz.; Tika Andriani, S.Gz., M.Gz.; Guntur Samudra, S.K.M.; serta Handika Mukti, S.Pd.
Pelaksanaan edukasi berlangsung sinergis bersama tim UPTD Puskesmas Senggi, yang diwakili oleh Tirta selaku Tenaga Pelaksana Gizi dan Siti selaku Bidan Puskesmas. Sebanyak kurang lebih 35 siswa dan siswi kelas X dan XI dari jurusan Agrobisnis dan Agroteknologi antusias mengikuti seluruh rangkaian acara. Sementara itu, siswa kelas XII belum dapat berpartisipasi karena tengah melangsungkan agenda praktik lapangan pengolahan lahan.
Setelah sesi edukasi, rangkaian acara dilanjutkan dengan pemeriksaan kesehatan intensif bagi 18 siswi serta pendistribusian Tablet Tambah Darah (TTD). Tahapan skrining gizi ini mencakup pengukuran tinggi badan (TB), berat badan (BB), Lingkar Lengan Atas (LiLA), hingga pemeriksaan kadar hemoglobin (Hb) sebagai bagian dari deteksi dini anemia dan masalah gizi.
Dalam standar penilaian kesehatan, kadar Hb di bawah 12 g/dL ditetapkan sebagai indikator utama anemia pada remaja putri, sedangkan ukuran LiLA kurang dari 23,5 cm mengindikasikan risiko Kekurangan Energi Kronis (KEK). Pada pelaksanaannya, Tim Ekspedisi Patriot UNDIP memegang peranan aktif dalam membantu pengondisian kegiatan serta pengukuran tinggi dan berat badan, sementara pemeriksaan Hb dilakukan bersama tenaga kesehatan dari UPTD Puskesmas Senggi.
Tirta menegaskan bahwa pemantauan kesehatan remaja putri merupakan program yang dilaksanakan secara berkala oleh UPTD Puskesmas Senggi di sekolah-sekolah wilayah Distrik Senggi. “Program ini kami lakukan setiap satu bulan sekali, khususnya bagi siswa usia remaja di SMK N 2 Keerom, SMAK Ebenhaezer, dan SMP N 1 Senggi. Selain pemeriksaan, juga dilakukan pemberian Tablet Tambah Darah. Bagi siswi yang sudah sarapan, tablet dapat diminum bersama saat kegiatan. Sementara bagi yang belum sarapan, tablet dapat dibawa pulang. Kami memberikan dua tablet, satu untuk diminum hari ini dan satu lagi untuk diminum pada minggu berikutnya,” jelas Tirta.
Ketua Tim 4 Ekspedisi Patriot UNDIP, Prof. Dr. Diana Nur Afifah, S.TP., M.Si., menekankan bahwa kegiatan skrining tidak hanya ditujukan untuk memperoleh gambaran kondisi kesehatan remaja, tetapi juga menjadi langkah awal untuk merancang intervensi kesehatan dan gizi yang lebih tepat sesuai kebutuhan masyarakat di Kawasan Transmigrasi Senggi.
“Remaja putri merupakan kelompok yang perlu mendapatkan perhatian dalam upaya pencegahan anemia karena kondisi kesehatan dan status gizi pada masa remaja akan menjadi fondasi penting bagi kesehatan pada tahap kehidupan berikutnya. Melalui kegiatan edukasi dan skrining ini, kami ingin mendorong remaja untuk lebih memahami kondisi kesehatannya, mengenali risiko anemia sejak dini, serta membangun kebiasaan menjaga pola makan dan kesehatan yang baik, termasuk kepatuhan dalam mengonsumsi Tablet Tambah Darah,” ujar Prof. Diana.
Lebih lanjut, Prof. Diana menjelaskan bahwa kolaborasi antara perguruan tinggi, fasilitas pelayanan kesehatan, sekolah, dan masyarakat menjadi bagian penting dalam pelaksanaan Ekspedisi Patriot. “Bagi kami, kegiatan ini tidak berhenti pada pemeriksaan kesehatan saja. Data yang diperoleh dari lapangan menjadi informasi penting untuk memahami permasalahan kesehatan dan gizi yang dihadapi masyarakat secara nyata. Dari data tersebut, kami bersama Puskesmas dan pemangku kepentingan setempat dapat menyusun langkah tindak lanjut dan program yang lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Inilah semangat Ekspedisi Patriot, yaitu menghadirkan keilmuan perguruan tinggi agar dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat, khususnya di kawasan transmigrasi,” tambah Prof. Diana.
Kolaborasi antara UPTD Puskesmas Senggi, SMK Negeri 2 Keerom, dan Tim Ekspedisi Patriot UNDIP menunjukkan pentingnya sinergi lintas sektor dalam mengidentifikasi permasalahan kesehatan sekaligus menghasilkan data lapangan sebagai dasar penyusunan program lanjutan. Melalui pemantauan status gizi dan kesehatan remaja secara berkelanjutan, kegiatan ini diharapkan dapat mendukung upaya pencegahan anemia sejak dini serta meningkatkan kesadaran remaja terhadap pentingnya menjaga kesehatan dan status gizi.
Aksi nyata ini sekaligus mempertegas komitmen UNDIP dalam mewujudkan UNDIP Bermartabat dan UNDIP Bermanfaat, serta sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), yaitu Kehidupan Sehat dan Sejahtera (SDG 3). Melalui hilirisasi keilmuan, inovasi, dan pengabdian sumber daya manusianya, UNDIP terus bergerak aktif memberikan kontribusi nyata yang dampaknya dirasakan langsung oleh masyarakat luas, tak terkecuali warga di Kawasan Transmigrasi Distrik Senggi, Kabupaten Keerom, Papua. (Komunikasi Publik/UNDIP)








