Bantu Warga Woslay Atasi 127 Titik Sampah Liar, TEP UNDIP Dorong Pengelolaan Sampah Mandiri

Our Campus

22 September 2026 | 21.30 WIB

Bantu Warga Woslay Atasi 127 Titik Sampah Liar, TEP UNDIP Dorong Pengelolaan Sampah Mandiri

UNDIP, Senggi Kabupaten Keerom (22/9) – Tim Ekspedisi Patriot Universitas Diponegoro (TEP UNDIP) Tim 9 menggelar Focus Group Discussion (FGD) untuk merumuskan solusi konkret permasalahan sampah di Kampung Woslay, Distrik Senggi, Kabupaten Keerom, Papua, pada Minggu (6/9). Kegiatan yang diinisiasi oleh Ketua Tim 9 Dr. Mardwi Rahdriawan, S.T., M.T. bersama tim ini difasilitasi langsung oleh Kepala Distrik Senggi di Gedung Serbaguna EV. Philipus Yamanda.

FGD ini dihadiri Plt. Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Ketahanan Pangan, dan Perikanan (DLHKPP) Kabupaten Keerom Triyani A. Fugu, S.Hut., Kabid Lingkungan Hidup dan TAHURA Imanuel Renjaan, S.Hut., Kepala Distrik Senggi Daud Yunam, serta pakar dari Universitas Cenderawasih (Uncen) Dr. Himawan sebagai narasumber. Hadir pula tokoh masyarakat, Ketua RT/RW, dan kader kesehatan (malaria, posyandu, posbindu) Kampung Woslay.

Plt. Kepala DLHKPP Keerom Triyani A. Fugu, S.Hut. menyambut baik keterlibatan TEP UNDIP Tim 9. Ia menegaskan keseriusan Pemerintah Kabupaten Keerom dalam penanganan sampah, salah satunya dibuktikan melalui penambahan dua unit truk Arm Roll per 7 September 2026 untuk memperluas jangkauan layanan. Triyani juga mengajak masyarakat meneladani kearifan lokal dalam mengelola sampah secara mandiri.

“Saya bersyukur ada Tim dari UNDIP yang fokus menangani masalah sampah ini di Kampung Woslay, Distrik Senggi. Dalam hal ini, Bupati sudah sangat serius menangani masalah sampah di Kabupaten Keerom. Salah satu yang terbaru adalah penambahan 2 (Dua) truk Arm Roll yang datang pada tanggal 7 September 2026 yang lalu, sehingga pelayanannya dapat diperluas,” jelas Triyani.

Merespons hal tersebut, Kepala Distrik Senggi Daud Yunam menyatakan kesiapannya mendukung penuh program ini. Pihaknya telah menyiapkan lahan untuk Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) di jalur utama dekat Kantor Distrik Senggi. Ia berharap TEP UNDIP Tim 9 dapat fokus pada pemberdayaan pengelolaan sampah skala rumah tangga untuk menekan volume sampah dari sumbernya. “Saya berharap, TEP UNDIP Tim 9 dapat melakukan pemberdayaan pengelolaan sampah di tingkat rumah tangga, sehingga warga bisa mengurangi sampah,” ungkap Daud.

Ketua Tim 9, Dr. Mardwi Rahdriawan, S.T., M.T., memaparkan temuan 127 titik pembuangan sampah liar di wilayah Satuan Permukiman (SP) 1 dan SP 2 Kampung Woslay. Sebagai upaya untuk mengatasinya, TEP UNDIP Tim 9 mendorong pemilahan sampah dari sumbernya, yakni tingkat rumah tangga. Melalui skema ini, sampah organik diolah menjadi kompos, sementara sampah anorganik didaur ulang untuk meningkatkan nilai jual. Langkah tersebut diharapkan mampu meminimalkan penumpukan residu sekaligus menciptakan nilai ekonomi bagi masyarakat.

Senada dengan hal tersebut, Dr. Himawan dari Uncen menegaskan pentingnya menjaga lingkungan tetap sehat. Ia menjelaskan bahwa residu sampah plastik sejatinya dapat diolah untuk beragam kebutuhan masyarakat, salah satunya dikonversi menjadi bahan bakar kendaraan bermotor.

Dari hasil diskusi tersebut, warga SP 1 menyepakati pentingnya intervensi pengelolaan sampah karena selama ini sampah hanya dibakar, ditimbun, atau dibuang sembarangan akibat ketiadaan layanan pengangkutan. Warga mengusulkan sistem pengangkutan door-to-door dengan mekanisme iuran operasional, pengadaan tong sampah penampungan, dan penempatan lokasi pengolahan di antara RT 5 dan RT 6 (Jalur 7 dan 8). Warga juga mendorong pembentukan pengurus pelayanan sampah berbasis kader ibu-ibu RT dan sosialisasi resmi kepada Kepala Kampung dan Ketua RT/RW.

Di sisi lain, perwakilan warga SP 2 mengungkapkan bahwa kebiasaan membakar dan membuang sampah ke irigasi disebabkan oleh rendahnya kesadaran dan belum adanya program pengelolaan sampah yang berjalan. Warga SP 2 mengusulkan penyediaan bak sampah komunal per jalur dan penerapan layanan penjemputan sampah dari rumah. Demi mendukung keberlanjutan program, warga SP 2 sepakat menerapkan iuran sukarela bulanan per KK, rutin mengadakan kerja bakti, dan membentuk kelompok pengelola sampah yang melibatkan kader dari setiap SP.

Hasil FGD ini menegaskan komitmen bersama antara TEP UNDIP Tim 9, Pemkab Keerom, dan masyarakat Kampung Woslay. Dukungan lahan TPST dari pemerintah distrik dan partisipasi aktif warga menjadi modal utama TEP UNDIP Tim 9 dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang mandiri dan berkelanjutan.

Langkah strategis tersebut merupakan wujud nyata kontribusi akademisi dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), meliputi SDG 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan) melalui penyediaan lingkungan bersih, SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) lewat pemilahan dan pengurangan residu sampah, dan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui kolaborasi lintas sektor antara kampus, pemerintah daerah, dan masyarakat. (Komunikasi Publik/UNDIP).

DiktisaintekBerdampak

UNDIP

/

5

Rate Now