Gejala diabetes melitus yang dikenal sebagai silent killer sering tidak disadari oleh penyandangnya dan saat diketahui sudah terjadi komplikasi. Pengobatan diabetes biasanya dilakukan dengan cara pemberian obat secara oral dan suntik hormon insulin.

Kecenderungan masyarakat saat ini untuk menerapkan pola hidup back to nature menjadikan obat herbal dengan bahan baku yang berasal dari alam banyak diminati. Hal inilah yang mendasari mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB), Anisa Utami R. Zahra untuk melakukan penelitian yang berjudul, “Karakteristik Kapsul Antidiabetes dari Ekstrak Cacing Laut (Shiponosoma australe)”.

Anisa tergabung dalam tim proyek penelitian terkait cacing laut Sipuncula yang diketuai oleh Prof. Dr. Ir. Sri Purwatiningsih, MSi dari Departemen Teknologi Hasil Perairan FPIK IPB. Anisa menerangkan bahwa penelitian ini dilakukan untuk menentukan kualitas bahan baku, komponen kimia pada ekstrak cacing laut, serta membuat sediaan obat yang sesuai dengan persyaratan mutu. Dalam hal ini dibuat sediaan kapsul.

Sebelumnya, ekstrak etanol cacing laut S. australe telah diuji secara preklinis memiliki aktivitas antihiperglikemik, namun pengembangan ekstrak menjadi obat yang terstandar belum dikaji lebih lanjut.

“Penelitian ilmiah terkait pengembangan dan karakterisasi obat herbal terstandar dari ekstrak cacing laut S. australe perlu dilakukan agar dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan,” ujarnya.

Berdasarkan hasil penelitian Anisa, cacing S. australe tidak terdeteksi mengandung cemaran logam berat dan mikroba patogen sehingga aman untuk dijadikan sebagai bahan baku obat. Ekstraksi dengan pelarut polar, yaitu etanol memberikan rendemen dan aktivitas inhibisi tertinggi terhadap enzim α-glukosidase.

Enzim α-glukosidase sendiri adalah enzim yang berkaitan erat dengan diabetes karena berperan dalam perombakan karbohidrat kompleks menjadi glukosa. Adapun kandungan senyawa bioaktif dari ekstrak cacing S. australe ini yaitu flavonoid, alkaloid, saponin, dan steroid.

Dari penelitiannya, didapatkan sediaan kapsul yang memenuhi persyaratan sediaan obat yang ditetapkan oleh BPOM yaitu memiliki kadar air sebesar 2,20 persen, berukuran seragam dengan waktu hancur selama 16 menit 15 detik, dan memenuhi batas maksimal cemaran yang terdapat pada persyaratan tersebut.

‘Semoga khasiat ekstrak cacing laut ini dapat memberikan nilai tambah terhadap cacing laut S. australe sebagai bahan baku hasil perairan. Dan hasil riset ini bisa menjadi sumber informasi baru dan sebagai bahan farmaseutika,” tambahnya.(SM/Zul)