Dengan semakin berkurangnya produksi kacang tanah di dalam negeri dimana sampai saat ini Indonesia masih mengimpor kacang tanah. Berdasarkan data hasil proyeksi Kementerian Pertanian, tahun 2018 produksi kacang tanah diperkirakan turun menjadi 468,08 ribu ton dan konsumsi sebesar 722,26 ribu ton atau defisit sebesar 254,18 ribu ton. Oleh karena itu volume impor kacang tanah diperkirakan akan terus semakin membengkak sehingga perlu adanya terobosan untuk meningkatkan produksinya.

BPPT melalui Pusat Teknologi Produksi Pertanian serta bersama anggota DPR RI Fraksi Partai Demokrat Dapil Jawa Timur, Mat Nasir melaksanakan diseminasi atau pemasyarakatan teknologi pengembangan budidaya dan pascapanen kacang tanah di Kabupaten Bangkalan, Madura (05/10).

Pengembangan budidaya dan penanganan pascapanen kacang tanah perlu dikembangkan mengingat daerah ini sangat potensial akan produksi kacang tanahnya.

Pengembangan budidaya kacang tanah ini dilakukan dengan menerapkan teknologi Biofarming. Terknologi ini menggunakan peran mikro organisme berupa Mikoriza dan Rhizobium untuk menyuburkan tanah sehingga tanaman dapat tumbuh dan berkembang dengan baik, juga diharapkan dapat berproduksi secara optimal.

Sementara itu, dalam pengembangan budidaya kacang tanah juga dilengkapi dengan penggunaan mesin olah tanah (tiller machine) sederhana untuk pengolahan tanah. Demikian pula untuk penanganan pascapanen juga dilakukan dengan alat atau mesin pengupas kacang tanah. Tujuan dari penggunaan mesin ini adalah untuk efisiensi tenaga kerja sehingga ketersediaan tenaga kerja yang terbatas dapat digunakan keperluan mengelola usaha tani secara lebih baik lagi.

Di acara tersebut, Mat Nasir menyambut baik dan berterima kasih kepada BPPT yang telah memberikan inovasi yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat di daerah tersebut.

Kepala Biro Perencanaan dan Keuangan BPPT Makmuri mengapresiasi acara ini sebagai bentuk tanggung jawab BPPT kepada masyarakat untuk pengembangan hasil bumi khususnya di Kabupaten Bangkalan, Madura sebagai sentra penghasil kacang tanah.

Diharapkan melalui pemasyarakatan teknologi Biofarming ini dapat berjalan secara berkesinambungan bahkan dapat terus berkembang pada daerah lainnya serta berdampak adanya multiplier effects yang semakin besar terhadap sektor-sektor lain sehingga akhirnya akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah. (Humas/HMP)

sumber: https://www.bppt.go.id/teknologi-agroindustri-dan-bioteknologi/2983-tingkatkan-produksi-budidaya-kacang-tanah-di-kabupaten-bangkalan-bppt-terapkan-teknologi-biofarming