JAKARTA—Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) mengadakan Leader Development Program for Indonesian Higher Education Leader (Program Pelatihan Manajemen bagi para Pimpinan Perguruan Tinggi Negeri) yang berlangsung di Hotel Santika, Jakarta, Kamis (12/10).

Acara ini merupakan acara yang ketiga yang digelar dalam tahun ini. Sebelumnya acara serupa juga sudah diselenggarakan di Kepulauan Belitung dan Daerah Istemewa Yogyakarta (DIY).

Pelatihan untuk para rektor Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang direncanakan akan dibuka oleh Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir, akhirnya diwakili oleh Direktur Jenderal Kelembagaan Iptek dan Dikti Patdono Suwignjo, turut hadir pula Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kamahasiswaan Kemenristekdikti, Intan Ahmad sebagai mentoring dalam pelatihan dan Kepala Pusdiklat Kemenristekdikti, Wisnu S. Soenarno.

Terselenggaranya program pelatihan ini diharapkan dapat membawa perubahan yang baik bagi Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan dapat meningkatkan kualitas PTN serta lulusannya dikancah internasional. Berkaca pada Negara Singapura yang masuk dalam peringkat 10 besar pada World Class Serticion System, menurut Dirjen Kelembagaan Iptek Dikti Patdono Suwignjo, Indonesia dengan anggaran yang lebih besar dibanding Singapura mestinya bisa menduduki peringkat serupa.

“Intinya bahwa kita itu mikirnya ketinggalan, yang orang-orang lain sudah mikir jauh sudah tidak hanya berkutik pada akademik saja tapi juga full di kehidupan untuk mengekspor potensi tapi kita masih mikirin akademik saja,” ujar Dirjen Patdono.

Selain untuk pelatihan manajemen, program ini juga dipercaya dapat membantu mengurangi resiko penyalahgunaan alokasi dana PTN. Menurut Dirjen Patdono, kesalahan yang terjadi selama ini kemungkinan besar karena kurang mengertinya para rektor tentang aturan menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan pertanggung jawabannya sehingga dalam pelaksanaan tugasnya timbul kesalahan-kesalahan.

“Pelatihan ini tujuannya untuk menyelamatkan bapak ibu semuanya supaya bisa selamat bertugas memimpin perguruan tinggi,” terangnya.

Adapun menurut Dirjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemenristekdikti, Intan Ahmad, program pelatihan seperti ini sangat bermanfaat seperti yang pernah ia rasakan. Pada tahun 2008 dirinya sempat mengikuti kegiatan serupa dimana pada program tersebut disampaikan edukasi tentang manajemen kepemimpinan, atmosfer budaya akademik dan pemahaman kepada mahasiswa agar tidak hanya terpaku pada ijazah semata. Menurutnya juga, mahasiswa harus diberi edukasi tentang arah masa depan mereka, tidak hanya bergantung pada melamar pekerjaan.

“Jadi ibu dan bapak di kampus perlu sampaikan juga pada mahasiswa sejak tingkat satu perlu berfikir tentang masa depan, apa yang perlu disiapkan agar tidak bertambah pengangguran, selalu saya katakan ini bukan untuk saya, tetapi ini untuk masa depan kamu supaya bisa lebih baik, kerja keras, ijazah saja tidak cukup,” papar Dirjen Intan.

Pada akhirnya, sektor sumber daya manusia yang menjadi penentu keberhasilan suatu bangsa. Perguruan tinggi merupakan jenjang lanjut dimana lulusannya langsung terjun ke masyarakat. Oleh karena itu dengan meningkatnya kualitas PTN, diharapkan dapat meningkatkan mutu SDM yang dihasilkan sehingga Indonesia akan menjadi bangsa yang semakin berlari kencang kedepan. (TJS)