Sering kita dengar begitu membahana kata hilirisasi di berbagai media berkelas Nasional bahkan Internasional terutama ketika masuk di era pemerintahan Presiden Joko Widodo, yang tidak lain intinya adalah mengantar hasil riset universitas atau lembaga litbang  masuk ke sektor Industri. Kenapa demikian?, karena pemerintah mengetahui  telah banyak dilakukan kegiatan riset di berbagai bidang fokus dan sektor pada masa pemerintahan sebelumnya, tetapi kenyataannya hasil riset itu sebagian berhenti di laci meja universitas dan lembaga litbang, ditengarai sedikit sekali hasil riset yang bisa diantarkan hingga skala industri dan masyarakat. Jikapun ada, umumnya adalah teknologi sederhana atau sering disebut teknologi tepat guna (TTG) yang dimanfaatkan untuk pemberdayaan masyarakat. Sebaliknya, proses produksi di sebagian besar Industri di Indonesia memanfaatkan teknologi impor.

Banyak kalangan melihat, Universitas dan industri seolah berjalan menurut tracknya masing-masing, tidak saling bersinggungan dan tidak saling mendapatkan manfaat. Jika hal ini berjalan terus maka seberapapun pemerintah mengalokasikan dana untuk riset dan pengembangan Iptek maka, tidak akan ada manfaatnya bagi industri dan masyarakat. Manfaat yang ada hanyalah untuk ilmu pengetahuan seperti penerbitan journal, bahan paparan dan prototipe laboratorium yang akhirnya hanya tersimpan di ruang-ruang penelitian universitas dan lembaga litbang.

Apa akar masalahnya?

Banyak kendala yang terjadi pada hilirisasi produk iptek untuk masuk ke skala ekonomi, namun setidaknya ada 3 (tiga) masalah mendasar yang menjadi faktor utama terhambatnya hilirisasi hasil riset universitas atau lembaga litbang ke Industri, yaitu :

(1) Lemahnya tingkat kesiapan teknologi (Technology Readiness Level-TRL).

Tingkat Kesiapan Teknologi merupakan ukuran untuk menentukan indikator yang menunjukkan seberapa siap atau matang suatu teknologi dapat diterapkan dan diadopsi oleh pengguna/calon pengguna. Tingkat Kesiapan Teknologi merupakan suatu sistem pengukuran sistematik yang mendukung penilaian kematangan atau kesiapan dari suatu teknologi tertentu dan perbandingan kematangan atau kesiapan antara jenis teknologi yang berbeda. Tingkat kesiapan teknologi yang rendah merupakan teknologi yang belum layak untuk diluncurkan kepasar, biasanya masih dalam bentuk prototipe laboratorium, belum teruji dan belum dapat dilihat kehandalannya. Teknologi yang tingkat kesiapannya tinggi adalah teknologi yang sudah proven, telah menjalani dan lulus berbagai pengujian teknis baik di tingkat laboratorium maupun uji lapangan yang sebenarnya.

Secara umum, tingkat kesiapan teknologi dapat dibagi kedalam 9 (sembilan) level yaitu TRL1 sampai TRL9. Ke 9 (sembilan) level tersebut dapat digolongkan kedalam 3 (tiga) kelompok besar yaitu: kelompok konsep dan disain teknologi (TRL1 sampai TRL3), kemudian kelompok prototiping level laboratorium (TRL4 sampai TRL6) dan lalu kelompok prototiping industri (TRL7 sampai TRL9). Masing-masing kelompok ini memiliki pra syarat, dimensi serta ciri yang sangat spesifik. Produk iptek yang telah mencapai TRL9 berarti sudah lulus uji di laboratorium, sudah lulus uji lapangan dengan beban uji seperti beban sebenarnya, dan produk iptek di level ini adalah sudah layak untuk dipasarkan artinya teknologi yang diterapkan sudah proven. Tetapi apakah produk iptek itu dapat  dipasarkan dan laku jual, maka jawabnya adalah belum tentu. Kenapa demikian?? Karena masih ada unsur lain penentu hilirisasi yang harus ditingkatkan parameternya  yaitu  kesiapan inovasi dan kesiapan manufaktur..

(2) Rendahnya tingkat kesiapan inovasi (Innovation Readiness Level-IRL)

Disamping teknologi, ada 4 (empat) faktor penting yang harus diperhatikan agar suatu produk iptek dapat dianfaatkan oleh Industri dan masyarakat, yaitu :

(a) Kemudahan menjangkau pasar.  Produk iptek yang dapat dipasarkan adalah produk yang diperlukan masyarakat, memiliki kualitas yang baik, harga yang relatif murah serta mudah didapat. Sehebat apapun produk yang diciptakan, tidak akan banyak berarti jika tidak dibutuhkan masyarakat. Produk tersebut akan sia-sia dan mangkrak..

(b) Bentuk organisasi yang digunakan. Harus dipahami bahwa organisasi merupakan faktor penting dalam rangka melaksanakan tata kelola, membagi pekerjaan serta fungsi dan tugas perusahaan sehingga dapat bergerak lebih efektif dan efisien.

(c) Mengembangkan partnership. Partnership merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari strategi mengantarkan produk iptek hingga sampai ke pasar, tanpa ada kerjasama maka produk iptek dapat  mengalami berbagai kendala. Membangun kerjasama dengan berbagai lembaga akan meningkatkan efisiensi serta menurunkan biaya yang tidak perlu.

(d) Memetakan faktor resiko. Harus dimengerti bahwa semua upaya yang dilakukan mengandung resiko, tentu dengan tingkat yang berbeda-beda, baik dalam permodalan, tata-kelola, sumberdaya maupun kelembagaan. Dalam hal ini pengusaha harus bisa memperhitungkan agar resiko dapat diminimalisir sehingga berada  ditingkat terendah.

(3) Minimnya kesiapan manufaktur (Manufacturing Readiness Level-MRL)

Dalam rapat kabinet di akhir Desember tahun lalu, Presiden Joko Widodo menyatakan dukungannya terhadap industri terkait dalam pelaksanaan Masyarakat Ekonomi ASEAN untuk meningkatkan daya saing,  “Betul-betul bisa kita gunakan untuk melangkah, untuk kita gunakan untuk memperkuat daya saing industri kita baik di BUMN atau swasta dan memperkuat daya saing UMKM kita, dan mendorong ekspor kita. Kita tak perlu ragu, tidak perlu khawatir. Yang terpenting adalah yang kurang diperbaiki yang belum baik diperbaiki, yang belum efisien diefisienkan dan yang belum memiliki daya saing agar diinjeksi supaya memiliki daya saing yang baik,” jelas Pak Presiden Jokowi yang dicatat oleh beberapa media saat itu. Ini menegaskan betapa pentingnya daya saing bangsa dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Daya saing telah menjadi faktor kunci dalam memenangkan peran Indonesia di era MEA, sementara daya saing yang tinggi diperoleh dari relevansi dan produktivitas riset yang dilakukan oleh universitas dan lembaga litbang, karena itu kita perlu meningkatkan produktivitas hasil riset ke level industri menjadi barang  dan jasa yang bermanfaat secara keekonomian.

Dalam tataran makro, World Economic Forum (WEF)mengidentifikasi terdapat 5 (lima) faktor penting untuk mempertahankan daya saing, yaitu: (a) Tingkat kondusivitas kondisi ekonomi makro; (b) kualitas kelembagaan publik dalam menjalankan fungsinya sebagai fasilitator dan pusat pelayanan; dan (c) kebijakan pengembangan teknologi dalam memfasilitasi kebutuhan peningkatan produktivitas. Sementara itu, pada tataran mikro atau tataran operasional, terdapat 2 (dua) faktor yang menonjol yaitu: (a) efisiensi teknis usaha; dan (b) iklim persaingan usaha. Untuk meningkatkan efisiensi usaha ditingkat operasionalisasi perlu melakukan identifikasi hambatan pemborosan dan penurunan biaya produksi, terutama  pada titik-titik kritis sebagai berikut :

(1) Waktu tunggu : yaitu waktu yang dibutuhkan untuk menunggu material yang belum datang, mesin-mesin yang sedang dalam perbaikan, waktu start awal mesin produksi, menunggu orang-orang yang belum siap di tempatnya pada saat akan menjalankan proses produksi, dan sebagainya.

(2) Produksi yang berlebih : yaitu memproduksi melebihi dari pada jumlah yang dibutuhkan oleh pelanggan baik pelanggan internal maupun eksternal. Hal ini bisa disebabkan oleh inkonsistensi metode kerja, waktu penggantian produk yang satu ke produk yang lain yang panjang, kurangnya pelatihan yang tepat, kualitas material yang jelek, dll.

(3) Transportasi : yaitu memindahkan material dalam jarak yang jauh dari satu proses ke proses berikutnya, disebabkan oleh organisasi tempat kerja (workplace) yang tidak terencana, lokasi penyimpanan material yang saling berjauhan dll.

(4) Proses : yaitu mencakup proses-proses tambahan yang tidak efisien, seperti pemakaian energi berlebih untuk proses pemanasan, proses kerja yang dibuat serial padahal tidak saling berhubungan yang seharusnya bisa dilakukan paralel, dll

(5) Pergerakan : yaitu merupakan pergerakan baik dari orang maupun mesin yang tidak menambah nilai kepada barang yang dihasilkan. Hal ini disebabkan karena layout mesin yang tidak terencana dengan baik, design mesin yang tidak standard dll. Misalkan seorang operator mesin harus memutar melewati beberapa alat hanya untuk menekan tombol, hal seperti ini sangatlah tidak efisien

(6) Inventory : perencanaan penggunaan material yang tidak tepat dapat mengakibatkan aliran kerja yang tidak seimbang. Peramalan penjualan yang buruk juga mempengaruhi kondisi aliran inventory.Inventory dalam jumlah banyak di gudang merupakan pemborosan, terlebih jika gudang tersebut adalah sewa, tentu memberatkan cashflow perusahaan.

(7) Produk cacat : yaitu produk yang dihasilkan tidak sempurna, cacat, tidak sesuai dengan standard yang ditetapkan perusahaan. Hal ini akan menyebabkan pengerjaan ulang atau produk harus dimusnahkan.

Lantas apa solusinya??

Di tingkat makro strategis, diperlukan sinkronisasi dan kolaborasi kebijakan strategis terintegrasi antara universitas atau lembaga litbang, pemerintah dan dunia usaha dalam rangka membangun kerjasama  triple helix yang kuat. Di level ini para pihak harus mampu membuat kebijakan yang terintegrasi dalam suatu kerjasama sinergis sesuai tugas dan fungsinya. Kebijakan yang dibuat paling tidak harus saling menguntungkan ketiga pihak yang menandatangani perjanjian tersebut.

Di level meso, harus disepakati kolaborasi antar pihak dalam struktur kerja dibawah top manajemen untuk membuat program yang sinergis agar produk iptek yang diintegrasikan di level top manajemen benar-benar bisa jabarkan dan di deliver ke pasar. Di sini para pihak harus mencantumkan tanggungjawab dan hak masing-masing. Bahkan, membangun komitmen, menentukan standar kompetensi, jenis kelembagaan serta sumberdaya harus direncanakan dan dikembangkan secara bersama-sama.

Di level mikro teknis para pihak harus dapat membangun kegiatan produktif sinergis, sehingga semua faktor yang menentukan target produksi bisa ditetapkan dan dicapai dalam waktu yang disepakati.

Dengan cara di atas, faktor-faktor yang menentukan inovasi dapat dikembangkan sejak dini, yaitu sejak kerjasama tiga pihak (triple helix) dibentuk, atau sejak pertama mulai menentukan grand strategi dari sebuah produk inovasi. Cara ini akan menjamin proses hilirisasi untuk mengantarkan produk iptek hingga sampai ke pasar.

sumber: http://www.wargapeduli.com/2016/06/sepak-terjang-hilirisasi-hasil-riset/

Agus Puji Prasetyono

Staf Ahli Menteri bidang Relevansi dan Produktivitas
Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia