PIH UNAIR – Program Studi Magister Ilmu Linguistik, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Airlangga, terus melakukan penguatan kerja sama internasional. Kali ini penguatan itu berupa kunjungan ke Waseda University, Jepang.

Dalam kunjungan tersebut, prodi S2 ilmu linguistik diwakili Dr. Ni Wayan Sartini (ketua program studi); Deny Arnos Kwary, Ph.D. (ketua minat linguistik); dan Viqi Ardaniah, M.A.Ling. (ketua gugus penjaminan mutu).

Kunjungan ke School of Education, Waseda University, pada 11 Oktober 2017 itu diawali dengan menghadiri kuliah di program magister. Prof. Tetsuo Harada menjadi pengisinya. Ketiga perwakilan FIB diberi kesempatan untuk bergabung dengan mahasiswa program magister pendidikan dalam Kelas Tetsuo.

Mewakili tim, Viqi menyatakan bahwa dalam kelas tersebut, terdapat 12 mahasiswa. Kelas itu juga didesain tidak seperti kelas konvensional. Satu meja dikelilingi tiga hingga empat mahasiswa. Jadi, para mahasiswa bisa berdiskusi dengan teman lainnya.

“Terdapat seorang mahasiswa ‘distant learning‘ yang mengikuti kuliah dengan Skype juga. Tujuan kunjungan prodi magister ilmu linguistik ke sana adalah belajar tentang bagaimana suasana kelas magister di school of education itu diselenggarakan,” jelas Viqi.

Setelah belajar tentang mekanisme di dalam kelas, kegiatan selanjutnya diisi dengan diskusi antara tim S2 Ilmu Linguistik UNAIR dan Prof. Tetsuo. Dalam diskusi tersebut, Deny menanyakan banyak hal tentang kurikulum di prodi magister Waseda University. Sementara itu, Viqi lebih menanyakan evaluasi dan monitoring pembelajaran yang dijalankan di sana.

Dia menambahkan, ada beberapa perbedaan kurikulum. Di antaranya, mahasiswa magister di school of education tidak diwajibkan untuk publikasi di jurnal internasional yang terindeks Scopus. Mahasiswanya hanya diminta bisa belajar cara membuat dan menjalankan riset untuk persiapan disertasi di program doktor.

Selanjutnya, Viqi menyampaikan bahwa saat tahap penerimaan mahasiswa baru, seleksinya meliputi tes yang berkaitan tentang pengetahuan bahasa dan sastra tingkat dasar. Jadi, calon mahasiswanya bisa berasal dari berbagai jurusan di program S1.

“Yang terpenting, mereka mampu lolos dalam tes kompetensi sastra dan bahasa secara umum,” tegasnya. “Mahasiswa di sana juga tidak dituntut untuk memiliki skor TOEFL tertentu sebagai syarat lulus sebagai sarjana magister di school of education,” imbuhnya.

Dalam diskusi tersebut, Viqi mempromosikan adanya program pertukaran mahasiswa di tingkat magister melalui Amerta for Master Students. “Prodi magister ilmu linguistik membutuhkan banyak mahasiswa inbound atau outbound sebagai target internasionalisasi,” tuturnya. (PIH UNAIR)