Semarang – Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir menjadi pembicara pada Seminar Nasional Keluarga Alumni Perikanan Undip dengan tema “Kiprah Perguruan Tinggi Pada Kebijakan Poros Maritim Dalam Mendukung Upaya Ketahanan Pangan” di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Sabtu (11/11/2017).

Seminar tersebut dihadiri juga oleh Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri dan Direktur Utama BTN Maryono.

Indonesia sangat potensial menjadi negara maritim dengan kekayaan laut dan pulau yang dimilikinya. Sejalan dengan misi menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia, Pemerintahan RI yang dipimpin oleh Presiden Joko Widodo sangat memfokuskan bidang maritim untuk meningkatkan perekonomian.

Di hadapan para alumni dan mahasiswa FPIK Undip, Nasir mengatakan bahwa Kemenristekdikti sudah membuat sebuah desain untuk pengembangan riset dan teknologi skala nasional, yaitu Rencana Induk Riset Nasional (RIRN) yang di dalamnya mencakup tentang kemaritiman untuk mengembangkan potensi laut Indonesia. Riset ini menyangkut eksplorasi dan pemanfaatan sumber daya pesisir dan laut.

Selain itu menurut Menteri Nasir, teknologi juga berperan penting dalam eksplorasi potensi yang ada di laut. “Untuk meningkatkan hasil dari potensi laut di Indonesia, teknologi untuk industri perikanan harus mengikuti perkembangan,” ungkap Nasir.

Teknologi tersebut antara lain, adalah seperti yang sudah diterapkan dalam pembuatan kapal pelat datar yang menggunakan baja tanpa lekukan.

Di samping itu, Menteri Nasir menerangkan ada beberapa isu bidang maritim yang perlu diperhatikan, diantaranya :

(1) Kurangnya infrastruktur maritim pendukung bisnis dan industri,

(2) Kurangnya pasok SDM kelautan terkait industri/usaha kelautan,

(3) Belum banyak kerjasama dengan universitas,

(4) Lembaga riset kelautan belum menjadi prioritas,

(5) Budaya kelautan belum menarik perhatian masyarakat,

(6) Topik riset kelautan masih belum banyak,

(7) Belum banyak kerjasama dengan industri terkait riset kelautan.

Hal-hal tersebut menjadi tantangan yang harus dihadapi pemerintah dalam pembangunan maritim.

Mengikuti perkembangan zaman yang telah memasuki era ekonomi digital, Menteri Nasir juga mengungkapkan bahwa inovasi diperlukan dalam pengembangan program studi perikanan dan kelautan. “Prodi-prodi kekinian menjadi sangat penting, jika tidak maka akan tertinggal,” kata Nasir. Ia kemudian mencontohkan di perikanan yang sarat dengan teknologi informasi, dosen-dosennya bisa saja berlatar belakang IT atau bisa berkolaborasi dengan jurusan IT. Dimasa yang akan datang integrasi ilmu pengetahuan dan teknologi, melalui pendekatan holistik secara menyeluruh perlu dipertimbangkan dalam mengembangkan Iptek dan Inovasi bidang maritim, termasuk transportasi laut, budidaya perikanan dan pendayagunaan sumber daya kelautan lainnya. (SH/BKKP)

Galeri