“Revitalisasi pendidikan tinggi vokasi itu bisa terlihat dari apa yang dibutuhkan oleh dunia industri dan kebutuhan itu sudah disiapkan oleh dunia pendidikan.” Demikian dikatakan Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia I Made Dana M Tangkas dalam talkshow Revitalisasi Pendidikan Tinggi Vokasi pada pameran Education and Training Expo 2017, yang diselenggarakan di Hall B Jakarta Convention Center, Kamis (2/2/2017).

Dana M Tangkas sangat mengapresiasi adanya program revitalisasi pendidikan tinggi vokasi Kemenristekdikti yang tahun ini mulai dilakukan.  “Saya kira ini adalah suatu hal yang bagus dan juga terobosan yang positif untuk kita dukung demi menggerakan industri yang ada di Indonesia.” ujarnya

PT Toyota sendiri, menurutnya, sudah bekerjasama dengan puluhan perguruan tinggi termasuk politeknik dan SMK (Sekolah Menegah Kejuruan), sehingga dalam kerjasama itu kita melihat bagaimana memanfaatkan produk – produk toyota dari mobilnya, mesinnya, dan komponen yang lain kita donasikan ke perguruan tinggi, kemudian di perguruan tinggi itu bisa dijadikan alat untuk riset,” lanjutnya.

Selain Dana M Tangkas, narasumber talkshow lainnya adalah Direktur Politeknik Negeri Bandung Rachmad Imbang Tritjahjono dan Sekretaris Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Kemenristekdikti, Sutrisna Wibawa.

Direktur Politeknik Negeri Bandung mengatakan nilai yang diberikan dalam pembelajaran mahasiswa vokasi untuk menjadi lulusan yang siap kerja dengan baik, seperti sikap hingga kedisiplinan. “Value yang di terapkan pendidikan politeknik adalah jujur, tanggung, cerdas, cermat, mampu bekerjasama yang akan memberikan kedisiplinan dalam tepat waktu, tepat ukuran dan tepat aturan,” ujarnya.

Sementara itu Sutrisna Wibawa menjelaskan, perbedaannya dengan pendidikan akademik, maka pendidikan vokasi arahnya bagaimana menghasilkan lulusan siap kerja, terampil, sedangkan pendidikan akademik yang dihasilkan lulusan yang memiliki keahlian.

“Jadi, jika anda ingin menjadi tenaga terampil yang siap kerja, masuklah di politeknik atau pendidikan vokasi. Tidak hanya politeknik, universitas juga memiliki pendidikan vokasi yang bernama sekolah vokasi yang umumnya sampai D3,” kata Sutrisna.

Saat ini perusahaan tidak hanya melihat para pencari kerja hanya dari selembar ijazah, tapi keterampilan dan keahlian juga sangat diperhatikan. Untuk memperoleh keterampilan di dunia kerja, biasanya para mahasiswa di perguruan tinggi mengikuti magang di dunia industri maupun perusahaan selama tiga bulan.

Waktu tersebut dapat dikatakan belum cukup, untuk para mahasiswa dalam memperoleh keterampilan bekerja, sehingga banyak lulusan yang menganggur karena belum siap untuk bekerja. Namun, melalui kinerja Kemenristekdikti dalam merevitalisasi pendidikan tinggi vokasi, para mahasiswa tidak perlu khawatir dalam mencari pekerjaan setelah lulus nanti.

Revitalisasi adalah bagaimana memberdayakan atau membuat politeknik memiliki hasil lulusan yang siap kerja sesuai dengan yang dibutuhkan industri, atau dibutuhkan oleh masyarakat. Berangkat dari hasil itu, maka lulusan politeknik dan sekolah vokasi harus memiliki kompetensi, yang tergambar dalam sertifikat kompetensinya. (NF/KL)