Siang hari itu raut muka Yulisa Mulyani dan Fatimah penuh dengan senyum. Dua aluh bungas (red:wanita cantik) itu tertunduk malu sambil memberanikan diri untuk berkata-kata di hadapan seseorang yang mungkin tidak diduga sebelumnya datang kerumahnya di Jalan Alalak Tengah, Banjarmasin. Yulisa Mulyani dan Fatimah, yang didampingi orangtua masing-masing, menerima kehadiran Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Mohamad Nasir, yang mungkin selama ini hanya bisa dilihat di media-media cetak maupun elektronik. Mereka adalah dua dari mahasiswa penerima beasiswa BidikMisi yang memberikan harapan bagi generasi emas penerus bangsa, walaupun berasal dari keluarga yang kurang beruntung (mampu). “Negara Hadir untuk Bangsa” tidak hanya ucapan semata, akan tetapi program Kemristekdikti Bidikmisi memberikan harapan bagi generasi muda Indonesia dari semua kalangan. Kunjungan Menristekdikdi Mohamad Nasir ke rumah dua orang gadis cantik penerima beasiswa tersebut didampingi oleh Dirjen Pembelajaran dan Mahasiswa Intan Ahmad, Rektor Universitas Lambung Mangkurat Sutarto Hadi, Koordinator Kopertis Wilayah XI Idiannor, Anggota Komisi X DPR RI Zainul Arifin, dan segenap pejabat Kemristekdikti.

Menristekdikti Mohamad Nasir, memulai pembicaraan dengan mengucapkan apresiasi atas diterimanya Yulisa Mulyani dan Fatimah di Universitas Lambung Mangkurat dan menerima Bidikmisi. Menteri Nasir menanyakan dengan bergurau, “Apakah dipungut bayaran ketika berkuliah di Universitas Lambung Mangkurat?” Kedua mahasiswi pandai itu mengatakan, “Saya tidak bayar Pak, kan sudah dibayar oleh Pak Menteri”. Nasir pun menanggapinya sambil tersenyum dan memberikan nasehat kepada keduanya agar semakin belajar rajin dan bertambah pintar. Beliau juga menjanjikan apabila keduanya sudah lulus dengan baik, dapat melanjutkan kuliah lagi ke jenjang yang lebih tinggi dengan beasiswa lain yang ada di Kemristekdikti. “Mau sekolah dimana saja nanti silakan, kalau bisa keluar negeri, nanti dibiayai”, ujarnya. Keduanya pun nampak makin bersemangat menanggapi tiap perkataan Bapak Menteri. Orang tua Yulisa Mulyani dan Fatimah, yang duduk berseberangan dengan Menteri terlihat berseri-seri mendengar perkataan Menteri yang berasal dari Universitas Diponegoro tersebut. Kunjungan ini menjadi kunjungan yang mengejutkan bagi keluarga Yulisa dan Fatimah, karena selama ini mereka tidak pernah bermimpi dapat dikunjungi langsung oleh Menristekdikti beserta para pendamping.

Dalam jumpa pers siang itu, Menristekdikti Nasir memberikan penjelasan bahwa Kemristekdikti sangat memperhatikan anak Indonesia yang secara ekonomi tidak beruntung supaya dapat masuk ke Perguruan Tinggi. “Ini harus kita lakukan, karena kita ingin memutus mata rantai kemiskinan, agar anak Indonesia ke depan semakin sejahtera, cerdas dan bisa memajukan bangsa Indonesia”, tegasnya. Beliau melanjutkan bahwa program nasional untuk Bidik Misi disediakan untuk 60.000 orang setiap tahun, total beasiswa yang ada sekarang sekitar 290.000 dan diproyeksikan dalam empat tahun kedepan dapat mencapai angka 350.000 mahasiswa. Untuk daerah Kalimantan Selatan sampai saat ini sudah mencapai angka 4.600 mahasiswa yang sudah dibiayai. Program ini juga tidak hanya untuk PTN tapi juga diterapkan di PTS. “Kalau anak Indonesia belum bisa berkesempatan di PTN, PTS pun juga bisa menampung mahasiswa Bidik Misi. Contohnya adalah Yulisa dan Fatimah yang bisa mengenyam pendidikan tinggi tanpa biaya dan semua dibiayai oleh Negara”, jelasnya.(dzi/bkkpristekdikti)