Rumpon telah terbukti dapat meningkatkan efisiensi penangkapan ikan melalui ketepatan daerah penangkapan. Rumpon portable merupakan pengembangan dari rumpon konvensional yang menggunakan konsep respon ikan terkait penggunaan frekuensi suara, tali rafia pada atraktor dan lampu.

Ikan pelagis dibedakan menjadi ikan pelagis besar dan ikan pelagis kecil. Biasanya penangkapan ikan pelagis menggunakan alat bantu penangkapan yaitu rumpon.

Tiga orang peneliti yaitu Roza Yusfiandayani, Mulyono S. Baskoro dari Departemen Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan dan dan Indra Jaya dari Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor (FPIK IPB) melakukan percobaan dalam rekayasa rumpon portable untuk pengelolaan ikan pelagis di Indonesia.

Tujuannya ialah merancang dan menyempurnakan prototipe rumpon portable, menganalisis komposisi, panjang berat, tingkat kematangan gonad, serta menganalisis gaya apung dan gaya tenggelam rumpon portable. Penelitian dilakukan di laboratorium dan uji coba lapangan di perairan Jepara, Jawa Tengah.

Analisis yang dilakukan tim ini meliputi panjang dan berat hasil tangkapan, komposisi hasil tangkapan, tingkat kematangan gonad dan analisis gaya apung dan gaya tenggelam rumpon portable.

Prototipe rumpon portable memiliki ukuran p x l x t : 64 cm x 42 cm x 28 cm. Komposisi ikan dominan hasil tangkapan di sekitar rumpon portable adalah 83 ekor ikan kembung, 57 ekor ikan todak dan 51 ekor ikan tongkol. Hubungan panjang berat ikan kembung bersifat allometrik positif dengan nilai b sebesar 3.275 dan tingkat kematangan gonad I, II, III, IV adalah 28%, 55%, 14% dan 3%. Total gaya apung dan gaya tenggelam rumpon portable adalah 1928888,2 GS dan 179538,19 GS.(IR/Zul)

 

Roza Yusfiandayani 08128600535

Mulyono S. Baskoro 08128390013