Hambatan utama produksi tanaman di lahan daerah tropis yang mengalami pelapukan diantaranya karena kemasaman tanah  (pH) dan kesuburan tanah rendah (defisiensi Ca Mg, dan P), tingginya kemasaman dapat dipertukarkan, kejenuhan Aluminium (Al) dan Al monomer tinggi. Nilai pH tanah yang rendah dan kandungan Al tinggi memengaruhi retensi fosfor (P) yang selanjutnya menurunkan ketersediaan P dalam tanah. Selain itu, kandungan ion-ion Al yang tinggi dalam tanah dapat menghambat pertumbuhan akar secara cepat. Akibatnya serapan hara dan air terganggu.
Tim peneliti dari Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian, IPB yang terdiri dari Lilik Tri Indriyati, Budi Nugroho, dan Fahrizal Hazra melakukan penelitian dalam upaya menanggulangi permasalahan yang terjadi pada tanah masam tersebut
Di Indonesia ini banyak tanah-tanah masam yang khas sekali. Jenis tanah asam yang konsolid di Gajrug  mengandung Alumunium yang sangat tinggi, pH-nya rendah artinya tingkat kesuburannya rendah sekali. Menariknya KTK (kapasitas tukar kation) tanahnya relatif tinggi yaitu kemampuannya mengikat kation, sehingga tidak banyak yang hilang. Tetapi pada jenis tanah podsolik banyak mengandung Alumunium yang merupakan bukan unsur hara, jika kebanyakan bisa menyebabkan tanaman keracunan, akarnya jadi menebal, sehingga kurang bisa menyerap unsur hara. Itu yang kita coba hilangkan. “Biasanya orang menghilangkannya dengan kapur. Padahal kapur itu berasal dari barang tambang dan ketersediaannya semakin terbatas. Sebagai alternatif kita coba gunakan dengan yang tersedia di lingkungan khususnya bahan organik. Bahan organik bisa berupa limbah pertanian, limbah peternakan dan sebagainya,” kata Lilik.
Dalam penelitian ini bahan organik yang digunakan pupuk kandang ayam, pupuk kandang sapi, bahan tanaman legum, jerami padi, dan campuran jerami padi dan pupuk kandang sapi dengan perbandingan 1:1. Takaran bahan organik yang diberikan setara dengan 7,5 ton per hektare dan 15 ton per hektare. Tanaman indikator yang digunakan adalah jagung manis (Zea mays saccharata L.) dan parameter yang diukur adalah kandungan Al, pH, P-tersedia, dan aktivitas enzim fosfatase dalam tanah, serta pertumbuhan tanaman jagung manis.
“Beberapa jenis bahan organik kita coba berikan ke dalam tanah, apakah bisa mengurangi Al tadi supaya tidak meracuni. Dari hasil percobaan ini menunjukkan hasilnya ada penurunan. Kalau dilihat dari jenis, bahan organik yang paling bagus adalah kotoran ayam. Bahan ini dapat menurunkan Al. Hal itu terlihat pada percobaan  di pot, dimana  untuk bahan organik lain tanaman lain  menderita, hanya pada pemberian kotoran ayam yang lumayan bagus,” terang Lilik.
Al tersebut diikat oleh asam-asam organik di dalam tanah. Asam-asam organik di dalam tanah termasuk humus mengikat Al tersebut sehingga menjadi tidak aktif. Akibatnya Al tidak  tersedia dan tidak dapat diambil oleh tanaman. Tanaman bisa mengambil kalau dia dalam kondisi tersedia  dan aktif, jadi unsur tersebut dibuat tidak aktif sehingga dia akan membentuk senyawa yang bobot molekulnya tinggi dan tidak bisa diambil  akar. Menurut Lilik, sama kalau dianalogikan pada orang keracunan. “Kalau racun di meja ini banyak tapi kita tidak makan apakah kita akan keracunan? Kan tidak. Sama dengan tanaman, kalau di sekitarnya tidak tersedia maka dia tidak bisa dimakan dan kalau tidak bisa dimakan maka tidak akan keracunan. Yang disebut keracunan kalau dia sudah masuk ke dalam tubuh kemudian menyebabkan reaksi yang negatif itu disebut keracunan,” ungkapnya.
Hasil dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa bahan organik yang diberikan secara nyata mampu menurunkan kandungan Al dan meningkatkan nilai pH, P-tersedia, aktivitas enzim fosfatase tanah masam Podsolik Merah Kuning dari Gajrug, Bogor dan pertumbuhan tanaman jagung manis. Pupuk kandang ayam menunjukkan potensi perbaikan sifat kimia tanah yang lebih baik dibandingkan dengan jenis bahan organik lainnya, terutama dalam menurunkan kandungan Al dan meningkatkan aktivitas enzim fosfatase, dan P-tersedia dalam tanah, serta pengaruhnya pada peningkatan pertumbuhan tanaman jagung manis di tanah masam. Hasil uji korelasi menunjukkan bahwa Al nyata berkorelasi negatif dengan kandungan P tersedia tanah dan pH tanah. (IRM/ris)