PIH UNAIR – PEMBERIAN terapi insulin termasuk jenis obat-obatan diabetes kimia berstandar maupun obat herbal berstandar terus dikembangkan. Sayangnya, cara tersebut belum sepenuhnya menyelesaikan masalah. Setiap tahun penderita diabetes millitus (DM) masih meningkat. Pasien baru bertambahan. Tak sedikit pasien lama yang berakhir pada komplikasi penyakit mematikan.

Dr. Bambang Purwanto, dr., M.Kes tak habis pikir melihat fenomena diabetes di Indonesia. Meski ia bukan seorang dokter spesialis penyakit dalam yang intens menangani pasien DM, tetapi naluri sebagai dokter ahli ilmu faal menuntunnya untuk ikut memikirkan persoalan penyakit “rakyat” itu.

Pengamatannya, karakteristik pengobatan sekarang ini masih berfokus pada pengendalian glukosa darah. Sedang aspek lain belum tertangani. DM adalah penyakit yang tidak bisa disembuhkan. Seorang diabetisi (penderita diabetes) harus disiplin menjalani terapi insulin agar gula darahnya terkontrol baik dan terhindar dari resiko penyakit komplikasi. Nah, apakah diabetisi ini akan selamanya bergantung dengan terapi insulin?

”Jika sudah diberi suatu dosis, lambat laun dosisnya harus dinaikkan. Ini yang seringkali membuat diabetisi merasa berat di ongkos dan bosan. Akhirnya target terapi tidak tercapai, dan dosis obatnya terus ditingkatkan,” jelas Bambang.

Terdorong mencari tahu letak permasalahannya, katanya, perlu terobosan yang dapat membantu mengoptimalkan pengobatan yang ada. Bersama tim peneliti dari Departemen Ilmu Faal Fakultas Kedokteran UNAIR, ia melakukan inovasi membuat insole (sol) sepatu yang terbukti efektif menurunkan gula darah. Ditemui Warta Airlangga, Bambang menekankan, insole ini bukan untuk menggantikan terapi insulin, tetapi untuk memaksimalkan terapi pengobatan yang ada.

Insole temuanntya ini sudah terbukti mampu menurunkan kadar glukosa darah dengan cepat, membuat kadar glukosa darah menjadi stabil, sehingga dampaknya dapat membantu diabetisi mengurangi ketergantungan konsumsi obat.

Lahirnya produk ini tidak sederhana. Perlu waktu tujuh tahun untuk membuktikan bahwa hasil inovasi ini benar-benar nyata. Penelitian diawali tahun 2010. Selama ini, pemberian terapi insulin dan obat diabetes lainnya memang bisa menurunkan kadar glukosa darah, namun penurunannya belum cukup menjamin ketersedian energi Adenosine triphospat (ATP), satuan energi dalam sel.

ATP merupakan substansi kimia yang langsung bisa diubah menjadi energi. Pada diabetisi, jumlah ATP berkurang karena jumlah substrat (glukosa) yang dipakai membuat ATP tak tersedia, sehingga gagal masuk ke dalam sel. Padalah ATP sangat diperlukan untuk sintesis protein dan diubah menjadi energi. Ketersediaan ATP yang kurang itu menjadi persoalan besar bagi penderita DM.

Setelah dipetakan, tim melakukan serangkaian eksperimen untuk menghasilkan cara terbaik menurunkan glukosa darah tanpa harus mengonsumsi obat. Eksperimen pertama menggunakan mencit yang dibekali aktivitas menuruni media alat dengan sudut kemiringan 10-15 derajat.

”Dalam posisi menurun, otot bagian belakang tungkai akan meregang. Kondisi ini menstimulasi ambilan glukosa yang terserap secara signifikan dalam otot. Setelah dilakukan pengujian, cara ini paling efektif mengurangi kadar glukosa darah,” jelasnya.

Setelah tahap percobaan pertama, tahun 2014 dilanjutkan dengan menerapkan pada manusia. Ketika manusia melakukan jinjit saat menuruni media apakah mekanikanya sama dengan kondisi tikus menuruni media alat dengan jinjit? Ternyata tidak jauh berbeda.

Pada posisi jinjit, otot betis manusia mampu menahan 10 kali berat badan. Jadi kebutuhan energi untuk menahan 10 kali berat badan itu sangat besar. Jadi kadar glukosanya cepat turun. Karena dalam posisi jinjit, tungkai bisa menarik energi lebih besar, jadi membutuhkan asupan gula lebih banyak. Signal ini dibaca oleh tubuh bahwa kebutuhan energi yang besar membutuh gula lebih banyak. ”Dari  situ kami observasi bahwa gula darah orang saat posisi kaki jinjit lebih cepat turun,” tambah Bambang Purwanto.

Guna meyakinkan itu, Bambang melakukan survei, membandingkan sekelompok wanita penggemar high heels dengan yang tidak. Ternyata, yang suka pakai sepatu jinjit sering merasa cepat lapar. Jadi jika dihubungkan dengan data observasi sebelumnya, hasil survei itu berkaitan.

 

Sepatu Kedodoran

Menuangkan hasil penelitian menjadi produk insole tidak serta-merta tercipta. Unsur ketidaksengajaan malah menginspirasi lahirnya insole sepatu ini. ”Tak sengaja saya beli sepatu, tapi kedodoran. Isteri menyarankan agar bagian tungkai diganjel dengan kertas. Ketika saya coba, ternyata sepatu jadi lebih nyaman. Dan baru sadar setelah terganjal maka posisi kaki jadi sedikit jinjit,” katanya.

Seketika itu muncul ide untuk mengembangkan penelitiannya lagi. Apalagi, sol model tinggi di bagian belakang, belum pernah ada. Akhirnya terfikir membuat yang seperti itu. Tim lalu memesan sejumlah insole sepatu pada pengrajin. Desain dan bahannya dibuat khusus dengan derajat kemiringan yang telah dihitung. Kemudian diujicobakan pada sejumlah subyek penelitian, yaitu para ladies penggemar high heels.

Setelah lima hari memakai insole sepatu berkemiringan 10 derajat, kadar glukosa para ladies itu turun signifikan, tetapi tetap nyaman. Sedang eksperimen pada kemiringan 15 derajat membuat nyeri di betis, terlalu miring. “Jadi yang paling pas insole berkemiringan 10 derajat,” kartanya.

Secara tak langsung pengguna insole ini melakukan aktivitas olah raga, jadi otot kaki dilatih berkontraksi dan menstimulasi otot agar tetap berada pada ukuran yang tepat, sehingga memicu terbentuknya energi dan proses metabolisme tubuh membaik.

”Penderita DM itu umumnya lemas, padahal kadar gulanya tinggi, sementara energi yang dihasilkan rendah. Selain itu, memakai insole ini juga mencegah resiko pengecilan otot, varises, dan komplikasi yang kerap dialami kebanyakan diabetisi,” tambang Bambang, yang beberapa ditunjuk menjadi dokter Tim POMNAS Jawa Timur.

Pemakaian insole ini juga dapat menurunkan ketergantungan konsumsi obat diabetes. Dosis bisa diturunkan, jadi menekan biaya pengobatan. Pertanyaannya, apakah hanya diabetisi yang boleh memakai insole ini?

”Bukan hanya untuk diabetisi, yang sehat pun bisa menggunakan ini sebagai upaya preventif. Karena efektif menurunkan kadar gula darah,” ungkapnya.

Jika sebelumnya insole ini diujicobakan pada model non-diabetes, tahun ini dikembangkan pada penderita DM. Diperkirakan penelitian ini baru rampung tahun depan. Berikutnya, mengurus daftar hak cipta. Namun meski masih dalam tahap uji coba, tidak sedikit yang menyarankan untuk sekaligus membuat sepatu khusus diabetes. Namun Bambang memilih fokus membuat insole sepatunya dahulu.

Ia berharap, insole buatannya ini dapat membantu meningkatkan kualitas hidup diabetisi, dan dapat diproduksi secara massal sehingga dapat menekan biaya produksi. ”Kami mencoba suatu desain yang bisa dipakai secara universal. Kalau sol sepatu kan bisa dipasangkan ke sepatu model apa saja, jadi juga bisa dipakai oleh siapa saja,” pungkasnya. (*)