PIH UNAIR – Rektor dan perwakilan rektor dari 10 Perguruan Tinggi Negeri di Jawa Timur menghadiri rapat kerja yang berlangsung di Universitas Negeri Surabaya, Kamis (17/10). Rapat kerja itu membahas mengenai solusi untuk industrialisasi di Jawa Timur.

Kesepuluh PTN itu adalah UNAIR, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Brawijaya (UB), Universitas Negeri Malang (UM), Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel, Universitas Trunojoyo Madura (Unijoyo), Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” (UPN), Universitas Negeri Jember (Unej), Universitas Negeri Surabaya (UNESA), dan Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim.

Hadir dalam acara itu Gubernur Jawa timur yang juga alumnus UNAIR Soekarwo. Soekarwo menginginkan, PTN se-Jawa Timur dapat bersinergi dalam permasalahan SDM di Jawa timur. Hal ini bertujuan untuk mengoptimalkan potensi yang ada di Jawa timur.

“Provinsi jawa timur memiliki potensi yang besar ditambah menjadi pusat perekonomian Indonesia timur. Ini menjadi peluang untuk bisa keluar dari segala permasalahan perkotaan seperti penganguran,” ucapnya Soekarwo dalam sambutanya.

Soekarwo mengatakan, saat ini terdapat lebih dari 800 ribu pengangguran di Jawa timur. Pendidikan dan industrilisasi memiliki kaitan yang erat, keduanya dapat mendukung pengembangan wilayah di Jawa timur.

Adanya bonus demografi dan urban trend dimana anak muda pedesaan banyak hijrah ke perkotaan menambah angka pengangguran. Kurangnya kesiapan berdampak pada timbulnya permasalah baru. Untuk itu, kesiapan tenaga kerja dari bonus demografi harus ditunjang dengan skil yang mumpuni.

“Jawa timur saat ini masih menjadi daerah pemasok bahan baku. Ke depan, semoga kehadiran PTN dapat menjadikan bahan baku memiliki nilai jual yang lebih tinggi,” ucap Soekarwo.

Mewakili PTN, Rektor UNAIR Prof. Moh Nasih mengatakan, PTN di Jawa Timur utamanya UNAIR siap membantu dalam menunjang kebijakan daerah. PTN siap berkontribusi dalam meningkatkan SDM. Nasih mengatakan, permasalahan SDM yang menjadi kendala saat ini terletak pada calon mahasiswa yang kurang selektif dalam memilih jurusan. Hal ini berdampak pada kurang fokusnya mereka dalam menjalani kuliah.

“Lulusan SMK tidak boleh berhenti sampai SMK, seharusnya dilanjutkan ke jurusan diploma dan juga tidak mengambil jurusan umum. Ini akan memantabkan skil yang dimiliki,” ucap Nasih.

Nasih menambahkan, selain menjadi mendamping dalam menjembatani lulusan SMK, SMA, dan Aliyah, PTN se-Jawa Timur akan bersinergi dalam menaikkan standarisasi serta kualitas SDM untuk memiliki skil berstandar internasional. (PIH UNAIR)