Praktisi senior pengembang inovasi Swedia, Sven-Thore Holm, berdiskusi  dengan akademisi dan pimpinan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan (FMIPA) Universitas Indonesia (UI), di kampus UI, Depok (Selasa, 24/03). Diskusi tersebut mengupas pengalaman Holm yang berjasa mendirikan Ideon, sebuah STP legendaris di Lund, Provinsi Skåne, Swedia.

Prestasi inovasi Ideon tidak main-main. Sejak berdiri pada 1983, STP ini sudah menampung 900 perusahaan dan 79% di antaranya memiliki kolaborasi erat dengan Universitas Lund. Semua berawal saat Skåne mengalami masalah penurunan daya saing industri sehingga mengancam lapangan kerja di sana. Untuk itu, pemerintah daerah dan perguruan tinggi setempat berinisiatif mendirikan STP untuk menciptakan kesempatan ekonomi baru dari keahlian iptek Universitas Lund.

Di taraf permulaannya, Ideon menarik perusahaan besar seperti Ericsson yang memindahkan seluruh fasilitas risetnya di sana demi memiliki relasi lebih erat dengan Universitas Lund. Kemudian mereka membangun fasilitas riset dan bisnis di sebuah bekas lahan pertanian: itulah bentuk investasi awal Ideon.
“Pemerintah Swedia mengetahui bahwa setiap investasi iptek akan menghasilkan keuntungan sepuluh kali lipat,” ujar Holm. Kesadaran itulah yang menyebabkan industri swasta dan pemerintah Swedia menjadi salah satu negara dengan anggaran litbang dan kemampuan inovasi terbesar di dunia.

Lebih Dekat
Saat ini, Universitas Lund ingin mendekatkan diri dalam bidang inovasi dengan Indonesia. Perguruan tinggi ini siap antara lain dengan menyelenggarakan program pelatihan inovasi selama satu bulan di Lund pada bilangan Oktober 2015.

Sesungguhnya, Universitas Lund sudah berpengalaman dalam hal tersebut. Akhir tahun lalu, Asdep Jaringan Iptek Internasional dan program Riset-Pro Kementerian Ristekdikti sudah mengakomodir 24 delegasi Indonesia belajar sistem inovasi di perguruan tinggi tersebut selama dua minggu.
Holm menjanjikan bahwa pelatihan memberikan gambaran langsung bagaimana Universitas Lund menciptakan sistem akademik yang mudah diserap kalangan industri dan public. Tak hanya pada  sisi sistem operasi, namun hingga penataan desain tata ruang infrastruktur secara optimal.

Selain itu, delegasi Indonesia kelak akan diajak melihat lebih dalam cara Swedia menjalankan strategi kompetisi bisnis inovasi. Swedia berpengalaman menjalankan “Venture Cup”, kompetisi regional dan nasional yang sudah menjaring belasan ribu ide unik bisnis inovasi.

Dalam diskusi yang turut dihadiri oleh Abdul Haris  Dekan FMIPA UI tersebut munculah ide untuk mengkombinasikan kompetisi bisnis inovasi di Swedia dengan di Indonesia. Dengan langkah itu, UKM berbasis iptek dari Indonesia dan Swedia dapat melihat kesempatan ekspansi bisnis di kedua belah kawasan.

Lebih Luas
Sebelumnya melakukan kegiatan di FMIPA UI, delegasi Universitas Lund sudah bertemu dengan Asdep Jaringan Iptek Internasional, Ristekdikti dan para pemangku kepentingan (Jumat, 20/03).

Nada Marsudi, Asdep Jaringan Iptek Internasional mengungkapkan bahwa potensi peluang kolaborasi dengan Universitas Lund sangat mungkin diciptakan di masa depan. Pembicaraan menemukan bahwa penyelenggaraan pelatihan patut ditargetkan untuk melibatkan pihak-pihak kunci yang berpotensi mendorong pertumbuhan budaya industri inovatif di Indonesia.

Besarnya peluang tersebut terkait dengan rencana pemerintahan Presiden Joko Widodo membangun 100 STP di Indonesia. Pelatihan dapat menjadi saluran bagi berbagai pihak lebih luas untuk melihat peran mereka atas kesinambungan pertumbuhan STP.

Selain bertemu mitra kolaborasi di Kementerian Ristekdikti, tim Universitas Lund juga bertemu dengan Menteri Bappenas, Andrinof Chaniago (Jumat, 20/03). Holm mengakui bahwa pertemuan dengan Menteri Andrinof tersebut membicarakan mengenai visi mentransformasi ekonomi Indonesia. (ad5-dep3/humas)