di Hotel Bidakara Jakarta,  27 Maret 2015

Yang kami hormati:

o Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/ Kepala Bappenas, Dr, Andrinof Chaniago

o Menteri Kelautan dan Perikanan, Ibu Susi Pudjiastuti atau yang mewakili

o Kepala Badan Informasi Geospasial, Dr. Priyadi Kardono, beserta seluruh jajarannya

o Para Stakeholder Pemetaan Nasionalo Para hadirin dan undangan yang saya muliakan.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barokatuh,

Selamat siang  dan salam sejahtera bagi kita semua,
Alhamdulillahirabbil alamin, atas hidayah dan inayah Allah SWT, kita semua diijinkan dapat berkumpul dalam acara Rakornas BIG di Hotel Bidakara, Jakarta. Semoga Rakornas yang bertema “optimalisasi Penyelenggaraan Informasi geospasial Mendukung Agenda Prioritas Pembangunan Nasional dalam RPJMN 2015-2019” ini dapat menjadi bagian dari amal ibadah kita yang diterima Allah SWT.

Bapak, Ibu  dan  hadirin yang saya hormati,
Ketersediaan dan kualitas Informasi, baik spasial maupun literal menjadi kata kunci dalam pengambilan kebijakan. Pada zaman seperti sekarang ini, siapa pun yang mengendalikan dan menguasai informasi, dapat menjadi lebih powerful dibandingkan dengan yang sekedar menguasai informasi. Sebagai contoh adalah google, yang merupakan pengendali dan sekaligus menguasai informasi geospasial yang sangat atraktif dan up to date, yang sudah diakses dan dimanfaatkan oleh banyak pengguna di seluruh belahan bumi. Oleh karena itu, Badan Informasi Geospasial (BIG) yang diberi tanggungjawab untuk mengumpulkan, mengolah, menyajikan, dan mengelola informasi geospasial di Indonesia mempunyai peran yang sangat penting dan strategis. Namun peran yang sangat strategis tersebut tidak dapat terjadi kalau tidak diupayakan dan dilakukan dengan kerja keras dan kerja cerdas.

Kerja cerdas tersebut mampu menghasilkan inovasi, yang pada gilirannya akan mampu membuat dan menyajikan peta cetak maupun peta dijital, sebagai salah satu bentuk informasi geospasial menjadi lebih menarik dan mudah digunakan. Saya sangat yakin, dengan semakin berkembangnya inovasi iptek dalam bidang pemetaan dan geospasial, maka BIG akan mampu memenuhi kebutuhan informasi dimaksud secara akurat dan regular.

Yang tidak boleh dilupakan adalah bahwa pemenuhan kebutuhan informasi geospasial tersebut harus diorientasikan untuk mendukung perencanaan dan pembangunan nasional dalam mewujudkan Nawacita atau 9 program prioritas nasional. Dengan demikian BIG akan menjadi bagian dari institusi Negara yang secara bersama-sama mendorong dan berkontribusi dalam peningkatan daya saing bangsa.

Bapak, Ibu, dan  hadirin yang saya hormati,
Perlu diketahui bahwa untuk mencapai daya saing bangsa yang lebih tinggi diperlukan kesiapan kapasitas iptek dan inovasi serta ketersediaan sumber daya pendidikan tinggi yang trampil. Menurut laporan World Economic Forum, kapasitas iptek dan inovasi serta kesiapan SDM pendidikan tinggi kita masih rendah dari 144 negara yang disurvey. Jumlah peneliti di lndonesia masih kurang dari 600 peneliti per 1 juta penduduk. Dari jumlah tersebut sekitar 60%-nya berada di Perguruan Tinggi; dan sisanya 22% berada di Lemlitbang pemerintah, dan sebanyak 18% di Industri. Selain itu, anggaran Litbang per GDP lndonesia masih sangat rendah sebesar 0.09% masih jauh dari rata-rata negara OECD sebesar 2,4%. Dimana 80% dari anggaran tersebut berasal dari anggaran pemerintah dan kurang dari 20%nya masih berasal dari industri. Begitu pula dengan pelaku Litbang, dimana sebagian besar pelaku Litbang di Indonesia adalah peneliti dan dosen pemerintah (Lemlitbang 42% dan PT 38%), sedangkan di negara OECD hampir 75% pelaku Litbang adalah industri (Lemlitbang 10% dan PT 18%).

Berbagai upaya peningkatan kualitas SDM, termasuk SDM dalam bidang pemetaan dan geospasial telah dilakukan, namun masih selalu terhambat oleh substansi yang tekait dengan tata kelola, relevansi, kualitas sumber daya manusia, dan sistem pendukungnya. Untuk mengejar ketertinggalan tersebut, pembangunan iptek dilaksanakan dengan menggunakan wahana Sistem lnovasi Nasional (SiNas) melalui penguatan kelembagaan, sumberdaya dan jaringan Iptek, serta secara substansial melalui penelitian, pengembangan dan penerapan iptek strategis. Inti dari sistem inovasi adalah interaksi antar aktor inovasi (Akademisi, Pemerintah, dan Pebisnis) untuk menghasilkan produk inovasi. lnteraksi ini digambarkan dengan istilah “triple helix”, dimana Akademisi menjadi aktor dalam pengembangan iptek; Pemerintah sebagai regulator dan fasilitator; sedangkan lndustri berperan sebagai ujung tombak inovasi dan pembangunan ekonomi nasional.

Bapak, Ibu, dan  hadirin yang saya hormati,
Dengan telah diundangkannya UU 4/2011 tentang Informasi Geospasial, maka BIG perlu segera menyelesaikan produk-produk turunannya, baik Peraturan Pemerintah maupun produk turunan lainnya. Setelah itu BIG perlu segera menyusun Kebijakan, Strategi, dan Program untuk melaksanakan tugas dan fungsi dalam menjalankan amanah pencapaian target-target RPJMN 2014-2019. Beberapa peraturan perundangan terkait yang harus diperhatikan oleh BIG dalam menyusun jakstragram ke depan, antara lain adalah UU 18/2002 tentang SINAS, UU 26/2007 tentang Penataan Ruang, UU 25/2004 tentang SIstem Perencanaan Pembangunan Nasional, UU 6/2014 tentang Desa, dan beberapa undang-undang dan peraturan terkait. Implementasi dari beberapa undang-undang tersebut sangat memerlukan dukungan informasi geospasial. 

Misalnya dalam mengawal implementasi UU Desa, BIG harus mampu memberikan informasi geospasial skala besar atau skala perdesaan sampai sekitar skala 1:1000, untuk seluruh wilayah Indonesia, agar mereka dapat melaksanakan berbagai perintah dalam undang-undang tersebut dengan efektif, efesien dan akurat. Sementara itu dalam mendukung penyusunan dan implementasi Rencana Tata Ruang Wilayah, BIG harus mampu menyediakan informasi geospasial dengan kedalaman skala 1:250.000 sampai skala 1:10.000, untuk seluruh wilayah Indonesia juga. Tugas dan kewajiban tersebut tidaklah ringan. Untuk itu dalam Rakornas ini BIG harus mampu berkoordinasi, bersinergi, dan membagi peran dengan seluruh stakeholder informasi geospasial dalam membangun:

1). sistem penyediaan, pengolahan, penyajian, dan pengelolaan data dan informasi geospasial yang handal,

2). sistem pembaruan (up-dating) data dan informasi geospasial dengan memanfaatkan teknologi dan inovasi yang berkembang,

3). sistem pemanfaatan, akses, dan distribusi data dan informasi geospasial yang lebih aman dan transparan, 

4). sistem penyediaan sumberdaya, baik SDM, peralatan, maupun pendanaan, dan

5). sistem penelitian dan pengembangan untuk mewujudkan inovasi dalam mendukung informasi geospasial yang lebih akurat, mudah diakses, dan user friendly.

Apabila beberapa hal tersebut dapat diwujudkan secara sinerjik, maka tugas yang berat diatas dapat dipikul bersama dengan seluruh stakeholder informasi geospasial. 

Berbagai upaya diatas harus mampu didorong menjadi gerakan Hilirisasi, yaitu upaya untuk memastikan agar alur penyiapan pendataan, penataan kelembagaan, perkuatan sumberdaya manusia yang terampil, dan berbagai riset yang dilakukan bermuara pada satu inovasi yang dapat diserap dan dimanfaatkan oleh Industri, dan juga masyarakat, sehingga mampu memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi  nasional yang lebih signifikan. Dengan demikian, ke depan BIG selain semakin perform dalam penyediaan data dan informasi geospasial untuk keperluan perencanaan dan pembangunan nasional, juga harus mampu mendorong bangkit dan semakin semaraknya industri bidang pemetaan dan informasi geospasial di seluruh wilayah negeri.

Bapak, Ibu, dan hadirin yang saya hormati,
Sebagai penutup dapat saya garis-bawahi, bahwa BIG merupakan salah satu aktor penting tidak hanya dalam sistem perencanaan nasional, tetapi hamper ke seluruh nadi pembangunan nasional. Kenapa demikian? Karena setiap perencanaan, bahkan pelaksanaan pembangunan nasional memerlukan informasi geospasial.  Hanya dengan usaha keras yang cerdas, dan sinergitas kita bersama, baik BIG, Perguruan Tinggi, Pemerintah, Pengusaha, dan juga Komunitas, apa yang diramalkan oleh Bank Dunia, bahwa Indonesia akan menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia yang sangat diperhitungkan, dengan pencapaian pertumbu-han ekonomi yang relatif tinggi, dapat benar-benar  terwujud  dalam waktu tidak terlalu lama. 

Untuk itu marilah kita bekerja keras dan cerdas untuk bersama-sama mewujudkannya. Akirnya, saya mengucapkan selamat Rakornas, semoga Rakornas ini mampu menghasilkan program-program yang dapat ditindaklanjuti dan berkontribusi secara signifikan dalam membangun dan mensejahterakan bangsa.  Sekali lagi jangan sampai kita bekerja dari dan hanya untuk diri kita sendiri, sehingga tidak pernah bisa memperbaiki diri sendiri, karena yang demikian itu termasuk golongan orang-orang yang merugi.

Semoga Allah selalu meridloi seluruh upaya kita.   Amin.Wallohul muwafiq ila aqomittoriq. Wassalamu’alaikum ww.

Jakarta, 26 Maret 2015Menteri Ristek dan Dikti,

Prof. Dr. Muhammad Nasir