Solo, 11 Maret 2015

Yang kami hormati,
Para Menteri Kabinet Kerja;

Gubernur Jawa Tengah, Bapak H. Ganjar Pranowo, S.H.;

Rektor Universitas Sebelas Maret, Surakarta;

Bapak Prof. Dr. (HC). H. Chairul Tanjung; Presiden CT Corp dan Mantan Menko Perekonomian RI;

Ketua Dewan Penyantun: Bapak Dr. Ir. H. Akbar Tanjung, besera seluruh Anggota Dewan Penyantun Universitas Sebelas Maret;

Ketua Dewan Pengawas Universitas Sebelas Maret;

Prof. Dr. Agus Subekti, M.Sc beserta seluruh anggota Dewan Pengawas;

Para Rektor dan Pimpinan Perguruan Tinggi di Provinsi Jawa Tengah, DIY dan sekitarnya;

Bapak/Ibu Walikota dan Bupati beserta segenap Pejabat Sipil dan Militer di eks. Karesidenan Surakarta;

Para Wakil Rektor Universitas Sebelas Maret, Surakarta;

Para Guru Besar dan Dosen Universitas Sebelas Maret, Surakarta;

Para undangan dan hadirin yang saya muliakan.

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,Salam Sejahtera bagi kita Semua.

Marilah kita bersyukur kehadirat Allah SWT, karena atas kehendak-Nya kita bersama bisa bertemu di Universitas Sebelas Maret, Solo. Seperti telah disebutkan oleh Bapak Rektor Universitas Sebelas Maret tadi, hari ini UNS berusia 39 tahun. Suatu usia yang masih sangat muda untuk sebuah perguruan tinggi di Indonesia.

Universitas Sebelas Maret berdiri sejak 11 Maret 1976 yang awalnya merupakan gabungan dari 5 perguruan tinggi yang ada di Surakarta. Pembangunan kampus yang tergolong cepat. Selain fisik, pembangunan juga diimbangi dengan perkembangan pesat pada bidang akademik dan jumlah staf seperti yang kita dengarkan dari laporan Bapak Rektor UNS tadi. Selain kepesatan kemajuan fisik dan akademik, UNS juga membuktikan dirinya sebagai kampus yang mempersiapkan para lulusannya dengan pengetahuan dan hasil riset yang siap dimanfaatkan untuk menggerakkan ekonomi masyarakat.

Terkait dengan hal itu, pada kesempatan yang baik ini, saya ingin berbicara tentang tema penting ke depan yakni “Hilirisasi Hasil Riset Perguruan Tinggi”. 

Hadirin sekalian yang saya hormati,

Pembangunan ekonomi selama ini telah mengantarkan Indonesia menjadi salah satu Negara dengan ekonomi terbesar di Asia Tenggara dan anggota G-20. Pada tahun 2012, Indonesia masuk dalam peringkat 16 negara besar di dunia. Hal ini menunjukkan pembangunan kita berada pada arah yang benar. Namun demikian, kita masih membangga-banggakan keunggulan komparatif yang kita miliki, belum mengunggulkan inovasi, sebagai factor utama pengungkit daya saing bangsa. Misalnya kita bangga sebagai penghasil kelapa sawit terbesar (No 1)  dunia, timah dan karet (No. 2), beras, kakao, dan nikel (No. 3) dunia, dan sebagainya. Barang-barang tersebut kalau kita jual langsung tanpa diberi nilai tambah, harganya sangat murah, dan lama-lama akan habis. Belum lagi kita juga sering membanggakan jumlah penduduk yang termasuk 4 besar dunia, panjang pantai, dan luas lautan yang luar biasa. Ke depan, kita harus mampu dan berusaha memberikan nilai tambah atas produk-produk kita tersebut, melalui berbagai inovasi yang dilahirkan oleh anak-anak bangsa. Kita harus segera melanjutkan langkah positif yang telah dirintis oleh para senior kita, dengan misalnya memberlakukan UU No 4 tahun 2009 tentang Mineral dan Batubara (Minerba), dimana kita telah melarang ekspor barang tambang dalam bentuk mentah, yaitu bahan tambang yang belum mempunyai nilai tambah. Semangat dan langkah berani seperti itu yang harus dicontoh dan ditiru serta ditindaklanjuti oleh kita semua, hadirin yang di ruangan ini, dan seluruh bangsa Indonesia.

Memang indeks daya saing kita meningkat dari nomor 50 (tahun 2012) menjadi 38 (tahun 2013) kemudian nomor 34 (tahun 2014), dari 144 negara. Indeks inovasi meningkat dari 39 ke 33 lalu 31 (tahun 2014). Dan kesiapan teknologi (technological readiness) pun meningkat dari 85 ke 75 dan turun ke 77 (tahun 2014). Namun harus disadari bahwa sebagian besar hasil-hasil riset kita belum dapat dimanfaatkan oleh para pengguna teknologi, termasuk masyarakat. Kondisi tersebutlah yang mengakibatkan kondisi Indonesia masih berada pada posisi efficiency driven. Apabila kita ingin menjadi lebih sejahtera, ke depan kita harus mampu membawa negeri ini berada pada tingkatan innovation driven, di mana inovasi menjadi penentu utama dalam pertumbuhan ekonomi. 

Hadirin yang saya hormati;

Saya ingin menggarisbawahi indeks daya saing Indonesia pada pilar Inovasi, yang secara umum mengalami peningkatan. Kapasitas inovasi berada pada peringkat 22, kualitas institusi litbang pada posisi 41, kontribusi sektor usaha/swasta pada pendanaan R&D di posisi 24; kolaborasi universitas/lembaga litbang dengan industri di posisi 30. Sementara itu, jumlah paten per satu juta penduduk masih rendah (peringkat 106), dan kita masih terus berusaha untuk meningkatkannya.

Bahkan sejak tahun 2003 kita telah dimasukkan ke dalam negara dengan pendapatan menengah (middle income country). Tetapi Indonesia harus waspada terhadap “the Middle Income Trap” (jebakan pendapatan menengah), di mana kesejahteraan kita tidak naik signifikan dari keadaan sekarang karena kita gagal membangun infrastruktur, gagal membangun kemandirian pangan dan gagal memberikan perlindungan sosial. Negara kecil seperti Singapura dan Taiwan cenderung lebih mudah keluar dari middle income trap. Bagi negara besar, termasuk Indonesia, tantangannya jauh lebih berat. Kita harus mempunyai strategi pembangunan yang dapat menciptakan pertumbuhan yang jauh lebih cepat dari saat ini.

Ada satu hal lagi yang segera datang di hadapan kita. Tahun 2015, Kawasan ASEAN menjadi pasar terbuka yang berbasis produksi, dimana aliran barang, jasa, dan investasi bergerak bebas, sesuai dengan kesepakatan ASEAN. Tingkat keunggulan komparatif dan kompetitif yang berbeda antar negara anggota, akan berpengaruh dalam menentukan manfaat di antara negara-negara anggotanya. 

Kita harus ingat bahwa nilai ekonomi dari berbagai komoditi sumber daya alam cenderung mengalami penurunan relatif terhadap nilai ekonomi produk-produk teknologi yang kita butuhkan untuk mendukung pelaksanaan pembangunan. Apabila keadaan ini terus berlangsung, maka dalam jangka panjang kita tidak mampu mengimbangi pembiayaan impor dengan pendapatan ekspor. Dengan demikian, kita harus mengakumulasikan kapasitas Iptek agar bangsa ini dimasa mendatang dapat menghasilkan produk-produk teknologi yang mampu bersaing di pasar global.

Indonesia perlu menggeser sumber ekspor dari komoditas dan produksi biaya rendah menuju produk bernilai tambah tinggi. Inovasi dapat memainkan peran besar dalam mempercepat proses transformasi ini. Peningkatan sumber daya sebagai input pengembangan iptek perlu diselaraskan dengan reformasi kelembagaan. Bila tidak, hasil yang diharapkan sukar tercapai. Inovasi yang dipahami sebagai sistem, memungkinkan pengembangan teknologi baru atau penerapan teknologi yang sudah ada dan merupakan kunci untuk meningkatkan produktivitas ekonomi Indonesia. Input yang tepat harus ada, seperti sumber daya moneter dan, khususnya, modal manusia. Tetapi itu saja tidak cukup. Sistem ini juga perlu memberikan insentif yang tepat bagi para peneliti untuk bekerja pada sektor produktif, untuk menerapkan pengetahuan yang dimiliki dan menciptakan pengetahuan baru apabila belum ada. Sistem perlu mengkoordinasikan sejumlah mitra termasuk lembaga penelitian pemerintah, lembaga pendidikan tinggi, pusat penelitian dan pengembangan swasta dan sektor produktif. Sistem juga perlu bertindak sebagai katalis bagi kerjasama internasional untuk dapat mengakses kolam pengetahuan yang ada yang relevan dengan kebutuhan Indonesia.

Hadirin sekalian yang saya hormati,

Penduduk yang besar dengan daya beli yang terus meningkat adalah pasar yang potensial, sementara itu jumlah penduduk yang besar dengan kualitas Sumber Daya Manusia yang terus membaik adalah potensi daya saing yang luar biasa. Dalam rangka memperkuat SDM dan Iptek bangsa kita, kapasitas tingkat pendidikan SDM menjadi salah satu hal yang harus diperhatikan. Saat ini, tingkat pendidikan SDM kita masih memprihatinkan. Pendidikan menengah-tinggi  hanya mencapai kurang dari 30% (menengah 22,4%, dan tinggi 7,2%). Hal ini tentu harus menjadi perhatian dan prioritas bagi kita, terutama yang berada di institusi pendidikan tinggi ini untuk dapat membenahi dan meningkatkan profil SDM yang kita miliki.

Percepatan peningkatan kualitas SDM selain penguasaan teknologi, menjadi syarat mutlak untuk peningkatan daya saing dan percepatan proses industrialisasi. Penguasaan teknologi dan peningkatan kualitas SDM hendaknya difokuskan pada jenis industri yang akan dikembangkan. Sebagaimana kebijakan pemerintah untuk melarang ekspor bahan mentah tambang mulai tahun 2015, dan kebijakan pemenuhan kebutuhan alutsista dari produksi dalam negeri dapat dijadikan model untuk penguasaan teknologi dan penyiapan SDM. Kita kini berhadapan dengan dunia yang berubah. Negara-negara lain berusaha menaikkan jumlah sarjana teknik untuk percepatan pertumbuhan yang bertumpu pada kekuatan industrinya. Pada tahun 2010, jumlah Sarjana Teknik kita baru sebanyak 603.000 atau setara dengan 2.671 Sarjana Teknik per sejuta penduduk. Angka ini sangat rendah dibanding kecenderungan penyiapan sarjana teknik oleh negara-negara lain. Negara-negara BRIC (Brazil, Rusia, India dan China) dikenal memiliki pertumbuhan yang pesat dalam 10 tahun terakhir, memiliki jumlah sarjana teknik yang tinggi. Malaysia yang memiliki 3.333 Sarjana Teknik per sejuta penduduk, tengah berikhtiar untuk mencapai 10.000 Sarjana Teknik per sejuta penduduknya.

Persatuan Insinyur Indonesia (PII) mengusulkan agar paling tidak Indonesia dapat menghasilkan sekitar 600 Sarjana Teknik baru per sejuta penduduk dalam waktu 15 tahun. Ini merupakan tantangan bagi pengembangan SDM kita. Dari penjelasan tersebut, sangat jelas bahwa peran pendidikan yang bermutu dan relevan dengan kebutuhan, sangat penting untuk menghasilkan SDM yang unggul dan produktif.

Hadirin sekalian yang saya hormati,

Realitas yang ada saat ini menunjukkan bahwa prosentase  pengangguran terdidik kita relatif masih tinggi. Pada tingkat sarjana sebesar 14,2 persen,smeentara pengangguran pada tingkat diploma 15,7 persen. Hal ini merupakan tantangan bagi institusi pendidikan untuk menghasilkan SDM yang unggul dan memiliki kemandirian. 
Upaya membangun jiwa wirausaha atau entrepreneurship di kalangan pemuda tidak mudah, karena pembentukan karakter tersebut merupakan output dari pendidikan dan budaya yang telah diserap dari lingkungan baik itu dari pendidikan formal maupun dari pendidikan keluarga dan lingkungannya. Oleh karena itu, dibutuhkan kesadaran dari semua pihak baik itu dari lembaga pendidikan formal, maupun dari keluarga untuk menciptakan dan memberi lingkungan yang kondusif bagi tumbuhnya dan terciptanya karakter entrepreneurship, atau bahkan technopreneurship.

Technopreneurship menggunakan teknologi sebagai unsur utama pengembangan produk suksesnya. Inovasi dan teknologi sangat mendominasi untuk menghasilkan produk unggulan dalam menjalakan usaha/bisnisnya. Technopreneurship tidak sekedar ”menjual” barang komoditas yang persaingan pasarnya sangat ketat. Mereka menjual produk inovatif yang mampu menjadi substitusi maupun komplemen dalam kemajuan peradaban manusia. Hanya dengan bertambahnya jumlah technopreneur inilah, maka bangsa Indonesia akan mampu menjadi bangsa yang ”berdaya saing” pada tataran persaingan global. Di dunia ini banyak technopreneur yang berhasil melakukan komersialisasi teknologi sehingga menjadi produk yang diterima secara luas di pasar.  Contoh pengalaman empiris technopreneur sukses antara lain adalah Henry Ford yang menciptakan mobil Ford dan Soichiro Honda yang menciptakan  mobil dan sepeda motor merk Honda.   Mereka secara individu melakukan penelitian karena hobi dan keinginannya sendiri.  Tidak semua hasil penelitiannya langsung sukses secara komersial.  Bahkan menurut Soichiro Honda, 99% perjalanan kariernya adalah kegagalan, 1% membawanya menjadi sukses.
Modal dasar Technopreneur adalah keahlian, dan kemampuan memilih produk apa yang akan di jual. Jaringan relasi dan sumber sumber informasi, informasi sumber pendanaan seperti kompetisi-kompetisi, serta moral pelaku usaha, amanah, produk yang dijual dapat dipertanggung jawabkan bukan produk yang berbahaya atau penipuan. Dan attitude atau perilaku yang kerja keras, rajin, sabar dan sebagainya.

Hadirin yang saya hormati;
Bapak Presiden Jokowi, selain sangat konsern dengan pembangunan SDM untuk meningkatkan kinerja penelitiannya, melalui 9 programutama, yang dikenal dengan Nawacita-nya mendorong perwujudan Science dan Techno Park (STP). STP ini merupakan wahana bertemunya para Akademisi, utamanya peneliti dengan para Pengusaha, dan Pemerintah dalam menjembatani perwujudan inovasinya di dunia nyata. Berbagai hasil penelitian atau inovasi yang telah dinyatakan siap untuk dikomersialisasi, mulai didorong perwujudannya di area STP ini. Untuk itu, ke depan, seperti harapan bapak Presiden di setiap Provinsi atau Kabupaten Kota terdapat Science Park atau Teckno Park yang menjadi wahana bertemunya ketiga unsur Akademisi, Pengusaha, dan Pemerintah tersebut untuk mendekatkan produknya dalam bentuk industri, yang kemudian dapat dimanfaatkan oleh masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraannya.
Dalam konteks tersebut, saya menghimbau agar UNS, sebagai Universitas terkemuka di wilayah ini mampu memperkuat atau membina sebuah STP yang ke depan dapat dijadikan trade mark bagi UNS, dan masyarakat sekitar Solo dan Jawa Tengah ini. Sehingga ke depan akan lahir berbagai produk inovasi yang berorientasi pasar dari UNS, dan dikomersialisasi melalui STP yang dibina dan dilahirkan oleh UNS.

Di Iran, Negara yang sedang diblokade oleh Amerika, muncul beberapa STP yang cukup berhasil dengan trade mark-nya masing-masing. Misalnya Pardish Techno Park, yang dibangun mulai tahun 2004 yang lalu, yang dibantu tanah dan infrastrukturnya oleh Pemerintah, dan beberapa Industri yang komit sejahk awal, kini telah memproduksi berbagai jenis obat dan perangkat yang telah mampu dieksport keluar. Sebuah pengalaman yang menarik, yang dapat ditiru olehkita semuanya. 

Saudara-saudara sekalian yang saya hormati;

Demikian beberapa hal penting yang dapat saya sampaikan. Selaku Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, saya berharap agar Universitas Sebelas Maret, Surakarta dapat segera memposisikan diri sebagai “Center of Excellence” untuk mengambil langkah-langkah strategis dalam meningkatkan kemampuan SDM Iptek yang memiliki jiwa entrepreneurship atau technopreneurship, dan pengembangan Iptek melalui pengembangan pusat-pusat riset unggulan yang berbasis pada kemampuan sumber daya lokal.

Dengan mengucap bismillahirrohmanirrohim ……………

dengan resmi saya buka.

Semoga Allah selalu memberikan barokah dan hidayahNya kepada kita semua. Terima kasih atas perhatiannya.
Wallohul muwafiq ila aqomittoriq.Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Menteri Riset ,Teknologi  dan Pendidikan Tinggi

Mohamad Nasir