Ujung Pandang, 25 Januari 2015 

Yang terhormat, 

Bapak Wakil Presiden Republik Indonesia

Gubernur Sulawesi Selatan- Rektor Universitas Hasanuddin

Walikota Makassar

Hadirin sekalian

Arah pengembangan kebijakan pendidikan tinggi Indonesia beberapa tahun mendatang dilatarbelakangi oleh hadirnya globalisasi (MEA 2016), dengan implikasi berupa kebutuhan peningkatan kemampuan berkompetisi bangsa Indonesia dalam masyarakat dunia yang semakin berbasis pengetahuan (knowledge based society). Pendidikan tinggi harus mampu menghasilkan dua hal penting untuk menghadapi itu: 

1) insan berkarakter dan kreatif yang berbasis pada penguasaan ilmu pengetahuan, dan 

2) inovasi teknologi melalui konvergensi berbagai cabang keilmuan. Inovasi dalam arti teknologi yang telah diwujudkan dalam bentuk kegiatan industri yang menciptakan lapangan kerja sehingga berdampak langsung pada peningkatan kesejahteraan rakyat. Kedua hal ini mustahil diwujudkan tanpa pembangunan budaya mutu di perguruan tinggi. Mutu sendiri secara umum didefinisikan sebagai pemenuhan tuntutan standar; sesuatu disebut bermutu apabila memenuhi standar. Di era yang semakin kompetitif ini, keberlanjutan akan sangat ditentukan oleh mutu. Hal ini juga berlaku bagi perguruan tinggi. Cepat atau lambat perguruan tinggi yang tidak bermutu akan mati karena ditinggalkan oleh masyarakat  sebagai pengguna jasa pendidikannya. Daya beli masyarakat akan terus meningkat dengan semakin menguatnya ekonomi bangsa dan masyarakat juga akan semakin cerdas dalam menilai suatu perguruan tinggi. Kehadiran perguruan tinggi kelas dunia di Indonesia hanya soal waktu saja; sebagian dari mereka (seperti Nottingham University, Monash University dsb) sudah membuka kampus di Malaysia. Waktu bagi perguruan tinggi Indonesia semakin sempit untuk mempersiapkan diri menghadapi kompetisi memperebutkan pangsa pasar. Berbagai kebijakan pendidikan tinggi Indonesia di antaranya adalah untuk mendorong peningkatan mutu perguruan tinggi. Kehadiran Standar Nasional Pendidikan Tinggi dimaksudkan untuk hal tersebut.  Setiap perguruan tinggi di Indonesia terikat untuk memenuhi standar ini yang sesungguhnya pemenuhannya merupakan mutu minimum yang harus dimiliki oleh setiap perguruan tinggi di Indonesia. Standar ini mempunyai dua fungsi penting, pertama menjadi acuan mutu minimum dan kedua menjadi penangkal masuknya PT asing abal-abal. Oleh karena itu betapapun sulitnya untuk dipenuhi namun standar ini tidak mungkin diturunkan.

Bapak Wakil Presiden dan hadirin yang terhormat,

Berdasarkan data di PDPT per Desember 2014 terdapat total 4341 perguruan tinggi dengan 21050 program studi, yang didominasi oleh prodi-prodi kependidikan dan keguruan sebanyak 4205 prodi. Dominasi prodi kependidikan dan keguruan itu tidak dapat dilepaskan dari adanya keharusan bagi guru untuk sekurang-kurangnya mempunyai latar belakang pendidikan sarjana mulai tahun 2016. Situasi ini telah dimanfaatkan secara tidak bertanggungjawab oleh sejumlah perguruan tinggi dengan memberikan pendidikan tinggi yang tidak bermutu, di antaranya dalam bentuk rasio mahasiswa terhadap dosen hingga di atas 400. Seluruh prodi yang mempunyai rasio seperti itu satu per satu telah kami non-aktif-kan PDPT-nya. Kami merencanakan untuk mengumumkan prodi-prodi seperti itu kepada publik dalam waktu dekat, sebelum masa pendaftaran masuk ke perguruan tinggi. Bahkan pada tahun 2014 ybl kami sudah mencabut ijin operasional 71 prodi, dan sedang diproses saat ini untuk penutupan atau pencabutan ijin operasional 21 perguruan tinggi. Dalam era persaingan antar bangsa yang amat sengit ini di mana mutu akan menjadi penentu maka hal-hal seperti itu tentu amat memprihatinkan.

Namun kami juga sangat gembira dan merasa terhibur melihat perkembangan Unhas khususnya dalam usaha untuk melakukan terobosan inovasi telah membangun Center of Technology (CoT) dalam rangka penguatan dan pemberdayaan kerjasama antara Universitas, Pemerintah dan Industri (triple helix). Fakultas Teknik dengan jumlah mahasiswanya yang mencapai lebih dari 10 ribu kini dikosentrasikan di kampus Gowa dengan lahan yang sangat memadai untuk pengembangan lebih lanjut. 

Kami mendengar ada ide untuk mengembangkan kampus ini menjadi suatu Institut Teknologi, menjadi Satker tersendiri, terpisah dari Unhas. Menurut kami ini suatu kemunduran karena Unhas telah memperoleh predikat sebagai PTN-BH, dengan otonomi yang amat luas. Jika kampus Gowa ini menjadi satker tersendiri maka justru akan banyak mengalami hambatan karena tidak memiliki otonomi seluas PTN-BH. Sekali lagi saya ucapkan selamat dengan di resmikannya Center of Technology Universitas Hasanuddin, semoga sukses dan berkah.

Menteri Riset dan Teknologi

Mohamad Nasir