ITS kembali berprestasi melalui karya mahasiswanya dalam OSN (Olimpiade Sains Nasional) Pertamina 2014. Lewat presentasi 20 menitnya pada babak final yang dilaksanakan di Wisma Mangkara Universitas Indonesia, tim ITS berhasil membuktikan bahwa mereka layak dianugerahi gelar Juara dua.

Adalah Achmad Rizal Firmany, Hariono dan Yulia Rachmawati, tim OSN Pertamina 2014 ITS kategori Proyek Sains bidang Produk Unggulan (PU). Ketiganya berasal dari jurusan yang sama yakni Kimia.  Dengan karya yang berjudul ZIF-8 (Ziolitic Immidaziolate Framework-8) Sintesis Material Terbaru dengan Metode Solvotermal sebagai Inovasi Penyimpanan Bahan Bakar Hidrogen ini ITS berhasil menyabet Juara 2 pada kategori tersebut.
 
“Material ini berupa serbuk yang dimasukkan dalam kendaraan yang berbahan bakar hidrogen,” jelas Rizal. Material ini dapat mengoptimalkan penyerapan bahan bakar hidrogen yang ada dalam tabung bahan bakar kendaraan. Material yang ditambahkan ke dalam tabung akan memaksimalkan penyerapan hidrogen akan berdampak pada massa tabung yang minimal. Sehingga tekanan pada kendaraan tersebut juga akan berkurang dan kendaraan akan bekerja dengan lebih baik. “Bahan bakar hidrogen tidak akan menghasilkan polusi karena sisa pembakarannya berupa uap air,” terang Rizal.

Rizal dan timnya mengaku bahwa ide tentang ini mereka dapatkan dari seorang senior yang juga didapuk sebagai juara pertama OSN Pertamina kategori Proyek Sains bidang Rancang Bangun (RB). “Sebenarnya ide ini dari PKM-P (Program Kreatifitas Mahasiswa-Penelitian, red) senior saya, saya diberikan kesempatan untuk meneruskan idenya dan Alhamdulillah bisa sejauh ini,” tutur Rizal penuh syukur. Tim OSN Pertamina PU ITS berhak menerima uang tunai 30 juta rupiah atas prestasi Juara dua ini.

“Awalnya kami mengirimkan proposal secara online, lalu untuk bidang PU ini diseleksi hingga sepuluh besar tingkat nasional dan lima diantaranya maju ke babak final di Jakarta,” tutur Rizal. Saat mencapai tahap lima besar, setiap tim didanai sebesar 7.5 juta rupiah untuk melakukan penelitian. Terdapat dua kriteria yang dinilai dalam semifinal dan final, yakni makalah dan presentasi dengan bobot yang sama. Selain itu setiap tim juga diwajibkan membuka stan pameran poster dalam perlombaan tersebut.

Lawan terberat ITS kala itu adalah Universitas Syiah Kuala. Mereka unggul dalam hal produk yang telah direalisasikan. “Kami masih memproduksi material ini di skala laboratorium, belum skala industri sedangkan Unsyiah sudah siap untuk memasarkan produk mereka,” ungkapnya.

Diakui Rizal, dalam setiap perjuangan pasti ada kendala yang dijumpai, salah satunya yakni dalam hal dosen pendamping. Dari empat tim perwakilan ITS hanya ada satu dosen pedamping yang ikut saat perlombaan, itupun bukan dari salah satu dosen Pembina tim. “Bahkan saat penganugerahan, tidak ada satu dosen pendamping pun yang menyaksikan,” sesal mahasiswa yang kini aktif juga dalam BEM ITS ini.

Di akhir pertemuan dengan ITS Online, Rizal menyampaikan harapannya agar karya dan prestasi seorang mahasiswa ITS bisa lebih mendapat apresiasi dari kampus, bukan hanya saat telah dinobatkan sebagai juara namun juga proses untuk menjadi seorang juara. “Selagi ada kesempatan, jangan disia-siakan, terus berkarya dan berani berinovasi,” pungkas Rizal berpesan kepada mahasiswa ITS. (dza/fin)

Sumber : https://www.its.ac.id/berita/14541/en