Kerjasama antara Kemenristekdikti dan LIPI untuk melakukan kajian tentang Cluster Inovasi Daerah telah ditandatangani di Kantor Pusat Pengembangan TTG (Teknologi Tepat Guna) Subang-LIPI, hari Selasa (24/11/2015). Kerjasama tersebut antara lain bertujuan untuk mensinergikan potensi yang dimiliki masing-masing pihak dalam rangka menyusun klaster inovasi diberbagai daerah dengan berbasis pada komoditias unggulan daerah yang selaras dengan RJPMD Daerah. Dalam kegiatan tersebut ada 10 kabupaten yang dikaji dengan tema yang berbeda.  Tema tersebut adalah : Industri aneka logam di Sukabumi (Jawa Barat), Industri brown sugar (Banyumas Jawa Tengah), Porang sebagai bahan baku aneka pangan (Madiun, Jawa Timur), Pengolahan umbi dan pisang sebagai bahan substitusi pangan (Rejang Lebong ,Bengkulu), Pengembangan Industri limbah kelapa (Kepulauan Riau), Olahan pangan kering berbasis jagung (Gorontalo),  kajian pendirian alat pengolahan pangan kering (Luwu Utara, Sulsel), industri kreatif tenun, pangan dan ukiran untuk menunjang pariwisata (Toraja Utara Sulsel), pemanfaatan iptek untuk pasca panen tangkapan ikan (Polewali, Sulbar) dan kajian budidaya dan pengolahan kunyit (Ogan Ilir, Sumsel). Penandatanganan kerjasama tersebut dilakukan oleh Ophirtus Sumule (Direktur Sistim Inovasi, Dirjen penguatan Inovasi, Kemenristekdikti) dan Yoyon Ahmudiarto (Kepala Pusat Pengembangan TTG LIPI).

 

Dalam sambutannya, Ophirtus Sumule menyampaikan bahwa, “Pengembangan Inovasi tidak saja memperhitungkan pilar teknologi tapi juga pilar lain seperti SDM, Kelembagaan dan Regulasi.” Sementara Yoyon Ahmudiharto menyatakan, “TTG Subang memiliki pengalaman panjang dalam memilih dan mengimplementasikan berbagai jenis teknologi yang sesuai dengan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat.”

 

Acara penandatangan kerjasama tersebut dilanjutkan dengan lokakarya yang bertema  Strategi Penguatan Sistem Inovasi Daerah (SIDa) di ruang pertemuan RM Purnama, Jalan Ahmad Yani, Subang, dipandu oleh  Promono Nugroho (Peneliti di Pusbang TTG).  Hadir sebagai narasumber adalah Idwan Suhardi (Purna Karya Deputi/Staf Ahli Kemenristek) yang dalam paparannya menyampaikan bahwa sistem inovasi adalah aliran informasi dan teknologi diantara masyarakat, akademisi/peneliti, pemerintah dan bisnis. Sistim inovasi di daerah (SIDa) memerlukan objek pembangunan yang diunggulkan dengan mempertimbangkan keunggulan komparatif dari daerah.  Prasyarat tersebut, lanjutnya, harus didukung oleh: potensi sumber daya yang dimiliki daerah, sesuai visi pembangunan daerah,  disepakati seluruh stakeholder daerah dan menjadi icon/branding daerah. Dengan demikian, inovasi dari berbagai daerah di Indonesia mampu bersaing dalam perdagangan global alias Globally Connected, Locally Rooted. Sementara itu Rislima Sitompul memaparkan bahwa Penguatan SIDa harus : berdampak pada perekonomian daerah mendukung penyerapan tenaga kerja, terkait dengan pasar, dan ketersediaan  bahan baku yang memadai dan kompetitif. Selain itu,  harus memiliki dimensi global, prospek peran dan memiliki potensi keberlanjutan yang tinggi. Karena itu, penguatan SIDa diharapkan didesain dalam bentuk kluster industri (produk/jasa) yang menjadi unggulan daerah sehingga terbentuk  sentra industri yang didukung oleh semua lembaga/ stakeholder terkait.

 

Dalam pemaparan yang terakhir, Hendarwin Astro (Peneliti Pusbang TTG) memaparkan tentang berbagai kegiatan yang dilakukan di daerah dalam rangka mengumpulkan berbagai informasi yang terkait dengan  pengembangan komoditas tertentu sebagai basis untuk penguatan sistim inovasi di daerah.  Informasi tersebut  tidak saja meliputi existing teknologi, tapi juga terkait dengan kelembagaan, regulasi, SDM dan jaringan yang ada di daerah tersebut. (humas/djpi)