Dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-51 tahun 2015, Kementerian Kesehatan mengadakan Pameran Pembangunan Kesehatan 2015 di JI Expo Kemayoran, 13-15 November 2015. Pameran tersebut resmi dibuka oleh Menteri Kesehatan Nila Moeloek (13/11) dan dihadiri oleh Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi M. Nasir.

Pameran kesehatan ini mengusung tema membangun generasi sehat dan mandiri agar dapat menjadi modal pembangunan negeri ini. Dalam pameran ini, Kemenkes ingin menyampaikan pengetahuan, informasi, dan edukasi terbaru di bidang kesehatan pada masyarakat dan seluruh pemangku kepentingan yang terkait dengan kesehatan. Termasuk juga didalamnya program-program kesehatan, kebijakan, upaya inovatif, dan keberhasilan program yang diadakan oleh pemerintah.

Dalam sambutannya, Menkes mengatakan pembangunan kesehatan merupakan gerak seluruh komponen bangsa. Menkes juga mengatakan keinginannya untuk meningkatkan produk kesehatan dalam negeri dengan memulai memperbaiki produk lokal yang baru mencapai 10% di e-catalogue melalui pencanangan Gerakan Cinta Alat Kesehatan Indonesia, dan diharapkan hal tersebut akan terus berkembang untuk memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan Indonesia.

Pada pembukaan pameran tersebut, Menkes bersama Menristekdikti juga meluncurkan dua program terobosan terbaru Kemenkes yaitu Dokter Layanan Primer (DLP) dan Gerakan Masyarakat Cerdas Menggunakan Obat (Gema Cermat). Program DLP nantinya akan memberi kemudahan para dokter umum yang sudah praktik selama 10 tahun, mereka hanya akan mengikuti pendidikan dokter layanan primer selama 6 bulan. Sesuai dengan UU No. 20 Tahun 2013 tentang Pendidikan Kedokteran, Pendidikan Dokter terdiri dari 3 jenis, yakni Dokter Umum, Dokter Layanan Primer, dan Dokter Spesialis. Dengan adanya program DLP, dokter-dokter umum yang bekerja di fasilitas primer akan mendapat tambahan kompetensi di 4 bidang.

Menteri Nasir mengatakan, saat ini 90% bahan baku obat di Indonesia masih mengimpor dari luar negeri. Hal ini membuat harga obat menjadi mahal dan akhirnya memberatkan pemerintah. Kemenristekdikti akan mendorong peneliti untuk mampu melakukan scale-up dengan cara mengembangkan Bio Diversitas (bahan baku obat) di Indonesia. Scale-up dilakukan dengan bantuan Kemenkes. Kemenkes akan mengirimkan obat-obat apa saja yang dibutuhkan dan Kemenristekdikti akan mendorong peneliti untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Kerjasama antara Kemenkes dan Kemenristekdikti sangat penting sekali. Diharapkan dengan adanya kerjasama ini, peneliti mampu mengembangkan bahan baku obat lokal sehingga obat semakin murah dan tidak lagi memberatkan pemerintah. (hni/bkkpristekdikti)