Masyarakat Indonesia sejak dahulu dikenal sangat menjunjung tinggi nilai agama dalam mengatur kehidupan, apapun etnisnya. Agama mengajarkan kebaikan dan etika, sehingga menjadi penyeimbang dalam perkembangan ilmu pengetahuan dari masa ke masa. Seperti yang diutarakan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) M. Nasir pada seminar pendidikan agama dan keagamaan di Gedung Kementerian Agama, 11 November 2015.

Menurut Menteri Nasir, kemajuan ilmu pengetahuan harus dibarengi dengan ilmu agama. Apabila ilmu pengetahuan berdiri sendiri maka akan menuju pada paham tidak mengenal Tuhan.

“Orang yang terdidik merupakan orang yang memiliki ilmu pengetahuan yang baik. Dan orang yang berpendidikan harus memiliki etika. Etika dan agama memiliki kesamaan nilai,” kata Menteri Nasir.

Menristekdikti menggambarkan pentingnya sinergitas antara ilmu pengetahuan dengan ajaran agama adalah dengan mengambil contoh tentang kasus kloning. Dalam ilmu pengetahuan, kloning merupakan suatu terobosan. Namun dalam ajaran agama, kloning dapat dianggap melanggar etika.

“Misalnya kloning dengan subjek manusia tentu perlu kajian agama. Terlebih lagi dengan kloning yang merekayasa sperma dan sel telur, tidak diperbolehkan apabila bukan dari suami-istri,” ujar Menristekdikti.

Oleh karena itu, Menteri Nasir sangat mendorong dilakukan kerjasama dengan berbagai unsur keagamaan di Indonesia agar ilmu pengetahuan tidak keluar dari ajaran agama. (flh/bkkpristekdikti)